Desakita.co – Idul Fitri identik dengan hari perayaan yang disimbolkan sebagai kemenangan umat Islam setelah menahan lapar, haus dan nafsu selama sebulan penuh di bulan Ramadan.
Lantas kapan 1 Syawal 1445 H?
Hisab hakiki adalah metode hisab yang berpatokan pada gerak benda langit, khususnya matahari dan bulan sebenarnya.
Gerak dan posisi bulan dalam metode ini dihitung untuk mendapatkan gerak dan posisi bulan yang sebenarnya dan setepat-tepatnya sebagaimana adanya.
Adapun wujudul hilal adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pada saat matahari terbenam dan bulan belum terbenam.
Dengan kata lain, bulan terbenam terlambat dari terbenamnya matahari berapa pun selisih waktunya.
Dengan istilah geometrik, pada saat matahari terbenam posisi bulan masih di atas ufuk berapa pun tingginya.
Kriteria penetapan awal bulan baru dengan prinsip hisab hakiki wujudul hilal ini didasarkan dari tiga kriteria yang harus dipenuhi.
Yaitu sudah terjadi ijtimak (konjungsi) antara bulan dan matahari. Ijtimak terjadi sebelum terbenam matahari, dan ketika matahari terbenam bulan belum terbenam, atau bulan masih berada di atas ufuk.
Sebaliknya, apabila salah satu saja dari tiga kriteria tersebut tidak terpenuhi, saat matahari terbenam sampai esok harinya belum masuk bulan baru kalender hijriah.
Bulan baru akan dimulai pada saat terbenam matahari berikutnya. Setelah ketiga kriteria tersebut terpenuhi.
Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, telah menetapkan bahwa Hari Raya Idul Fitri tahun ini akan jatuh pada 10 April 2024.
Penetapan ini dikeluarkan melalui Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2024 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah 1445 Hijriah.
Dalam penetapan ini, Muhammadiyah memutuskan untuk menentukan awal puasa Ramadan, termasuk Hari Raya Idul Fitri 2024, lebih awal daripada Kementerian Agama.
Penetapan ini didasarkan pada hasil hisab hakiki wujudul hilal yang diterapkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
Terlepas dari perbedaan yang ada, semua umat Islam turut bersuka cita dalam menyambut kemenangan di hari lebaran.
Ada beberapa amalan sunah yang dapat dilakukan dan sekaligus bernilai ibadah.
Pertama, membayar zakat. Kebahagiaan di hari kemenangan maka tidak boleh ada umat Islam yang kekurangan dan kelaparan.
Oleh karena itu, ada ketentuan zakat fitrah agar semua bisa merasakan kebahagiaan di hari itu.
Berdasarkan hadis: “Sungguh setiap kaum mempunyai hari raya sendiri , dan hari ini adalah hari raya kita.’’ (HR Bukhari).
Kedua, mandi sebelum berangkat salat Idul Fitri. Laki-laki maupun perempuan di sunahkan membersihkan diri(mandi besar) sebelum Salat Idul Fitri.
Ketiga, makan sebelum berangkat salat Idul Fitri. Salah satu tuntunan saat Idul Fitri adalah makan sebelum berangkat salat.
Sebagai penanda bahwa hari tersebut sudah tidak lagi puasa. Seperti dalam hadis riwayat Ahmad ’’Nabi Muhammad SAW tidak berangkat pagi pada Hari Raya Idul Fitri kecuali makan terlebih dahulu. Dan tidak makan pada hari Idul Adha kecuali setelah pulang, kemudian makan hasil penyembelihan nya.”
Keempat, mengenakan pakaian terbaik dan wewangian. Diperintahkan Rasulullah SAW memakai pakaian terbaik (tidak wajib baru) di dua hari raya.
Seperti hadis yang diriwayatkan Ahmad. Dan Rasul SAW juga menganjurkan memberikan wewangian pada pakaian yang dipakai saat salat, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Hakim.
Kelima, membedakan rute berangkat dan pulang salat Id.
Ada dua hadis yang meriwayatkan tentang rute perjalanan saat Salat Id. Nabi SAW, apabila keluar untuk salat dua hari raya, maka beliau pulang melewati jalan yang berbeda dari jalan sebelumnya. (HR. Hakim). Sedangkan riwayat Bukhari menegaskan dengan rute perjalanan pulang dan pergi ke tempat salat Id hendaknya berbeda.
Dianjurkan rute keberangkatan lebih panjang dari pada jalan pulang.
Keenam, memperbanyak bacaan takbir. Takbiran sebagai istilah untuk mengumandangkan takbir pada Idul Fitri didapati dua pendapat dari ulama mengenai waktu dimulainya takbiran.
Yaitu dimulai sejak malam setelah Magrib satu hari sebelum salat Idul Fitri dan saat pagi hari ketika menuju salat Idul Fitri.
Demikian, Muhammadiyah dalam berHari Raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha sudah ada ketetapan.
Sudah diatur dalam rumah tangga Muhammadiyah (Maklumat PP Muhammadiyah), dan apa yang seharusnya dilakukan saat ber Idul Fitri.
Wallahu a’lam bisshowwab. (*)












