Potensi

Melihat Tradisi Wiwit Kopi Warga Kampung Adat Segunung: Kenalkan Budaya Tradisional dalam Kemasan Modern

×

Melihat Tradisi Wiwit Kopi Warga Kampung Adat Segunung: Kenalkan Budaya Tradisional dalam Kemasan Modern

Sebarkan artikel ini
PANEN KOPI: Ketua Kampung Adat Segunung Supi'i mendampingi Camat Wonosalam Haris Aminuddin saat memetik kopi siap panen di perkebunan warga.

Desakita.co – Warga Kampung Adat Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam menjunjung tinggi tradisi yang diwariskan dari para leluhur. Setiap menjelang masa panen, mereka kompak menggelar ritual wiwit kopi dan sedekah bumi. Kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa syukur atas berkah hasil bumi yang melimpah sekaligus perwujudan dari pelestarian budaya lokal.

Rangkaian acara dimulai dari prosesi doa di tengah perkebunan kopi milik warga oleh pemangku adat. Ritual ini menandai dimulainya masa panen kopi, yang menjadi salah satu komoditas unggulan di wilayah Wonosalam. Sebagian hasil panen kemudian dikumpulkan dan diarak keliling kampung sebagai bagian dari sedekah bumi, termasuk gunungan berisi hasil bumi dan aneka jajanan pasar diarak menuju Balai Ageng Giri Kedaton Kampung Adat Segunung. Setibanya di sana, warga menggelar doa bersama. Usai prosesi, gunungan hasil bumi menjadi rebutan gratis ratusan warga dan pengunjung yang hadir dari berbagai daerah yang berharap keberkahan. Acara dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian tradisional. Tradisi tahunan ini kerap menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung kearifan lokal di dataran tinggi Wonosalam.

Baca Juga:  Nilai Jual Lebih Tinggi, Petani di Wonosalam Jombang Mulai Tertarik Budi Daya Durian Premium

Baca Juga: Segarnya Es Krim Durian Wonosalam, Rasanya Lumer dan Bikin Nagih

Ketua Kampung Adat Segunung Supi’i mengatakan, wiwit kopi dan sedekah bumi merupakan tradisi yang sudah berjalan turun-temurun sejak dulu. ”Wiwitan merupakan bentuk tradisi saat awal musim panen bagi para petani di sini, namun karena mayoritas para warga sekarang lebih banyak menanam kopi jadi lebih identik disebut wiwit kopi,” terangnya.

Supi’i menambahkan jika tradisi wiwit kopi dan sedekah bumi yang dilakukan masyarakat Kampung Adat Segunung dilaksanakan secara swadaya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen yang melimpah setiap tahunnya. ”Harapannya supaya para petani dan seluruh warga kampung adat diberikan kesehatan dan kelancaran serta memohon keberkahan, selain itu dengan diadakannya acara menjadi perwujudan guyubnya warga kami,” pungkasnya.

Baca Juga:  Sulap Lapangan Desa Jadi Pusat UMKM, Desa Tampingmojo Jombang Dukung Perekonomian Masyarakat

POTENSI wisata serta komoditas alam di Kecamatan Wonosalam merupakan salah satu unggulan di Kabupaten Jombang. Perpaduan budaya lokal dengan beragam tempat tujuan berwisata ditambah produk hasil bumi unggulan seperti kopi dan durian serta beragam produk turunan hasil olahannya, menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung. Tak salah jika wilayah Wonosalam menjadi tujuan destinasi wisata utama di Kabupaten Jombang.

Berbagai program digencarkan para pegiat wisata dengan menggadeng berbagai pihak. Salah satunya yang terbaru adalah program Sambang-Sambung hasil kerja sama warga Kampung Adat Segunung dengan Yayasan Akta Bumi. Tujuan kolaborasi dirancang sedemikian rupa dan dikembangkan untuk memikat serta mengikat hati masyarakat dengan keindahan desa yang lestari. ”Program ini kami kembangkan dengan tujuan untuk membantu menjembatani peradaban perkotaan dan pedesaan di Indonesia agar kesenjangan di antara keduanya tidak semakin tinggi,” ujar Ketua Pembina Yayasan Akta Bumi Praja Firdaus.

Baca Juga: Penuhi Permintaan Ekspor ke Jepang, Bukti Kopi Ekselsa Wonosalam Jombang Naik Kelas

Baca Juga:  Potensi Panen Cengkeh di Wonosalam Capai 162 Ton, Begini Upaya Dinas Pertanian

Dalam gelaran perdana program Sambang-Sambung,, para wisatawan mendapat daftar rencana kegiatan yang akan dilakukan selama perjalanan ke destinasi liburan (itinerary). Ketua Kampung Adat Segunung Supi’i mengatakan bahwa penawarannya berupa menginap selama beberapa hari di Kampung Adat Segunung ”Wisatawan dapat merasakan sensasi hidup seperti masyarakat pedesaan, hingga puncaknya turut berpatisipati dalam acara wiwit kopi dan sedekah bumi, harapan kami program ini menjadi embrio program-program lain untuk lebih mengenalkan budaya kami kepada masyarakat luas,” ujarnya.

Berbagai kegiatan lokal akan didapatkan para wisatawan seperti memetik hingga menyangrai kopi secara manual, memerah susu hingga pengenalan produk-produk lokal unggulan lainnya. ”Kami bercita-sita ingin membawa kembali masyarakat Indonesia kepada peradaban yang membesarkan bangsa ini, yakni peradaban desa. Dengan semakin banyaknya tuntutan materi, kita lupa bahwa peran desa dalam menopang hidup kita sangat besar, mulai dari pangan, papan, sandang, semuanya berhulu di peradaban desa,” pungkas Praja. (dwi/naz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *