Potensi

Tersebar Merata di 9 Desa, Ratusan Hektare Tanaman Tembakau di Jombang Mati Akibat Anomali Cuaca

×

Tersebar Merata di 9 Desa, Ratusan Hektare Tanaman Tembakau di Jombang Mati Akibat Anomali Cuaca

Sebarkan artikel ini
Anomali cuaca membuat petani tembakau di wilayah utara Sungai Brantas merugi.

Desakita.co – Anomali cuaca menjadi pukulan telak bagi petani tembakau di utara Brantas.

Dari hasil pendataan yang dilakukan Dinas Pertanian (disperta) Kabupaten Jombang, menemukan 200 hektare lebih tanaman tembakau mati usai diguyur hujan beberapa hari terakhir.

Akibatnya, para petani merugi besar.

Kepala Disperta Jombang M Ronny mengatakan, dari hasil pendataan yang dilakukan timnya, tanaman tembakau mati banyak ditemukan di wilayah Kecamatan Plandaan.

Tak tanggung-tanggung luasannya mencapai 200 hektare lebih. ”Dari pendataan di lapangan sementara kita temukan sekitar 218 hektare,” kata Rony kepada Jawa Pos Radar Jombang, Kamis (4/7).

Baca Juga: Jaga Kelestarian Alam, Pemdes Sumberagung Jombang Sinergi Lakukan Tanam Pohon di Lingkungan Desa

Baca Juga:  Jatah Pupuk Bersubsidi Kurang, Petani di Desa Plosogenuk, Perak Jombang Terpaksa Beli Pupuk Non Subsidi

Ratusan hektare tanaman tembakau yang mati tersebar di sembilan desa. Masing-masing Desa Gebangbunder, Desa Kapungbaru, Desa Purisemanding, Desa Klitih, Desa Plabuhan, Desa Bangsri, desa Karangmojo.

Desa Plandaan, dan Desa Darurejo. ”Terparah di Desa Purisemanding seluas 65 hektare,” ujarnya.

Lebih lanjut Ronny memerinci, di Desa Gebangbunder tanaman tembakau mati seluas 13,5 hektare.

Desa Kampungbaru 28 hektare, Desa Klitih seluas 55 hektare, Desa Plabuhan 2 hektare, Desa Bangsri 7 hektare.

Desa Karangmojo 6,28 hektare, Desa Plandaan 32 hektare, dan Desa Darurejo 10 hektare. ”Semua tanaman petani mati,” katanya.

Disinggung terkait adakah pos anggaran untuk memberikan bantuan semisal bibit kepada petani tembakau yang mengalami gagal panen, Rony menyebut tidak ada.

Baca Juga:  Banjir di Utara Brantas Jombang Meluas, Sejumlah Desa di Kudu dan Ngusikan Terendam

”Untuk tembakau belum ada bantuan. Berbeda dengan padi kalau gagal panen ada bantuan bibit dari dinas,” bebernya.

Sebagai solusinya, disperta memberikan dua opsi kepada petani. Jika ingin tetap melanjutkan menanam tembakau, disperta akan membantu untuk memantau informasi cuaca.

”Jadi kita akan pantau curah hujan beberapa bulan ke depan. Apabila cenderung hujan kami tidak menganjurkan untuk menanam tembakau,” ungkapnya.

Baca Juga: Cetuskan Program Bank Sampah, Cara Pemdes Kepatihan Jombang Perkuat Ekonomi Masyarakat Sekaligus Jaga Lingkungan Bersih dan Asri

Apabila curah hujan masih tinggi petani disarankan menanam palawija. Karena tanaman itu tidak membutuhkan banyak air dan tetap bisa bertahan apabila terendam air.

Baca Juga:  Turnamen Futsal OFS Championship 2025 di Desa Morosunggingan Jombang Sukses, Tim Sumo FC Jadi Juara

Seperti diberitakan sebelumnya, anomali cuaca membuat petani tembakau di wilayah utara Sungai Brantas merugi. Sebab, banyak tanaman tembakau yang mati lantaran beberapa hari diguyur hujan deras.

Seperti yang dialami petani di Desa Bangsri, Kecamatan Plandaan. Tanaman tembakau petani yang baru berusia satu bulan mati.

”Hampir mati semua tanaman tembakau di sini. Soalnya beberapa hari hujan deras,” ujar Sukamad salah satu petani, Selasa (2/7). Intensitas hujan yang mengguyur wilayah utara Brantas beberapa hari belakangan cukup tinggi.

Akibatnya, banyak tanaman tembaku tergenang dan layu. ”Tanaman tembakau tidak bisa kalau terkena air banyak. Sehingga kalau terendam air pasti ya mati,” ungkapnya. (yan/naz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *