PemerintahanPotensi

Unik! Warga Desa Galengdowo Jombang Bikin Barongan Jepaplok dari Kayu Waru Hutan

×

Unik! Warga Desa Galengdowo Jombang Bikin Barongan Jepaplok dari Kayu Waru Hutan

Sebarkan artikel ini
KREATIF: Tariske Valentine 23, warga Dusun Sanggar, Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam saat membuat kerajinan barongan, kemarin (30/7).

Desakita.co – KEKAYAAN sumber daya alam di lereng Gunung Anjasmoro dimanfaatkan dengan baik warganya. Salah satunya, Tariske Valentine 23, warga Dusun Sanggar, Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam yang sukses membuat kerajinan barongan jepaplok memanfaatkan bahan dari alam sekitar.

Setiap hari, suara gesekan amplas dan ketukan palu terdengar dari rumah sederhana di Dusun Sanggar. Di tengah tumpukan kayu waru krisik, Tariske fokus mengukir wajah barong dengan detail mata besar, mulut menyeringai, dan mahkota bergambar naga liman. ”Saya tidak hanya membuat topeng, tapi juga menjaga cerita dan filosofi yang hidup di baliknya,” ucapnya, Kamis (24/7).

Kecintaan Tariske pada barongan dimulai sejak ia duduk di bangku SMP. Ia sering menonton pertunjukan kesenian di wilayah tempat tinggalnya. Lambat laun ia lalu tertarik dengan karakter topeng yang dimainkan para penari. Saat teman sebayanya sibuk dengan gawai, ia memilih belajar mengukir secara otodidak. ”Saya belajar otodidak. Awalnya dari coba-coba. Lama-lama, saya makin paham bentuk, makna, sampai teknik pewarnaannya,” katanya.

Baca Juga:  Kreatif! Warga Desa Denanyar Jombang Sulap Gambas Kering Jadi Peralatan Mandi Bernilai Jual TInggi

Sejak memulai 2015 lalu, kini hampir 10 tahun ia menekuni pembuatan kerajinan topeng Barongan Jepaplok. Bagi Tariske, barong bukan sekadar seni pertunjukan. ”Barong itu ibarat raja berwatak jahat. Ia memakai jamang atau mahkota bergambar naga liman gabungan paksi, naga, dan gajah. Semua itu lambang kekuatan besar, tapi belum tentu digunakan dengan bijak,” ungkapnya.

Proses pembuatan satu unit barongan memakan waktu hingga satu bulan, tergantung tingkat kerumitan. Bagian paling sulit adalah kepala barong. ”Presisi jadi kunci. Kanan kiri harus simetris. Kalau tidak seimbang, karakternya bisa berubah,” bebernya.

Baca Juga:  Kunci Sukses Desa Kedungotok Jombang Raih Predikat Desa Lunas PBB-P2 Tercepat Kedua Kategori IV

Tariske hanya menggunakan kayu waru krisik yang didapat dari hutan. Karena ringan dan mudah dibentuk. Setelah diukir, barongan dicat dengan warna-warna mencolok agar mencuri perhatian saat dipentaskan. ”Dan tidak mudah pecah ketika dijadikan kerajinan,” pungkasnya.

Pesanan Tembus hingga Luar Jawa

PERTUNJUKAN kesenian barongan hingga kini banyak digemari warga. Tak ayal, produk barongan jepaplok buatan Tariske Valentine 23, warga Dusun Sanggar, Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam laris manis di pasaran. Pesanan tidak hanya datang dari Jombang, tapi juga luar Jawa.

Tariske mengatakan, harga satu barongan berkisar antara Rp 4 juta hingga Rp 7,5 juta, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Namun, harga itu belum termasuk kostum yang biasanya dipesan terpisah. Pemesanan datang dari berbagai daerah seperti Jombang, Kediri, Mojokerto, Kalimantan, hingga Sumatera. ”Ramainya di bulan Juni sampai Agustus. Banyak yang butuh untuk pentas. Saya senang, artinya barongan masih dicari dan dihargai,” tuturnya.

Baca Juga:  Selamat! Wapres Ma'ruf Amin Berikan Penghargaan UHC Awards kepada Pemkab Jombang

Tariske mengaku akan terus melestarikan kesenian barongan. Baginya, budaya harus dijaga, bukan sekadar dikenang. ”Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi? Budaya Jawa itu kaya. Sayang kalau cuma jadi pajangan museum,” pungkasnya.

Barongan jepaplok buatan Tariske tak hanya memperkuat identitas budaya lokal Wonosalam, namun juga menghasilkan cuan lumayan. ”Ya, omzet pada bulan bulan tertentu lumayan,” pungkasnya. (ang/naz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *