Pemerintahan

Jembatan Desa Kudubanjar Jombang Segera Dibangun, Warga Gelar Syukuran

×

Jembatan Desa Kudubanjar Jombang Segera Dibangun, Warga Gelar Syukuran

Sebarkan artikel ini
AKRAB: Warga menggelar doa bersama menyambut pembangunan jembatan bailey di Desa Kudubanjar, Kecamatan Kudu, Jombang, Kamis (20/8). (Ainul Hafidz/Radar Jombang)

DesaKita.co – Penantian panjang warga Desa Kudubanjar, Kecamatan Kudu, Jombang untuk mendapatkan kembali akses jembatan di atas Kali Marmoyo mulai menemui titik terang. Setelah lebih dari enam tahun jembatan rusak, pembangunan jembatan bailey atau rangka baja segera dimulai.

Sebagai bentuk rasa syukur, warga menggelar doa bersama sekaligus bancaan sederhana di lokasi jembatan, Kamis (20/8). Warga berharap pembangunan jembatan berjalan lancar dan segera bisa kembali dimanfaatkan.

’’Doa bersama digelar secara swadaya warga sebagai ungkapan syukur atas terealisasinya pembangunan jembatan yang selama ini dinantikan,’’ kata Kades Kudubanjar, Gatut Kuswanto.

Baca Juga:  Jadi Rutinitas Setiap Ramadan, Dinsos Jombang Salurkan Bansos kepada 3.636 Warga Kurang Mampu

Bancaan diikuti warga dari dua dusun yang berada di sisi utara dan selatan jembatan. Dari sisi utara berasal dari Dusun Banjarejo. Sedangkan sisi selatan merupakan warga Dusun Ketapanglor.

Warga juga mengadakan acara tasyakuran. Secara swadaya, mereka menyembelih satu ekor kambing untuk melengkapi acara syukuran.

’’Sampai disembelihkan satu ekor kambing, karena rasa syukur warga atas terealisasinya jembatan ini,’’ imbuhnya.
Jembatan di atas Kali Marmoyo putus pada malam pergantian tahun 2020, tepatnya 31 Desember 2019.

Kini, setelah penantian panjang, pembangunan jembatan bailey segera direalisasikan. Pemdes Kudubanjar pun menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Jombang yang merealisasikan pembangunan jembatan tersebut pada tahun ini.

Baca Juga:  Komitmen Tingkatkan Pelayanan untuk Masyarakat, RSUD Jombang Gelar Forum Konsultasi Publik

”Pemdes sangat berterima kasih kepada Pemkab Jombang. Karena tahun ini sudah ada kepastian,” katanya.

Suasana doa bersama berlangsung sederhana dan penuh keakraban. Warga menggelar tikar tepat di samping jembatan. Mereka duduk bersila sembari bermunajat dan memanjatkan doa sebagai ungkapan rasa syukur atas dimulainya pekerjaan jembatan.

Usai doa bersama, warga kemudian makan bersama. Hidangan yang disiapkan secara swadaya itu disantap bersama-sama, membuat suasana di lokasi jembatan semakin akrab.

Baca Juga:  Berkas Belum Komplit, 7 Kelompok Ternak Penerima Bantuan Keuangan Pokir DPRD Jombang Belum Terima Bantuan

Salah satu warga, Priyono, mengatakan, selama jembatan utama putus, warga harus mengandalkan jembatan sementara yang dibangun secara swadaya. Namun, jembatan itu memiliki ukuran yang sempit sehingga tidak bisa dilalui kendaraan secara bersamaan dari dua arah.

”Setelah jembatan putus dulu itu warga swadaya membangun jembatan sementara, cuma sempit. Hanya bisa dilalui satu kendaraan, harus gantian kalau lewat,’’ kata Priyono.

Kondisi itu membuat akses warga selama bertahun-tahun tidak senyaman ketika jembatan utama masih berfungsi. (fid/jif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *