Desakita.co – Sebagian petani di wilayah utara Sungai Brantas yang terdampak rusaknya Dam Karet Jatimlerek mulai bisa memulai tanam.
Namun demikian, mengingat luasan lahan pertanian yang terdampak ditaksir mencapai sekitar 1.700 hektare, maka petani tetap waswas pasokan air akan tercukupi.
Mengingat hanya mengandalkan dua unit pompa air sehingga harus menunggu giliran dengan petani di wilayah lain yang sama-sama terdampak.
Salah satunya terpantau di Dusun Jatitambakrejo, Desa Karangmojo, Kecamatan Plandaan. Sebagian sawah sudah teraliri air dari aliran irigasi Jatimlerek.
”Mulai hari ini (kemarin) sudah mengalir lagi, tapi sekarang gantian. Pengairannya digilir,” kata Sunyoto salah seorang petani.
Dikatakan, dalam kondisi normal air dari Sungai Brantas mengalir ke intake yang mengalir ke irigasi Jatimlerek bisa kontinu.
”Sekarang dari Kali Brantas itu giliran, tiga hari ke arah timur, tiga hari berikutnya mengalir ke barat,” imbuh dia.
Sawahnya, lanjut dia, mendapat giliran yang pertama.
”Sebenarnya sudah siap tanam, bibitnya juga sudah tinggi usia 30 hari.
Berhubung kemarin belum ada air, sekarang baru bisa mulai ditanami,” kata Sunyoto.
Meski sudah bisa memulai tanam, Sunyoto mengaku tetap waswas kebutuhan irigasi ke sawahnya bakal tercukupi jika kerusakan Dam Karet Jatimlerek tidak kunjung selesai diperbaiki.
”Mudah-mudahan nggak sampai kekurangan air, jelas pengaruh ke hasil panen,” ujar Sunyoto.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Jombang Bayu Pancoroadi melalui Kabid Sumber Daya Air (SDA) Sultoni mengakui, saat ini suplai pengairan sawah digilir.
Sesuai dengan kesepakatan pertemuan lintas sektor beberapa waktu lalu.
”Jadi, pola yang dipakai model pembagian atau digilir, karena debitnya tidak seperti kondisi normal,” kata Sultoni.
Dikatakan, itu dilakukan agar aliran air bisa menjangkau area yang lebih luas.
”Ketika normal itu pengairan di hulu kontinu mengalir secara terus.
Pembagian atau gilirnya hanya di petak sawah saja yang di bawah,” imbuh dia.
Langkah itu dilakuan, menurut dia, lantaran kondisi air yang mengalir ke intake irigasi hanya terbantu dua pompa air.
”Karena saat ini tidak mungkin, mau tidak mau di hulunya dimodel gilir.
Teman-teman UPT juga sudah mengawal itu untuk penjadwal gilir ke barat dan timur,” kata Sultoni.
Seperti diberitakan sebelumnya, keluhan sejumlah petani akibat jebolnya satu pintu air Dam Karet Jatimlerek Sungai Brantas Jombang, yang ada di Desa Jatimlerek, Kecamatan Plandaan mendapat respons dari Pj Bupati Jombang Sugiat.
Orang nomor satu di Pemkab Jombang langsung turun lapangan meninjau lokasi jebolnya Dam Karet, Kamis (16/05).
Mengingat dampaknya yang besar terhadap nasib para petani, Sugiat mendorong agar dilakukan percepatan perbaikan kerusakan pintu dam sehingga suplai air ke lahan pertanian warga kembali normal.
untuk sementara sudah dilakukan penanganan darurat menggunakan dua mesin pompa.
”Sebagaimana diinformasikan sebelumnya, pompa air dari PU SDA provinsi sudah ada di Dam Jatimlerek dengan kapasitas 500 liter/detik. 1 buah pompa air dari PU SDA provinsi dengan kapasitas 300 liter/detik.
Baca Juga: Dampak Pintu Dam Karet di Desa Jatimlerek Jombang Rusak, 150 Hektare Sawah Terancam Nganggur
Untuk pompa air dari BBWS dengan kapasitas 400 liter/detik akan trial sambil menunggu kisdam di intake Jatimlerek.
BBM sudah disiapkan untuk men-support pompa air dari BBWS dengan kebutuhan 25 liter pertama dan akan beroperasi 12 Jam sehari, karena pemakaian maksimal 12 jam.
Sedangkan untuk 2 pompa dari PU SDA provinsi BBM disediakan oleh pemerintah Provinsi Jawa Timur,” jelas Sugiat. (fid/naz/ang)












