Oleh: Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan, Jombang, KH Zainul Ibad As’ad (Gus Ulib)
Alhamdulillah.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, telah tuntas. Forum tertinggi organisasi NU itu telah melahirkan pengurus NU ‘bermasalah’ untuk masa khidmah 2026–2031.
Bagi saya, selesainya Muktamar bukan berarti seluruh persoalan telah selesai. Justru setelah palu Muktamar diketuk, ujian yang sesungguhnya bagi warga Nahdliyin dimulai.
Kita harus berani mengatakan bahwa proses menuju kepemimpinan baru NU tidak berlangsung dalam ruang yang steril dari kepentingan. Ada tarik-menarik kekuatan, ada kepentingan kelompok, ada lobi-lobi, dan ada pula dugaan intervensi kekuasaan yang menjadi pembicaraan di tengah warga Nahdliyin.
Bahkan, bagi saya, hasil Muktamar ini semakin menguatkan kesan adanya “paket Istana” yang sejak awal menjadi bahan perbincangan. Paket yang dikaitkan dengan sejumlah tokoh, termasuk Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dan Nusron Wahid, serta kelompok yang berada di belakangnya.
Saya menyebutnya sebagai paket Istana bukan tanpa alasan. Setidaknya, kesan itu muncul dari konfigurasi kekuatan dan dinamika politik yang terlihat selama proses Muktamar.
Tentu, ini adalah pandangan saya. Warga Nahdliyin memiliki hak untuk menilai, menerima, membantah, atau bahkan mengkritiknya.
Justru dalam tradisi NU, perbedaan pandangan semestinya tidak perlu ditakuti. Yang lebih mengkhawatirkan bagi saya adalah ketika orang-orang yang dalam kepengurusan sebelumnya pernah menimbulkan persoalan atau terlibat konflik internal kembali mendapatkan ruang dan posisi strategis.
Pertanyaannya sederhana: apakah NU tidak pernah belajar dari konflik masa lalu?
Apakah persoalan-persoalan yang kemarin membuat warga Nahdliyin gaduh akan kembali terulang? Jangan sampai pergantian kepemimpinan hanya mengganti nama dan jabatan, tetapi tidak mengubah kultur pengelolaan organisasi.
Jangan sampai NU hanya berpindah tangan, tetapi tetap dikelola dengan cara-cara lama yang melahirkan kecurigaan, konflik, dan saling curiga. Bagi saya, inilah yang harus menjadi perhatian serius.
Sebab NU bukan perusahaan yang bisa dikelola berdasarkan kepentingan segelintir orang. NU bukan kendaraan untuk mencapai kekuasaan. NU juga bukan panggung untuk mempertontonkan siapa yang paling kuat dan siapa yang paling banyak memiliki akses kepada penguasa.
NU adalah jamiyyah ulama. NU adalah rumah besar jutaan Nahdliyin. Karena itu, jangan sampai kepentingan kekuasaan terlalu jauh masuk ke dalam rumah besar ini.
Saya khawatir jika politik kekuasaan terlalu dominan, maka suara kiai dan aspirasi warga Nahdliyin justru hanya menjadi pelengkap dalam setiap proses pengambilan keputusan.
Kalau demikian yang terjadi, lalu apa bedanya NU sebagai jamiyyah ulama dengan organisasi politik? Kritik seperti ini tentu tidak boleh dianggap sebagai bentuk permusuhan kepada NU.
Justru sebaliknya. Mengkritik NU karena cinta kepada NU jauh lebih baik daripada diam melihat persoalan hanya karena takut dianggap tidak loyal. Loyalitas tidak berarti membenarkan semua keputusan.
Kesetiaan kepada NU tidak berarti harus mematikan akal sehat. Dan mencintai jamiyyah bukan berarti harus kehilangan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang menurut kita tidak benar.
Saya kira inilah bentuk keterbukaan demokrasi yang harus tetap hidup di tubuh NU. Kita boleh berbeda pilihan. Kita boleh berbeda pandangan. Bahkan kita boleh kecewa terhadap hasil Muktamar.
Namun, setelah semua proses selesai, kita tetap memiliki satu pekerjaan besar: menjaga NU. Sebab NU jauh lebih besar daripada siapa pun yang menjadi Rais Aam, Ketua Umum, pengurus, atau kelompok yang sedang memiliki pengaruh.
Jabatan itu hanya sementara. Kekuasaan juga sementara. Kepengurusan lima tahun akan berakhir.
Tetapi NU harus terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, saya mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk tetap sabar dan istiqamah.
Kita diuji bukan hanya ketika NU dipimpin oleh orang yang sesuai dengan harapan kita. Kita justru diuji ketika kepemimpinan yang lahir dari Muktamar tidak sepenuhnya sesuai dengan keinginan kita.
Di situlah kesetiaan kita kepada jamiyyah diuji. Apakah kita tetap berada di NU ketika calon yang kita dukung kalah?
Apakah kita tetap mau berkhidmah ketika keputusan organisasi tidak sesuai dengan pandangan kita? Dan apakah kita masih mampu mencintai NU ketika ada orang-orang yang menurut kita tidak layak justru memperoleh tempat strategis?
Saya memilih tetap berada bersama NU. Tetapi tetap bersama NU bukan berarti berhenti mengkritik.
Justru saya akan terus mengingatkan jika ada kebijakan yang menurut saya tidak sesuai dengan khittah NU. Saya akan tetap bersuara jika kepentingan kelompok mulai mengalahkan kepentingan jamiyyah.
Saya akan tetap mengkritik jika kekuasaan mulai terlalu jauh mencampuri urusan NU. Dan saya akan tetap mengingatkan jika orang-orang yang menurut saya pernah menjadi sumber persoalan kembali diberikan ruang terlalu besar dalam organisasi.
Sebab diam bukan selalu berarti setia. Terkadang, diam justru menjadi bentuk pembiaran. NU membutuhkan kader dan warga Nahdliyin yang kritis, bukan sekadar patuh.
NU membutuhkan pengurus yang mau mendengar, bukan hanya ingin didengar.
NU membutuhkan kepemimpinan yang merangkul, bukan kepemimpinan yang membelah. Lima tahun ke depan akan menjadi ujian berat. Bukan hanya bagi pengurus baru, tetapi juga bagi seluruh warga Nahdliyin. Mari kita buktikan bahwa perbedaan pilihan tidak membuat kita kehilangan ukhuwah.
Kita boleh kritis, tetapi jangan kehilangan adab. Kita boleh kecewa, tetapi jangan meninggalkan jamiyyah. Kita boleh mengingatkan, tetapi jangan berhenti mendoakan.
Saya berharap kepengurusan baru PBNU mampu membuktikan bahwa berbagai kekhawatiran yang muncul setelah Muktamar hanyalah kekhawatiran yang tidak akan terbukti.
Buktikan bahwa NU tidak sedang dikendalikan oleh kepentingan Istana.
Buktikan bahwa NU tidak sedang menjadi arena balas jasa politik. Buktikan bahwa orang-orang yang pernah menimbulkan konflik tidak akan menjadi sumber konflik baru.
Dan yang paling penting, buktikan bahwa NU tetap menjadi rumah besar para ulama dan seluruh Nahdliyin.
Kalau itu bisa dibuktikan, saya kira kritik akan berhenti dengan sendirinya. Tetapi kalau kritik justru dibalas dengan pembungkaman, pertanyaan publik akan semakin besar. Karena itu, mari kita hadapi lima tahun ke depan dengan kesabaran dan kewaspadaan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kesabaran kepada kita semua.
Semoga Allah memberikan petunjuk kepada para pemimpin NU. Semoga NU tetap berada di jalan para muassis. Dan semoga NU tidak pernah kehilangan ruh perjuangannya hanya karena kepentingan kekuasaan sesaat.
NU harus tetap menjadi NU.
Amin.










