Pemerintahan

Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno Jombang Gandeng Akademisi, Kembangkan Smart and Sustainable Village, Ini Tujuannya

×

Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno Jombang Gandeng Akademisi, Kembangkan Smart and Sustainable Village, Ini Tujuannya

Sebarkan artikel ini
KERJA SAMA: Kepala Desa Penggaron Rikoret Hendrik (tengah) bersama jajaran akademisi UPN Veteran Jatim saat pembukaan kegiatan KKN di Pendopo kantor Desa Penggaron, Selasa (21/7).

 

Desakita.co – Pemerintah Desa (Pemdes) Penggaron, Kecamatan Mojowarno, menjalin kemitraan dengan akademisi UPN Veteran Jawa Timur untuk mewujudkan konsep smart and sustainable village. Kerja sama ini ditandai dengan pembukaan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di pendopo kantor desa, Selasa (21/7).

Kepala Desa Penggaron Rikoret Hendrik menyebut, tujuan utama program adalah meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi masyarakat melalui partisipasi aktif warga. ”Kami berharap kegiatan ini dapat membantu pengelolaan bank sampah, program Pamsimas (penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat) hingga pemasaran produk UMKM desa,” ujarnya.

Baca Juga:  Axelia Vaneeta Widyaswati Karateka Cilik Asal Jombang: Langganan Juara, Kantongi 48 Medali

Baca Juga: Prabowo Resmi Copot Kepala BGN Dadan Hindayana, Ini Sosok Penggantinya

Konsep desa cerdas dan berkelanjutan ini diarahkan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di tingkat desa. ”Upaya terpadu dilakukan agar desa tumbuh merata, bebas kemiskinan, serta berjejaring dalam percepatan pembangunan,” tegasnya.

Baca Juga:  Cara Kelurahan Jelakombo Tingkatkan Pelayanan Warga dengan Realisasi Program PTSL

Desa Penggaron sendiri dikenal sebagai sentra perajin tenun dan home industri keripik bonggol pisang. ”Pemanfaatan teknologi digital diharapkan mampu memperluas pemasaran produk UMKM sekaligus menciptakan ekosistem ekonomi lokal,” bebernya.

Baca Juga:  Kemendesa: Peran Dana Desa dalam Peningkatan Literasi Warga Cukup Tinggi, Sekitar 12 Persen atau Rp 14,4 Triliun

Kerja sama dengan akademisi juga menjadi sarana penguatan kader desa melalui pendampingan teknologi tepat guna. ”Kerja sama ini saling menguntungkan. Desa mendapat pendampingan sesuai kebutuhan, sementara akademisi bisa mengimplementasikan penelitian langsung di lapangan,” pungkas Rikoret Hendrik. (dwi/naz)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *