Gelar Wayang Kulit, Sekaligus
JOMBANG – Pemerintah Desa (Pemdes) Tanjungwadung, Kecamatan Kabuh, menggelar pagelaran wayang kulit bersama Ki Dalang Rudi Gareng di balai desa, Minggu (27/9). Mengangkat lakon Wahyu Cakraningrat.
’’Ini menjadi hiburan sekaligus sarana pelestarian budaya,’’ kata Kepala Desa Tanjungwadung, Supono. Pagelaran wayang kulit digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Acara semakin meriah dengan kehadiran bintang tamu Joklitik dan Joklutuk.
’’Kami ingin menjaga kesenian tradisional tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kami untuk melestarikan budaya. Kami ingin kesenian wayang kulit tetap dikenal dan dicintai masyarakat, khususnya generasi muda,’’ urainya.
Ini juga dimanfaatkan Pemdes Tanjungwadung untuk menyampaikan informasi terkait pelaksanaan program prioritas Desa Mantra kepada masyarakat. Warga juga mendapatkan informasi mengenai program yang berjalan di desa.
’’Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi antara pemerintah desa dan masyarakat. Sekaligus masyarakat bisa mendapatkan informasi terkait program-program desa,’’ imbuhnya.
Pagelaran tersebut dihadiri Bupati Warsubi, Wakil Bupati Salmanudin Yazid, Sekdakab Agus Purnomo dan Ketua TP PKK Kabupaten Jombang Yuliati Nugrahani Warsubi.
Dalam sambutannya, Bupati Warsubi mengapresiasi Pemdes Tanjungwadung yang telah menggelar kegiatan budaya. ’’Atas nama Pemerintah Kabupaten Jombang, saya menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Tanjungwadung yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Terima kasih juga kepada seluruh masyarakat yang telah hadir,’’ ungkapnya.
Dia berharap kegiatan pelestarian budaya seperti pagelaran wayang kulit dapat terus digelar. Terlebih, kesenian tradisional memiliki nilai seni, cerita, tradisi, sekaligus pesan kehidupan yang dekat dengan masyarakat.
’’Menjadi tanggung jawab kita bersama untuk terus menjaga dan melestarikannya kepada anak cucu kita,’’ pesannya.
Warsubi juga mengajak masyarakat menjaga kerukunan dan kebersamaan di lingkungan desa. Menurutnya, perbedaan pendapat maupun pilihan tidak semestinya mengganggu hubungan antarwarga.
’’Kalau ada masalah, mari diselesaikan dengan komunikasi yang baik. Kalau ada perbedaan, mari kita hormati. Karena yang kita bangun di desa ini adalah kehidupan bersama,’’ ungkapnya. (ang/jif)












