Desakita.co – Hujan dengan intensitas tinggi selama beberapa hari terakhir menyebabkan banjir merendam area persawahan di Dusun Ketapang Rejo, Desa Ketapangkuning, Kecamatan Ngusikan. Sekitar 25 hektare lahan padi milik petani setempat terdampak. Petani terancam gagal panen.
Ketua Kelompok Tani Dusun Ketapang Rejo, Supardi 54, mengatakan banjir bermula dari air hujan yang terus mengguyur wilayah tersebut hingga menggenang di area sawah. ”Awalnya hanya air hujan. Karena sangat lebat, akhirnya air itu mengumpul jadi satu di Ketapang Rejo. Tanaman padi ini ya terancam gagal panen,” ujarnya saat ditemui Selasa (14/1) sore.
Menurut Supardi, genangan sudah berlangsung selama empat hari terakhir. Kondisi diperparah hujan yang kembali turun pada malam sebelumnya. Ketinggian air terus bertambah dan belum menunjukkan tanda surut. ”Airnya semakin naik. Ini sudah empat hari, tadi malam juga hujan lagi,” katanya.
Ia menjelaskan, lahan terdampak ditanami padi dengan usia tanaman bervariasi, mulai 7 hari hingga 13 hari setelah tanam. Ia menilai tanaman tidak mampu bertahan karena terendam terlalu lama. ”Ini setelah tanam, umurnya ada yang 7 hari, 10 hari, sampai 13 hari. Akibatnya ya gagal panen,” jelasnya.
Akibat kejadian itu, Supardi memperkirakan kerugian cukup besar. Dengan biaya tanam dan perawatan awal sekitar Rp 5 juta per hektare, total kerugian petani diperkirakan mencapai Rp 85 juta. ”Kalau dihitung biaya per hektare sekitar Rp 5 juta. Itu sudah biaya tanam dan perawatan awal, tinggal mengalikan saja,” ungkapnya.
Ia menyebut, petani kini merasa resah karena belum ada penanganan maksimal. Banjir diduga tidak hanya dipicu hujan, tetapi juga kemungkinan luapan Sungai Marmoyo dari wilayah Kabuh yang bermuara di daerah itu. ”Katanya ada juga luapan dari Sungai Marmoyo. Kendalanya bisa jadi sungainya kurang lancar,” ujarnya.
Supardi menambahkan banjir di Dusun Ketapang Rejo kerap terjadi setiap musim hujan. Dalam sebulan, banjir bisa datang hingga tiga kali. Namun banjir kali ini dinilai paling parah karena air menggenang lama. ”Sudah bertahun-tahun langganan banjir. Tapi yang parah ya terakhir ini, airnya tenang dan awet tidak surut,” katanya.
Petani berharap ada bantuan pemerintah, baik untuk biaya tanam ulang maupun penanganan banjir. ”Kami berharap pemerintah bisa membantu, sedikit-sedikit untuk biaya supaya bisa tanam lagi. Kalau hanya pasrah ya putus di sini. Usaha tetap kami lakukan,” pungkas Supardi.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Jombang Wiku Birawa Felipe Dias Quintas tak menampik banjir di wilayah Kecamatan menggenangi areal sawah. Pemkab telah melakukan upaya penyedotan air. ”Kemarin pak camat bersama petani sudah menyedot air di sawah dengan pompa,” ujarnya.
Menurut Wiku, kondisi banjir saat ini sudah berangsur surut. Permukiman warga yang sebelumnya sempat tergenang juga sudah surut. ”Hari ini sudah surut. Permukman warga aman,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Jombang M Rony menyampaikan intensitas curah hujan tinggi diakui membuat sawah petani di wilayah Desa Ketapangkuning terendam banjir. ”Berdasarkan hasil teman teman POPT ada sekitar 25 hektare terdampak banjir,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Saat ini, pihaknya masih terus melakukan pendataan sembari mempersiapkan langkah penanganan pemulihan bagi petani terdampak. ”Saat ini terus kita lakukan pendataan sekaligus upaya bantuan,’’ pungkasnya. Sebelumnya, puluhan hektare areal sawah di Gedongombo, Kecamatan Ploso juga terendam banjir. Tanaman padi petani terancam rusak akibat berhari-hari terendam banjir. (ang/naz)












