Desakita.co – Nama Hj Maftuhah Mustiqowati, SAg, MPd atau yang akrab disapa Ning Ika kini melekat sebagai sosok inspiratif dari dunia pesantren dan madrasah. Istri KH Moh Irfan, MHI ini bukan hanya pengasuh pesantren dan kepala Madrasah Al Hikam Jatirejo, Diwek, Jombang, tetapi juga penggerak ekoteologi yang kiprahnya diakui hingga tingkat provinsi, nasional, bahkan internasional.
Lahir di Jombang pada 29 Agustus 1974, Ning Ika tumbuh dalam keluarga yang sarat nilai pendidikan dan keagamaan. Sejak kecil, ia sudah ditempa dengan fikih lingkungan oleh kedua orang tuanya, Drs KH M Zubaidi Muslich dan Hj Asmah Aziz. Kebiasaan menjaga kebersihan, mengelola sampah, menanam dan merawat tanaman, hingga hemat air dan energi menjadi bagian dari kesehariannya. ”Kecintaan kepada alam yang ada dalam diri saya, sudah ditanamkan orang tua saya sejak dulu,” ungkapnya.
Pendidikan formal ia jalani di Madrasah Muallimat Tambakberas Jombang, lalu S1 di Fakultas Tarbiyah Jurusan Bahasa Arab IAIN Malang, dan S2 Manajemen Pendidikan di Universitas Darul Ulum Jombang. Pendidikan nonformal ia tempuh di Pesantren Assaidiyyah Putri Tambakberas.
Karier pengabdiannya dimulai tahun 2000 sebagai pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikam Putri. Ia kemudian menjadi guru Bahasa Arab di MTs Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang (2004–2006), lalu dipercaya sebagai kepala madrasah (2006–2009). Sejak 2009, ia memimpin Madrasah Al Hikam Jombang.
Selain mengabdi di madrasah, Ning Ika aktif di berbagai organisasi. Ia pernah menjabat Wakil Ketua LP Ma’arif Jombang (2019–2023), kini Bendahara LP Ma’arif PCNU Jombang (2024–2029), Ketua DPW Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia (HPAI) Jombang, serta Koordinator Pengembangan Lingkungan Hidup, Budaya, dan Pariwisata ISNU Jombang.
Sebagai ibu dari enam anak, ia juga berhasil mendidik putra-putrinya dengan prestasi membanggakan. Mulai dari wisudawan terbaik S3 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, penerima beasiswa BIB untuk S2, hingga anak-anak lain yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi Islam ternama.
Puncak pengakuan atas kiprahnya hadir pada 30 Desember 2025. Ning Ika menerima Penghargaan Pelestari Fungsi Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur 2025 kategori Pembina Lingkungan terbaik, penghargaan setara Kalpataru. Diserahkan langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Surabaya, penghargaan ini menjadi sejarah baru bagi Jombang. ”Sulit untuk meraih penghargaan ini, salah satunya harus konsisten pada gerakan lingkungan minimal lima tahun,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, ia juga menerima penghargaan dari Kementerian Agama Kabupaten Jombang sebagai Guru Penggerak Penguatan Ekoteologi dan kontributor aktif program Kemenag, yang diserahkan Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur Dr H Akhmad Sruji Bahtiar, MPdI, pada 8 Januari 2026.
Kini, Ning Ika tengah menyusun buku Pengelolaan Sampah di Madrasah sebagai dokumentasi praktik baik yang telah ia jalankan.
Di bawah kepemimpinannya, Madrasah Al Hikam Jombang meraih sederet prestasi, antara lain Adiwiyata Kabupaten (2015), Adiwiyata Provinsi (2019), Adiwiyata Nasional (2021), Eco Pesantren Jawa Timur (2021), Adiwiyata Mandiri (2023), hingga Juara 1 Madrasah Hijau LP Ma’arif PBNU (2023) dan Sekolah Ramah Anak Terbaik (2026). Meski demikian, ia menegaskan bahwa prestasi bukanlah hasil kerja pribadi semata. ”Al Hikam bisa seperti sekarang karena guru-guru yang hebat dan santri-santri yang hebat,” ujarnya.
Kepada santri, Ning Ika memposisikan diri bukan sekadar bu nyai atau guru, melainkan sebagai seorang ibu. ”Dengan ibu, tidak ada jarak,” tuturnya
Saat ini, ia tengah mengembangkan Green Family Class, program edukasi keluarga untuk mempraktikkan gaya hidup ramah lingkungan. Ada lima program sederhana: green spiritual (menjaga alam sebagai ibadah), green habit (membangun kebiasaan ramah lingkungan), green food (menanam sayur dan mengurangi plastik), green education (melibatkan anak dan orang tua menjaga lingkungan), serta green action (kerja bakti keluarga, setor sampah ke bank sampah, sedekah lingkungan).
Merawat Alam, Menyatukan Iman
JIKA banyak gerakan lingkungan lahir dari komunitas internal atau individu tertentu, Hj Maftuhah Mustiqowati, SAg, MPd memilih jalan yang lebih sunyi sekaligus menantang, yakni menyatukan gerakan pelestarian lingkungan lintas iman. Bagi sosok yang akrab disapa Ning Ika ini, menjaga alam bukan hanya urusan satu kelompok atau satu agama, melainkan panggilan kemanusiaan yang bersumber dari nilai-nilai ketuhanan seluruh agama.
Sejak 2021, Ning Ika konsisten merangkul komunitas lintas iman di Jombang melalui kegiatan nyata. Ia menginisiasi penanaman pohon bersama lintas agama, sedekah sampah lintas iman, hingga kolaborasi dengan rumah-rumah ibadah non-muslim. Di Klenteng Gudo, gereja, hingga komunitas keagamaan lainnya, ia menyediakan keranjang sedekah sampah yang kemudian dikelola kembali oleh madrasah dan pesantren binaannya. ”Konsep ini tidak ujug-ujug bisa berjalan. Menyatukan lintas iman itu sulit,” ujar Ika.
Karena itu, ia tidak memulai dari aktivitas teknis semata, melainkan dari ruang dialog dan pemahaman. Ia menggagas seminar lintas iman yang mengulas kitab suci masing-masing agama. Dalam forum itu, peserta diajak melihat satu titik temu: seluruh ajaran agama menempatkan manusia sebagai penjaga alam semesta, bukan perusaknya. ”Tuhan menurunkan manusia ke bumi untuk menjaga alam semesta,” tegasnya.
Prinsip tersebut menjadi pemantik yang menyatukan perbedaan keyakinan menjadi aksi nyata. Selain pendekatan lintas iman, Ning Ika juga dikenal dengan inovasi sosial yang membumi dan mudah diterima masyarakat. Ia membangun kesadaran publik melalui konsep sampahmu tanggung jawabmu, dengan mekanisme tukar sampah menjadi kebutuhan pokok. Masyarakat dapat menukarkan sampah dengan minyak goreng, telur, sayur, hingga lauk pauk melalui sistem kupon yang disesuaikan dengan berat sampah.
Pendekatan ini terbukti efektif. Sampah yang semula dibakar atau dibuang sembarangan kini dipandang sebagai berkah. ”Masyarakat melihat langsung manfaatnya. Ada nilai ekonomi, ada nilai lingkungan,” ungkap Ika.
Kesadaran itu tumbuh bukan karena larangan, melainkan karena pengalaman langsung. Pengalamannya di bidang lingkungan juga ia bagikan kepada khalayak luas. Ning Ika menjadi narasumber ekoteologi di forum MABIMS (Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia, Singapura) di Jakarta, Agustus 2025. Pada Oktober, ia kembali tampil sebagai pembicara Kemenag terkait program Adiwiyata.
Gerakan tersebut terus berkembang. Pada 19 Januari mendatang, Ning Ika bekerja sama dengan ECOTON (Ecological Observation and Wetland Conservation) untuk memantau kualitas udara di lingkungan sekitar, termasuk mendeteksi potensi mikroplastik. Namun, kegiatan ini tidak berhenti pada penelitian semata. “Setelah tahu hasilnya, kita harus memikirkan langkah selanjutnya untuk mengatasinya,” pungkasnya. (wen/naz)






