Desakita.co – Naryama Sinatriya, siswa kelas 11 MAN PK MAN 4 Mambaul Maarif Denanyar Jombang sukses meraih juara 1 Musabaqah Tarikh Islam (MTI) atau olimpiade Sejarah Kebudayaan Islam yang dilaksanakan di UIN Sunan Ampel Surabaya (7/8) lalu.
Kecintaannya pada sejarah sudah ia rasakan sejak kecil. Baginya, sejarah merupakan hiburan yang tidak pernah membosankan. ”Ada atau tidak adanya olimpiade ini, saya memang sudah terbiasa membaca buku-buku sejarah sejak dulu, karena bagi saya belajar sejarah itu hiburan,” kata warga Kecamatan Pesantren Kota Kediri ini.
Bagi Naryama, sejarah bukan hanya mata pelajaran, melainkan sebuah semangat yang dia pelajari dengan sungguh-sungguh. ”Sejak SMP, saya mulai serius belajar dengan menulis poin-poin penting dari buku-buku sejarah yang saya baca. Metode ini memudahkan saya memahami materi lebih dalam,” ungkap remaja kelahiran Kediri 12 November 2008 tersebut.
Untuk persiapan lomba MTI, Naryama memanfaatkan waktu liburan untuk membeli berbagai buku sejarah, mulai dari sejarah Umaiyyah, Abasiyah, hingga Utsmani. Menulis ulang rangkuman dari setiap buku yang dibaca menjadi cara efektifnya untuk memahami materi lebih dalam.
”Sebab sebelum liburan, saya telah mendapatkan informasi dari guru kalau saya akan ikut olimpiade,” jelas santri asrama Hasbullah Said MAN PK MAN 4 Ponpes Mambaul Maarif Denanyar Jombang ini.
Selama liburan, Naryama mempersiapkan diri secara maksimal mempelajari buku yang telah ia beli untuk mempersiapkan olimpiade.
Kecintaannya terhadap sejarah yang ditanamkan kedua orang tua Aris Setyobudi dan Dian Surya Handayani sejak kecil membuatnya menjadi pribadi yang selalu antusias mempelajari sejarah. Tak jarang, dongeng-dongeng tentang sejarah ia dengar langsung dari kedua orang tuanya.
”Saya suka membaca sejarah sejak kecil, orang tua saya juga suka bercerita tentang sejarah, awal saya suka sejarah setelah membaca sejarah Republik Romawi yang pecah menjadi kekaisaran,” ujar Naryama.
Orang tuanya begitu mendukung, seperti memfasilitasi tontonan di Youtube, hingga support membelikan kebutuhan buku yang mengulas soal sejarah, utamanya tentang sejarah kebudayaan Islam. Dukungan tersebut menjadi salah satu kunci sukses Naryama dalam meraih juara pertama.
Sebelum mengikuti MTI, ia juga mengikuti pembinaan intensif selama satu bulan dari MAN 4 Jombang. Karena sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari, Naryama fokus untuk memperdalam materi yang sudah dirangkum dan terus mengulangnya. ”Karena selama liburan full mempersiapkan olimpiade, jadi selama pembinaan madrasah hanya murojaah saja, mempelajari kembali rangkuman yang sudah saya buat, jelasnya.
Saat ini, Naryama disibukkan dengan kegiatan-kegiatan belajar saja. Kegiatan asrama berakhir pukul 21.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan Takror atau mengulang pelajaran diniyah hingga pukul 22.30 WIB.
Kemudian dilanjutkan kegiatan belajar mempersiapkan olimpiade mulai pukul 22.30-23.30 WIB. Baru kemudian istirahat dan setelah itu belajar dilanjutkan pagi hari pukul 03.30 WIB.
”Alhamdulillah, Asrama mendukung dengan mengizinkan bawa laptop tapi kalau menggunakan harus izin dulu,” jelasnya.
Ingin Membuat Karya Buku
MESKI sudah berhasil menorehkan banyak prestasi, Naryama tak pernah berpuas diri. Ia bercita-cita untuk melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Fokus studinya nanti adalah di bidang humaniora, sebuah jurusan yang menurutnya dapat menggabungkan kecintaannya terhadap sejarah dan dunia praktis.
”Saya ingin kuliah di UGM karena saya merasa ini adalah tempat yang tepat untuk menggali lebih dalam ilmu sejarah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Naryama.
Selain ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi, Naryama juga memiliki impian untuk menulis dan menerbitkan sebuah buku. Yaitu buku yang berisi rangkuman dan pemahaman tentang sejarah. Dengan menulis, dia ingin bisa membagikan pengetahuan kepada orang lain. Keinginannya ini berawal dari kebiasaannya merangkum pelajaran dan buku yang dibaca, yang menurutnya bisa menjadi bahan utama untuk bukunya kelak.
Naryama yang dulu sekolah di SDN Banjaran 4 Kota Kediri dan MTsN 2 Kediri, mengaku sempat kesulitan beradaptasi dengan kehidupan asrama dan mengimbangi pengetahuan teman-temannya di bidang agama apalagi ia mengambil spesifikasi PK (program keagamaan). Namun Naryama terus berusaha memperbaiki diri dengan cara belajar.
Hasilnya, dia berhasil menyesuaikan diri dan menjadikan persaingan di kelas sebagai motivasi untuk terus belajar lebih keras.
”Dulu di MTs, saya bisa menguasai kelas, tapi di MAN PK persaingannya jauh lebih ketat. Itu sempat membuat saya down, tapi semakin termotivasi untuk belajar,” ungkap remaja yang suka membaca dan nonton film genre politik tersebut.
Selain juara MTI 2025 tingkat nasional, Naryama juga pernah ikut KSM (kompetisi sains madrasah) bidang Biologi tahun 2023, ia meraih juara harapan 2 tingkat Kota Kediri. (wen/ang)






