KOMPAK: Penasihat Menteri Desa PDT Prof. Dr. Zainuddin Maliki bersama Camat Kepohbaru Triguno Sudjono Prio dan Kepala Desa se-Kecamatan Kepohbaru Bojonegoro. (foto: istimewa)
Desakita.co – Penasihat Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Prof. Zainuddin Maliki menegaskan bahwa pemerintah saat ini sedang melakukan penataan ulang arah pembangunan nasional.
“Penataan pembangunan diarahkan lebih inklusif dengan menempatkan desa dan masyarakat lapisan bawah sebagai destinasi utama investasi pembangunan,” kata Prof. Zainuddin di forum Focus Group Discussion (FGD) Kepala Desa se-Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, melalui siaran pers, Jumat (12/6/2026).
Dalam FGD bertema Penataan Ulang Arah Desa di Era Tumbuhnya Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), anggota DPR RI 2019-2024 itu menegaskan bahwa selama bertahun-tahun pembangunan cenderung menggunakan pendekatan ekstraktif.
Disebutkan bahwa pertumbuhan terkonsentrasi di pusat-pusat ekonomi tertentu dan lebih banyak dinikmati oleh kelompok yang sudah kuat secara ekonomi. Akibatnya, ketimpangan sosial dan ekonomi masih menjadi tantangan besar yang dihadapi bangsa.
“Saat ini pembangunan ditata secara inklusif. Desa dijadikan pusat pertumbuhan ekonomi baru sebagai implementasi asta cita Presiden Prabowo ke enam, membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan,” tutur Zainuddin.
Dengan tagline, Membangun Desa Membangun Indonesia, katanya, Menteri Desa PDT Yandri Susanto meluncurkan sejumlah program prioritas, di antaranya revitalisasi BUMDes, UMKM Lokal, pengembangan desa-desa tematik, serta percepatan lahirnya desa ekspor.
Motor pertumbuhan ekonomi perdesaan itu kini dilengkapi dengan instrumen ekonomi baru di desa seperti KDMP dan Kampung Nelayan Merah Putih.
Hasilnya, dalam dua tahun terakhir semakin banyak bermunculan desa pengekspor. Terus bertambahnya BUMDes dengan omzet puluhan miliar rupiah, seperti BUMDes Payang Sejahtera Kalimantan Timur.
BUMDES yang terletak di Desa Sungai Payang, Kutai Kartanegara, berhasil mencatatkan omzet setahun terakhir hingga Rp 27,6 miliar. Unit usahanya meliputi pengangkutan sawit, katering, laundry, hingga subkontraktor perusahaan lokal.
Sementara itu BUMDes Tirta Mandiri, Desa Ponggok, Klaten, menjadi pelopor desa miliarder dengan omzet mencapai Rp 12 miliar hingga Rp 14 miliar per tahun. Unit usahanya berfokus pada pariwisata perikanan, dan resort.
“Ini menunjukkan bahwa desa memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru Indonesia,” ujarnya.
Dia menambahkan, Menteri Desa Yandri Susanto terus mendorong transformasi desa agar tidak hanya menjadi wilayah produksi, tetapi juga menjadi pusat inovasi, kewirausahaan, dan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.
FGD yang diikuti seluruh kepala desa se-Kecamatan Kepohbaru dan pendamping desa Kabupaten Bojonegoro tersebut juga menjadi forum untuk merumuskan langkah-langkah strategis penataan program pembangunan dan pemberdayaan desa agar lebih terintegrasi dengan agenda penguatan ekonomi rakyat melalui KDMP, BUMDes, UMKM, serta berbagai program pemberdayaan masyarakat lainnya.
Melalui strategi pembangunan inklusif tersebut, desa diyakini mampu menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi yang lebih merata, berkeadilan, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi fondasi kuat bagi terwujudnya Indonesia yang maju dan sejahtera.(ang)












