Opini

Gus Irfan dan Tongkat Estafet NU Mbah Hasyim

×

Gus Irfan dan Tongkat Estafet NU Mbah Hasyim

Sebarkan artikel ini

 

 

 

Oleh: Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan, Jombang, KH Zainul Ibad As’ad (Gus Ulib)

 

 

Nahdlatul Ulama didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) dengan cita-cita menegakkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah, menjaga persatuan bangsa, serta mengabdi kepada umat. Perjuangan tersebut merupakan amanah yang harus terus dilanjutkan oleh setiap generasi NU.

 

Dalam pandangan dan harapan sebagian besar warga Nahdliyin, Gus Irfan cucu langsung Mbah Hasyim yang saat ini menjabat Menteri Haji dan Umrah RI, dipandang sebagai salah satu sosok yang memiliki kapasitas untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangan tersebut. Harapan itu didasarkan pada komitmen untuk menjaga nilai-nilai keilmuan, akhlak, persatuan, serta pengabdian kepada agama, bangsa, dan negara.

 

Gus Irfan sebagai penerus tongkat estafet perjuangan KH Hasyim Asy’ari hendaknya dipahami sebagai sebuah harapan dan aspirasi besar umat untuk diwujudkan.

 

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang akan menjadi salah satu momentum paling penting dalam perjalanan organisasi yang kini memasuki abad keduanya.

 

Di tengah dinamika global, perubahan teknologi, dan tantangan sosial yang semakin kompleks, NU membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya berakar kuat pada tradisi pesantren. Tetapi juga memiliki pengalaman mengelola organisasi modern dan memahami tata kelola pemerintahan.

Baca Juga:  Jamaah Kidung Langit Siap Mengawal Spiritualitas Muktamar NU

 

Ya, jika menilik konteks tersebut, perjalanan karier KH Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan menjadi menarik untuk dicermati. Rekam jejaknya memperlihatkan proses panjang pengabdian yang tumbuh dari lingkungan pesantren. Berkembang dalam organisasi, hingga dipercaya mengemban amanah di tingkat nasional sebagai Menteri Haji dan Umrah. Karier tersebut bukanlah hasil perjalanan singkat, melainkan akumulasi pengalaman yang dibangun selama puluhan tahun.

 

Pengabdian Gus Irfan dimulai dari Pondok Pesantren Tebuireng, tempat ia menjadi Sekretaris Umum selama hampir dua dekade.

 

Posisi ini bukan sekadar jabatan administratif, melainkan ruang pembelajaran tentang bagaimana mengelola lembaga pendidikan besar yang memiliki ribuan santri, jaringan alumni, serta berbagai unit pendidikan dan sosial.

 

Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya terhadap karakter organisasi berbasis pesantren yang menjadi denyut utama NU.

 

Komitmennya terhadap pengembangan lembaga pendidikan juga terlihat melalui kiprahnya sebagai Wakil Ketua Yayasan Hasyim Asy’ari yang masih dijalankan hingga kini. Di sisi lain, ia turut memperkuat kemandirian ekonomi pesantren dengan memimpin PT BPR Tebuireng sebagai Komisaris Utama selama dua puluh tahun.

 

Tentu saja, langkah ini menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi bukan sekadar konsep, melainkan bagian dari praktik nyata dalam membangun kemandirian umat.

Baca Juga:  Mengurus Negara

 

Tak hanya itu, perjalanan intelektual Gus Irfan juga berkembang secara konsisten. Setelah meraih gelar sarjana dan magister di Universitas Brawijaya, ia menyelesaikan pendidikan doktor di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

 

Disertasinya mengenai kepemimpinan transformasional KH Muhammad Yusuf Hasyim menunjukkan perhatian yang besar terhadap nilai-nilai pesantren yang tetap dapat relevan di tengah perubahan zaman.

 

Pendidikan akademik tersebut melengkapi pengalaman lapangan yang telah lama ia jalani.

 

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Gus Irfan bukan figur yang baru muncul menjelang muktamar. Ia pernah mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah PWNU Jawa Timur dan Wakil Ketua Lembaga Perekonomian NU. Dua bidang tersebut menyentuh langsung dua isu strategis NU, yakni penguatan pesantren dan pemberdayaan ekonomi warga.

 

Pengalaman itu kemudian bertambah ketika ia memasuki ruang pengabdian di tingkat nasional.

 

Setelah dipercaya menjadi anggota DPR RI, Gus Irfan menerima amanah sebagai Kepala Badan Penyelenggara Haji yang kemudian menjadi Kementerian Haji dan Umrah. Jabatan tersebut menuntut kemampuan membangun kebijakan, berkoordinasi dengan berbagai kementerian, serta memastikan pelayanan publik berjalan secara profesional. Pengalaman seperti ini menjadi modal penting bagi siapa pun yang akan memimpin organisasi sebesar NU.

Baca Juga:  Gus Irfan dan Agenda Besar NU Abad Kedua

 

Memasuki abad kedua, NU menghadapi tantangan yang jauh lebih luas dibanding masa-masa sebelumnya. Organisasi ini tidak hanya berperan sebagai penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi rujukan Islam moderat di tingkat dunia.

 

Karena itu, kepemimpinan NU ke depan memerlukan figur yang mampu menjembatani nilai-nilai pesantren dengan kebutuhan organisasi modern. Memperkuat pendidikan. Mengembangkan ekonomi warga. Memanfaatkan transformasi digital. Sekaligus membangun diplomasi Islam Nusantara di tingkat internasional.

 

Perjalanan karier Gus Irfan memperlihatkan kesinambungan antara tradisi, pendidikan, organisasi dan pemerintahan. Seluruh pengalaman tersebut membentuk kapasitas kepemimpinan yang lahir dari proses panjang pengabdian, bukan semata-mata karena popularitas atau momentum politik.

 

Pada akhirnya, Muktamar ke-35 NU bukan hanya tentang memilih seorang Ketua Umum PBNU. Lebih dari itu, muktamar merupakan kesempatan menentukan arah NU pada abad keduanya. Di tengah kebutuhan akan kepemimpinan yang adaptif sekaligus berpijak kuat pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, rekam jejak Gus Irfan menjadi salah satu gambaran bagaimana tradisi pesantren dapat bertemu dengan tantangan masa depan.

 

Lahir dan tumbuh besar dari Tebuireng hingga Kementerian Haji, perjalanan itu menjadi cermin bahwa kepemimpinan besar selalu dibangun melalui pengabdian yang panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *