Uncategorized

Harga Pupuk Naik, Pemdes Morosunggingan Jombang Cari Solusi Lewat Kajian Akademik

×

Harga Pupuk Naik, Pemdes Morosunggingan Jombang Cari Solusi Lewat Kajian Akademik

Sebarkan artikel ini
KOLABORASI: Kepala Desa Morosunggingan Sunarjo menerima kunjungan siswa dan pembimbing dari MA Unggulan Darul Ulum Rejoso, Selasa (4/8) siang.

JOMBANG – Pemerintah Desa (Pemdes) Morosunggingan, Kecamatan Peterongan, membuka kolaborasi dengan kalangan akademisi untuk memperkuat kebijakan di sektor pertanian. Salah satunya dengan menerima kunjungan siswa dan pembimbing MA Unggulan Darul Ulum Rejoso yang melakukan kajian mengenai dampak fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap kesejahteraan petani, Selasa (4/8).

Kepala Desa Morosunggingan Sunarjo mengatakan, pihaknya menyambut baik kerja sama tersebut. Menurut dia, hasil kajian akademik dapat menjadi masukan dalam merumuskan kebijakan yang berpihak kepada petani. ”Mereka meminta bantuan dan bimbingan sehubungan dengan pelaksanaan tugas akhir, serta penjelasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pembahasan tersebut,” ujarnya.

Baca Juga:  Kerusakan Semakin Berat, Jalan Cor Nasional di Kecamatan Peterongan Jombang Bakal Dibongkar Lagi, Ini Penjelasannya

Dalam penelitian itu, para siswa menganalisis dampak fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terhadap kesejahteraan petani di Desa Morosunggingan. Sunarjo menegaskan, peningkatan kesejahteraan petani menjadi salah satu prioritas pemerintah desa. Karena itu, diperlukan indikator yang mampu menggambarkan kondisi riil petani, salah satunya melalui Nilai Tukar Petani (NTP). ”Perlu ditentukan Nilai Tukar Petani sebagai indikator pendekatan sebagai perbandingan antara indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar oleh petani,” tandasnya.

Baca Juga:  Pimpin Apel Kerja ASN, Bupati Jombang Ingatkan Kekompakan dan Profesionalisme

Menurut dia, indikator tersebut penting sebagai dasar dalam menentukan arah kebijakan pembangunan sektor pertanian. Terlebih, mayoritas masyarakat Desa Morosunggingan menggantungkan mata pencaharian pada sektor tersebut.

Sunarjo menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah turut berdampak pada kenaikan harga pupuk dan meningkatnya biaya produksi pertanian. Kondisi tersebut secara langsung dirasakan para petani. ”Dalam konteks ini, para petani akan merasakan dampaknya secara langsung,” ujarnya.

Baca Juga:  Bupati Warsubi Siapkan Rp 4,5 Miliar, Honor RT dan RW di Jombang Bakal Dicairkan Tahun Ini

Dia menambahkan, pelemahan rupiah terjadi ketika kondisi ekonomi masyarakat perdesaan belum sepenuhnya pulih dan masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari ketergantungan terhadap barang impor, rendahnya nilai tambah hasil pertanian, terbatasnya akses pembiayaan produktif, hingga lemahnya infrastruktur logistik. ”Petani merupakan kelompok pertama yang merasakan dampaknya. Harga pupuk nonsubsidi serta pestisida melonjak karena sebagian bahan bakunya berasal dari impor. Begitu pula suku cadang alat pertanian yang kebanyakan menggunakan komponen luar negeri,” pungkasnya. (dwi/naz)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *