JOMBANG – Krisis air bersih melanda Dusun Ngares, Desa Kebondalem, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Penurunan debit air sumur yang cukup signifikan selama musim kemarau membuat sekitar 500 jiwa di dusun tersebut mengalami kekurangan air bersih. Bantuan suplai air dari BPBD Jombang kini menjadi tumpuan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kepala Desa Kebondalem Faisol Zakaria mengatakan, kekurangan air mulai dirasakan warga sekitar dua pekan terakhir. Kondisinya semakin parah dalam sepekan terakhir sehingga pemerintah desa mengajukan bantuan suplai air bersih ke BPBD Jombang.
“Memang tahun ini penurunan debit airnya agak signifikan. Warga butuh tambahan suplai air bersih untuk memasak dan minum,” ujarnya.
Dusun Ngares berada di ujung wilayah Desa Kebondalem, berbatasan dengan Kabupaten Kediri. Kondisi geografisnya berada di kawasan kaki gunung. Menurut Faisol, tidak semua sumur warga benar-benar kering. Namun, sebagian sumber air tidak lagi mencukupi kebutuhan warga.
Kondisi tersebut diperparah dengan belum berfungsinya fasilitas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di dusun setempat. Pompa sibel untuk menaikkan air mengalami kerusakan sejak beberapa bulan lalu sehingga distribusi air belum bisa berjalan optimal.
“Kami sudah menyampaikan ke Perkim dan PUPR. Informasinya masih dalam proses,” ungkap Faisol.
Selain kerusakan Pamsimas, proyek irigasi perpompaan (irpom) di wilayah tersebut juga belum bisa memberikan tambahan pasokan air. Faisol menerangkan, proyek irpom masih dalam tahap uji coba dan belum beroperasi. Kondisi itu membuat upaya pemenuhan kebutuhan air warga belum berjalan maksimal di tengah penurunan debit air selama musim kemarau.
Sementara itu, bantuan air bersih dari BPBD Jombang mulai disalurkan sejak Kamis (15/10). Pengiriman dilakukan satu kali sehari dengan dua tangki air bersih. Selain menyediakan tandon air, BPBD juga mengirimkan jeriken untuk membantu warga menampung air. Suplai tersebut berlanjut hingga Jumat (16/10).
Bagi warga, bantuan tangki air menjadi penopang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sembari menunggu sumber air kembali mencukupi. Namun, Faisol menilai perbaikan Pamsimas menjadi kebutuhan mendesak agar pasokan air bersih bisa kembali berjalan normal.
“Harapan warga tentu hujan segera turun. Tetapi melihat kondisi sekarang, yang paling urgen Pamsimas-nya segera difungsikan,” pungkasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kalaksa BPBD Jombang Wiku Birawa Felipe Dias Quintas melalui Supervisor BPBD Jombang Stevy Maria membenarkan hal itu.
“Jadi memang benar, sampai hari ini ada satu desa di Bareng yang mengajukan dropping air, yakni di Desa Kebondalem, tepatnya di Dusun Ngares,” lanjutnya.
Pepi, sapaan akrabnya menyebut hingga kini baru satu kali bantuan air bersih dikirim ke desa itu, yakni pada Kamis (15/10) lalu.
“Untuk dropping air, kami berikan dua tangki masing-masing 10.000 liter dalam dua hari sekali,” lontarnya.
Dari hasil pemantauan, Pepi menyebut selain Pamsimas yang mati, di dusun itu keberadaan Irpom yang tengah berjaan diduga jadi salah satu penyebab mengeringnya air sumur.
“Dari pemetaan awal, pertama memang Pamsimasnya yang jadi andalan sedang trouble, selain itu ya Irpom,” pungkasnya. (riz)












