Desakita.co – SELAIN dikenal akan kaindahan alamnya, bumi Wonosalam juga kaya akan sumber daya alam. Peluang ini berhasil dimanfaatkan Fitria Ainul Latifa, 29, dengan mengembangan kerajinan batik ecoprint. Berbeda dengan batik konvensional, jenis batik ini memanfaatkan bahan-bahan alami, seperti daun, bunga, dan batang tumbuhan, untuk menciptakan motif dan warna yang unik pada kain.
”Saya memanfaatkan daun-daun yang jatuh, tapi masih bagus. Di luar Wonosalam, banyak perajin harus membeli daun terlebih dahulu. Tapi di sini, saya cukup ambil dari alam, tanpa merusak,” ungkap Fitria, warga Dusun Babatan, Desa Sumberjo, Kecamatan Wonosalam.
Selain itu, kelebihan batik ecoprint lebih ramah terhadap lingkungan karena mengurangi penggunaan bahan kimia. Batik ecoprint menggunakan zat pewarna dari bahan alami. Misalnya, untuk mendapatkan warna-warna cerah, Fitri terlebih dulu merebus bahan pewarna alami seperti kayu secang untuk merah, daun jati dan alpukat untuk warna cokelat, serta kayu nangka untuk warna kuning. ”Jadi selain motifnya unik, juga ramah lingkungan karena menggunakan bahan pewarna alami,” bebernya.
Tak hanya itu, motif abstrak dan kontemporer menjadi favorit para pelanggan. Dengan berbagai riset yang dilakukan, ia mampu menciptakan tampilan yang artistik sekaligus unik. ”Ciri khas batik ecoprint saya terletak pada warnanya yang lebih mencolok dan motif daunnya yang padat. Itu karena sumber daya alam di Wonosalam sangat melimpah,” ungkapnya.
Sejak mulai memproduksi batik ecoprint pada 2020, Fitria sempat memasarkan produknya secara door to door ke sejumlah instansi di Jombang. Namun, seiring berjalannya waktu, kini, ia lebih mengandalkan mengikuti pameran batik, baik di dalam kota maupun di event nasional seperti Pameran Batik Bordir di JCC Jakarta. ”Dulu saya tawarkan langsung ke dinas-dinas, ada yang tertarik dan ada juga yang menolak secara halus. Sekarang saya ikut pameran, dan alhamdulillah produknya makin dikenal,” terang Fitri.
Berdayakan Warga dalam Proses Produksi
SEMENTARA itu, tak hanya menghasilkan karya seni bernilai tinggi, usaha kerajinan pembuatan batik ecoprint yang digeluti Fitria juga menjadi penggerak perekonomian warga.
”Sekarang ada sekitar sembilan warga Desa Sumberjo ikut terlibat dalam proses produksi, dari mulai pengumpulan daun hingga proses pewarnaan, lumayan bisa membantu ekonomi warga sekitar sini,” terang Fitria.
Dengan bantuan sejumlah warga tersebut, Fitria mampu memproduksi hingga puluhan potong kain per hari. ”Kami bisa memproduksi sampai 40 potong batik ecoprint per hari,” ucapnya bangga.
Produk batik ramah lingkungan buatan Fitria dibanderol dengan harga yang lebih murah. Menurut Fitria harga batik ecoprint di berbagai wilayah mencapai Rp 200 ribu per potong. Sedangkan produk Batik Nusantria miliknya dibanderol di bawah Rp 200.000 per potong. ”Saya menjualnya mulai dari harga Rp 150.000 per lembar 2 meter, sampai harga Rp 800.000, tergantung kain yang digunakan,” ungkapnya. (ang/naz)












