Lifestyle

Kenalan dengan dr Rif’at Nurfahri, Direktur Operasional RSU dr Moedjito Jombang yang Utamakan Pelayanan Ilmiah

×

Kenalan dengan dr Rif’at Nurfahri, Direktur Operasional RSU dr Moedjito Jombang yang Utamakan Pelayanan Ilmiah

Sebarkan artikel ini
TELADAN: Direktur Operasional RSU dr Moedjito Jombang, dr Rif’at Nurfahari SpM.

DesaKita.co – Amanah baru sebagai Direktur Operasional RSU dr Moedjito Dwidjosiswojo, Jombang, diemban dr Rif’at Nurfahri SpM tahun ini.

Berbekal pengalaman sebagai dokter, akademisi, hingga manajer rumah sakit, dokter spesialis mata itu membawa prinsip sederhana dalam menjalankan tugas; Terus belajar, mengabdi, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

’’Prinsip saat belajar menjadi dokter adalah terus berjuang, pantang menyerah disertai doa dan berbakti kepada orang tua,’’ kata pria kelahiran Surabaya 1990 ini.

Dia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Ainur dengan dr Esty. Pendidikan dasar hingga SMP ditempuh di Al Hikmah Surabaya. Kemudian melanjutkan ke MAN 2 Malang.

Ketertarikannya pada dunia kesehatan membawanya menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya hingga lulus sebagai dokter umum. Setelah itu, ia melanjutkan S2 pendidikan dokter spesialis mata di Unair Surabaya.

Baca Juga:  Dorong Perekonomian Berkembang, PT CJI Jombang Ajak Warga Desa Purisemanding Budi Daya Ikan Tawar

Baginya, profesi dokter bukan hanya menguasai ilmu medis. Tetapi juga proses perjuangan dan tanggung jawab untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Jombang menjadi salah satu daerah yang memiliki arti penting dalam perjalanan kariernya. Pada 2015, usai menyelesaikan pendidikan dokter, dia menjalani program intership di Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) Jombang dan Puskesmas Bareng selama satu tahun.

Pengalaman itu menjadi bekal berharga memahami langsung berbagai persoalan pelayanan kesehatan di lapangan. Setelahnya, dia melanjutkan karier di RS Siti Khodijah Sepanjang, Kabupaten Sidoarjo.

Pada 2016–2019, Rif’at dipercaya menjabat Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) sekaligus penanggung jawab klinik.

Keinginan untuk terus mengembangkan kompetensi membuatnya menempuh pendidikan dokter spesialis mata pada 2020–2024 di Unair Surabaya. Setelah lulus, ia kembali ke RS Siti Khodijah sebagai dokter mata sekaligus Manajer Pelayanan Medik, 2025–2026.

Baca Juga:  Cerita Fitriah Susanti Warga Desa Cukir, Diwek Jombang (1): Bisa Sukses Berkarir Tanpa Mengabaikan Peran Ibu

Selain aktif memberikan pelayanan medis, Rif’at juga mengabdikan diri di dunia pendidikan sebagai dosen Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Perjalanannya kembali beririsan dengan Jombang setelah RSU dr Moedjito Dwidjosiswojo menjadi bagian dari pengelolaan RS Siti Khodijah pada 2024. Seiring perubahan pengelolaan rumah sakit, mulai 2026 ia dipercaya mengemban amanah sebagai Direktur Operasional RSU dr Moedjito Dwidjosiswojo.

Kini, sebagian besar aktivitasnya berpusat di RSU dr Moedjito. Ia juga tinggal di rumah dinas yang berada di lingkungan rumah sakit untuk mendukung pelaksanaan tugasnya.

Dalam menjalankan profesi sebagai dokter, Rif’at memegang tiga prinsip utama. Pertama, mengedepankan pelayanan berbasis bukti ilmiah atau evidence based. Kedua, mencari akar permasalahan pasien. Serta ketiga, membangun komunikasi yang efektif.

Baca Juga:  Tetap Produktif Saat Kuliah! Ini 3 Rekomendasi Peluang Bisnis untuk Mahasiswa Agar Bisa Mendapat Cuan

’’Dokter harus mencari akar permasalahan pasien, bukan hanya melihat gejala. Selain itu, komunikasi yang efektif sangat penting agar pasien merasa mendapatkan pelayanan terbaik,’’ jelasnya.

Di tengah kesibukan memimpin rumah sakit, Rif’at tetap meluangkan waktu untuk membaca manga One Piece dan mendengarkan kajian Ustad Adi Hidayat serta Nouman Ali Khan.

Baginya, belajar tidak hanya diperoleh melalui pendidikan formal. Tetapi juga dari berbagai sumber yang dapat memperkaya wawasan.

Prinsip itu juga diterapkan dalam mendidik anak-anaknya. Ia menanamkan nilai tauhid, ikhlas dan ihsan sebagai fondasi kehidupan. Sekaligus membiasakan mereka menghargai orang lain dan bersikap rendah hati.

’’Saya mengajarkan anak-anak untuk belajar berterima kasih, belajar meminta tolong, dan belajar meminta maaf. Hal-hal sederhana itu penting menjadi bekal dalam kehidupan,’’ tegasnya. (fid/jif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *