Pendidikan

Bekali Santri Bahasa Asing, Ponpes di Desa Kwaron Jombang Ini Gunakan Metode Bilingual Saat Maknai Kitab Salaf

×

Bekali Santri Bahasa Asing, Ponpes di Desa Kwaron Jombang Ini Gunakan Metode Bilingual Saat Maknai Kitab Salaf

Sebarkan artikel ini
ANTUSIAS: Santri di Ponpes Al Aqobah, Desa Kwaron, Kecamatan Diwek ngaji kitab salaf di pondok kemarin (22/3).

Desakita.co – Momentum Ramadan dimanfaatkan para santri untuk meningkatkan ilmu keagamaan.

Salah satunya, dilakukan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Aqobah, Desa Kwaron, Kecamatan Diwek.

Santri diajarkan memaknai kitab salaf dengan metode bilingual atau dua bahasa.

Pantauan di lokasi, tampak ratusan santri antusias belajar kitab salaf yang menerangkan tentang biografi Syekh Abdul Qadir Jailani.

Baca Juga:  Dosen Unipdu Jombang Jelaskan Ramadan Momentum Memperkuat Resiliensi Spiritual dan Moral

Dalam kegiatan itu, santri menyimak penjelasan dari ustad menggunakan laptop untuk memaknai kitab salaf.

Kemudian menerjemahkan dalam bahasa Inggris dan Jawa secara bersama-sama.

Ketua Yayasan Ponpes Al Aqobah Jombang Akhmad Kanzul Fikri menyampaikan, pengajaran metode bilingual merupakan metode penggunaan dua bahasa untuk mempercepat hafalan mufrodat atau kosa katanya.

”Jadi, para santri bisa mudah memahami gramatikal yang telah kita sisipkan dengan bahasa Jawa dan Inggris,” ujarnya.

Baca Juga:  Meriah! Desa Grogol, Kecamatan Diwek Gelar Pawai Budaya Awali Rangkaian Sedekah Desa

Selain itu, metode itu dilakukan untuk menyampaikan materi kurikulum dengan tujuan menguatkan kompetensi santri dalam berbahasa asing.

“Di pesantren ini kita mengkaji kitab kuning salaf yang dikombinasikan dengan metode yang lebih akseleratif,” jelasnya.

Metode tersebut diharapkan agar para santri kelak memiliki wawasan internasional jika sudah terjun di kalangan masyarakat.

Baca Juga:  2.089 Siswa Ikuti Gebyar Senam di Alun-Alun Cemara Desa Miagan Jombang, Peringatan HAB Kemenag ke-78

Selain itu, penggunaan bahasa asing untuk membekali para santri sehingga mereka punya nilai lebih ketika bersaing di kancah internasional.

“Kegiatan ini kita lakukan rutin satu minggu sekali, tak terkecuali di bulan Ramadan.

Dengan harapan, para santri memiliki wawasan internasional ketika sudah di luar pondok,” pungkasnya. (ang/naz)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *