Pemerintahan

Desa Kepuhdoko, Kecamatan Tembelang Jombang Lestarikan Tradisi Susuk Kalen, Ini Tujuannya

×

Desa Kepuhdoko, Kecamatan Tembelang Jombang Lestarikan Tradisi Susuk Kalen, Ini Tujuannya

Sebarkan artikel ini
JAGA TRADISI: Kepala Desa Kepuhdoko Inasaroh terjun bersama perangkat desa, Babinsa, dan poktan setempat saat membersihkan saluran air, Minggu (17/5).

Desakita.co – Pemerintah Desa (Pemdes) Kepuhdoko, Kecamatan Tembelang, terus menjaga tradisi susuk kalen yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur. Tradisi membersihkan saluran irigasi tersebut rutin dilakukan setiap memasuki musim tanam sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan pertanian warga.

Kepala Desa Kepuhdoko Inasaroh  mengatakan, dalam kegiatan yang digelar Minggu (17/5), para petani bersama perangkat desa, Babinsa, kelompok tani, dan warga setempat turun langsung membersihkan saluran air di area persawahan. Mereka juga melakukan gropyokan hama tikus. ”Kerja bakti digelar agar aliran air tetap lancar sekaligus wujud rasa syukur atas air yang melimpah,” bebernya.

Baca Juga:  Banjir Masih Mengancam, Afvoer Watudakon di Kecamatan Kesamben Bakal Dinormalisasi

Menurutnya, susuk kalen menjadi bagian dari pelestarian kearifan lokal yang masih dijaga hingga sekarang. Menurut dia, keberadaan saluran irigasi yang bersih sangat penting bagi kebutuhan warga, terutama untuk mengairi lahan pertanian. ”Selain menjaga kelancaran distribusi air, kegiatan tersebut juga bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat,” bebernya.

Baca Juga:  Dampak Sawah Banjir, Dinas Pertanian Jombang Temukan 202 Hektare Sawah Puso

Dalam pelaksanaannya, warga membersihkan tanaman liar, endapan lumpur, hingga sampah yang menyumbat saluran irigasi. Tradisi susuk kalen rutin digelar setiap tahun untuk memastikan saluran air tetap berfungsi optimal. Selain mencegah penyumbatan, kegiatan itu juga dinilai mampu menjaga ekosistem lingkungan sekitar sumber air.

Tidak hanya berdampak pada lingkungan, kerja bakti tersebut juga mempererat silaturahmi dan semangat gotong royong antarwarga desa. ”Berfungsinya saluran air secara optimal, mampu menjaga ekosistem dan kelestarian lingkungan serta membantu para petani dalam bercocok tanam,” tandas Inasaroh.

Baca Juga:  Menteri Lingkungan Hidup Tinjau Pengelolaan Limbah Tahu di Desa Ngumpul Jogoroto

Tradisi susuk kalen juga menjadi simbol kuatnya solidaritas sosial masyarakat desa. Nilai gotong royong, kepedulian lingkungan, dan kebersamaan yang terkandung di dalamnya dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga karakter dan jati diri masyarakat. (dwi/naz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *