Desakita.co – KREATIVITAS mengolah hasil bumi terus bermunculan di Kecamatan Wonosalam. Jika selama ini durian lebih sering dinikmati langsung, kini buah khas pegunungan lereng Anjasmoro itu hadir dalam bentuk pizza durian.
Olahan unik tersebut dibuat Intan Dewi Anggraini, 39, warga Dusun Tukum, Desa Wonosalam. Sejak 2024, ia mulai mengembangkan pizza durian setelah melihat hasil panen durian lokal yang melimpah setiap musimnya. ”Saya membuat sejak 2024, melihat banyaknya durian melimpah di Wonosalam,” ujarnya.
Proses pembuatannya dimulai dari membuat adonan roti sebagai dasar pizza menggunakan bahan tepung dan susu. Setelah dipanggang, roti diolesi daging durian lokal yang telah dikupas hingga merata. Di atasnya ditambahkan keju dan taburan kacang almond sebelum kembali dipanggang selama sekitar 10 menit pada suhu 250 derajat Celsius.
Setelah matang, pizza kemudian disajikan bersama saus yang seluruh bahannya berasal dari durian lokal. ”Setelah itu bisa dinikmati dengan cocolan saus durian yang terbuat dari 100 persen durian lokal,” katanya.
Menurut Intan, durian Wonosalam dipilih bukan hanya karena mudah didapat saat musim panen, tetapi juga memiliki cita rasa manis legit yang menjadi ciri khas daerah tersebut. ”Durian lokal karena bahannya melimpah, dan rasanya ada manis legit khas durian Wonosalam,” tuturnya.
Satu kotak pizza durian dijual seharga Rp25 ribu. Produk olahan pizza durian juga bisa dijadikan buah tangan karena dapat bertahan selama tiga hingga empat jam pada suhu ruang, sedangkan daya simpannya lebih lama jika disimpan di dalam lemari pendingin. ”Pizza durian kini menjadi salah satu pilihan camilan bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata Wonosalam,’’ pungkasnya.
Musim Durian Berakhir, Pizza Tetap Diproduksi
BERAKHIRNYA musim durian tidak membuat produksi pizza durian di Wonosalam ikut berhenti. Pelaku usaha telah menyiapkan stok daging durian sejak panen raya agar olahan khas tersebut tetap tersedia sepanjang tahun.
Cara itulah yang dilakukan Intan Dewi Anggraini, 39, warga Dusun Tukum, Desa Wonosalam. Setiap musim durian tiba, ia membeli dan mengupas durian dalam jumlah besar untuk kemudian disimpan di dalam freezer sebagai bahan baku. ”Kalau tidak musim durian, kita biasanya nyetok di freezer untuk bahan baku pizza durian. Sekarang kebetulan tidak musim durian. Saat musim kemarin kita sediakan durian kupas banyak untuk stok olahan durian,” ujarnya.
Strategi tersebut membuat usahanya tetap berjalan meski pasokan durian segar sedang tidak tersedia. Daging durian beku yang telah disimpan kemudian diolah menjadi topping pizza tanpa mengurangi cita rasa khas durian Wonosalam.
Menurut Intan, penggunaan durian lokal tetap menjadi pilihan utama karena memiliki rasa manis legit yang disukai pelanggan. Pizza dibuat dari roti yang dipanggang terlebih dahulu, kemudian diberi olesan daging durian, keju, dan taburan kacang almond sebelum kembali dipanggang selama sekitar 10 menit.
Meski saat ini bukan musim durian, permintaan pizza tetap cukup tinggi. Terutama ketika akhir pekan, saat kawasan wisata Wonosalam dipadati pengunjung dari berbagai daerah. ”Penikmat cukup banyak. Kalau Sabtu Minggu, banyak warga luar kota berkunjung ke sini,” pungkasnya.
Dengan menyimpan stok durian di freezer, Intan tidak hanya menjaga kontinuitas produksi, tetapi juga memastikan wisatawan tetap bisa menikmati cita rasa durian Wonosalam kapan pun berkunjung. (ang/naz)












