Lifestyle

Mental Juara Jadi Kunci, Sudijono Ajak Siswa Berani Melangkah Tanpa Takut

×

Mental Juara Jadi Kunci, Sudijono Ajak Siswa Berani Melangkah Tanpa Takut

Sebarkan artikel ini
Kepala SMAN Bandarkedungmulyo, Jombang Sudijono SPd MAP. (Achmad RW/Radar Jombang)

DesaKita.co – Bagi Sudijono SPd MAP, hidup bukan soal menyiapkan rencana yang serba-pasti.

Ada satu prinsip sederhana yang ia pegang sejak muda dan terus ia tularkan kepada murid-muridnya, yakni berani melangkah tanpa takut.

Ia menyebutnya dengan istilah bonek (bondo nekat) dan satu pesan penting lain, jangan minder.

”Anak-anak itu sering takut kuliah karena biaya. Saya selalu bilang, bonek saja. Jangan kebanyakan mikir,” ujar Sudijono.

Prinsip itu bukan sekadar slogan. Ia lahir dari pengalaman hidupnya sendiri. Saat kuliah di Surabaya dengan uang saku pas-pasan, Sudijono tidak punya banyak pilihan.

“Rp 25 ribu itu sebulan. Ya dicukup-cukupkan, sambil nekat jadi guru privat,” kata Kepala SMAN Bandarkedungmulyo, Jombang ini.

Baca Juga:  Wujudkan SDM Koperasi Kompeten, Dinkop UM Gelar Jombang Bimtek untuk Pembina Koperasi

Keberanian serupa ia tunjukkan ketika menerima penugasan ke Maluku. Tanpa informasi detail, tanpa internet, ia berangkat hanya bermodal peta kertas dan keyakinan.

”Dasarnya cuma peta. Tapi saya yakin, kalau niatnya baik, pasti ada jalan,” tuturnya.

Namun, keberanian ala Sudijono bukan nekat tanpa arah. Sejak SMA, ia membingkai setiap langkah dengan nilai spiritual.

Kebiasaan membaca Surat Al-Waqi’ah yang ia jalani sejak remaja terus ia pertahankan hingga kini. ”Saya yakin itu membawa ketenangan dan petunjuk,” ujarnya.

Baca Juga:  Libatkan Dalam Pendampingan Desa, Cabup Jombang Warsubi Minta TPP Kawal Program Pemerintahan

Dalam memimpin sekolah, prinsip hidup tersebut tercermin jelas. Bagi Sudijono, kepala sekolah bukan sekadar pengelola administrasi, melainkan penanggung jawab masa depan anak-anak.

”Standar saya sederhana. Anak-anak harus kuliah. Negeri atau swasta tidak masalah. Yang penting jangan berhenti sekolah,” tegasnya.

Ia juga menaruh perhatian besar pada persoalan mental siswa, terutama rasa minder akibat latar belakang keluarga. ”Jangan takut biaya, jangan takut orang tua. Yang penting punya kemauan,” katanya.

Ke depan, Sudijono menyimpan visi yang lebih personal. Ia ingin merawat potensi siswa penghafal Alquran di sekolah negeri—potensi yang menurutnya sering terabaikan karena tak memiliki wadah khusus.

Baca Juga:  Salurkan Bantuan Hibah, Dinas Peternakan Kabupaten Jombang Sukseskan Program Berdayakan Peternak Rakyat

”Kalau anak-anak hafidh ini tidak dirawat, hafalannya bisa putus. Saya ingin bikin komunitas sendiri,” ujarnya.

Tak berhenti pada wacana, ia berencana turun langsung membina. ”Insya Allah saya sendiri yang menangani. Mudah-mudahan sekolah ini dapat berkah,” katanya.

Di usia yang tak lagi muda, Sudijono justru memulai tantangan baru untuk dirinya sendiri: menghafal Alquran. ”Masa tua ini ya tetap berusaha,” ucapnya pelan.

Baginya, hidup adalah tentang keberanian melangkah, keikhlasan menjalani, dan keyakinan bahwa setiap niat baik, sekalipun dimulai dengan (bonek) akan menemukan jalannya sendiri. (riz/naz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *