JOMBANG – Pemerintah Desa (Pemdes) Bulurejo, Kecamatan Diwek, menunjukkan dukungan terhadap Gerakan Tanam Cabai untuk mewujudkan ketahanan pangan yang digalakkan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Jombang.
Kawasan Agrowisata Sumber Celeng (ASC) dipilih sebagai lokasi penanaman secara simbolis, Rabu (23/9).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong ketahanan pangan sekaligus pemenuhan gizi keluarga melalui pemanfaatan lahan di sekitar rumah.
Turut hadir Ketua TP-PKK Kabupaten Jombang Yuliati Nugrahani Warsubi didampingi segenap pengurus dan anggota, seluruh Pokja TP-PKK Kabupaten Jombang, Forkopimcam Diwek, kepala desa dan ketua TP-PKK se-Kecamatan Diwek, serta Kader Pokja TP-PKK Desa Bulurejo dan desa binaan.
Kepala Desa Bulurejo Supraptini mengatakan, pihaknya menyambut dan mendukung gerakan tersebut agar dapat diterapkan di lingkungan masyarakat desa. ”Kami turut menghimbau dan mendorong setiap keluarga agar dapat memanfaatkan lahan yang ada di sekitar rumah sebagai sumber pangan mandiri,” tuturnya.
Baca Juga: Jelang Pilkades Jombang Serentak 2027, DPMD Petakan Data Penduduk 286 Desa
Menurut dia, langkah tersebut tidak hanya untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga, tetapi juga meningkatkan asupan gizi masyarakat.
”Selain cabai, warga juga dapat menanam aneka sayuran, pohon buah maupun tanaman pangan lain guna menunjang kebutuhan gizi keluarga sehari-hari,” lanjutnya.
Supraptini menambahkan, gerakan menanam cabai juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang memperbaiki pola konsumsi masyarakat agar lebih beragam dan bergizi.
”Satu tanaman di pekarangan rumah dapat menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan sekaligus mendukung pencegahan stunting,” tandasnya.
Menurutnya, pencegahan stunting dapat dimulai jauh lebih awal, yakni sejak remaja dan masa sebelum kehamilan, sebelum anak mengalami gangguan pertumbuhan.
Karena itu, gerakan tanam cabai diharapkan tidak berhenti pada kegiatan simbolis. TP-PKK Jombang ingin menjadikan pemanfaatan pekarangan sebagai kebiasaan masyarakat. Kebutuhan pangan terpenuhi, keluarga semakin mandiri, lingkungan lebih sehat, dan kebutuhan gizi anak semakin terjaga.
”Jika setiap keluarga bergerak dari lingkungan rumahnya masing-masing, dampaknya akan masif menjadi kekuatan besar, mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten,” pungkasnya. (dwi/naz)












