Desakita.co – Mengajar sudah menjadi aktivitas sehari-hari yang dijalani Lina Dwi Setyawati SPd guru SMAN 3 Jombang asal Desa Pulolor Kecamatan Jombang.
Ia terjun ke dunia pendidikan sejak 1989 hingga sekarang. Lina merupakan sosok guru berprestasi.
Ia pernah menyabet juara 1 mata pelajaran Kimia jenjang SMA pada Seleksi Olimpiade Sains Nasional (OSN) untuk guru tingkat Kabupaten Jombang tahun 2014.
Semangat itu ia tularkan pada siswanya.
”Semua ini berkat kerja tim yang solid, guru dan siswa SMAN 3 Jombang itu sangat hebat, semuanya semangat belajar dan tidak pantang menyerah,” ungkapnya.
Lina juga terus memberikan memotivasi siswanya agar bisa berprestasi.
Dibuktikan melalui OSN tahun ini, SMAN 3 Jombang menduduki peringkat 1 tingkat SMA dan MA negeri setelah delapan siswanya terpilih ikut OSP (Olimpiade Sains Provinsi).
”Di jajaran lembaga negeri kami yang terbanyak peringkat satu, tahun ini delapan, tahun lalu hanya dua,” jelas ketua ekstrakurikuler OSN SMAN 3 Jombang tersebut.
Hal itu semakin membanggakan karena buah dari kerja keras siswa dan guru, tanpa melibatkan pihak ketiga dalam pembinaan.
Motivasi Lina menjadi salah satu motor penggeraknya, yang terus meminta siswa agar terus belajar dan tidak mudah menyerah.
”Keberhasilan ditentukan oleh kerja keras kita sendiri, kalau sedang pembinaan saya memang tegas, kasih soal sebanyak-banyaknya, belajar tanpa ampun, hasilnya, siswa sendiri yang merasakan,” ungkapnya.
Lina terkenal sebagai guru yang tegas dan dekat dengan siswa.
Ciri khas Lina adalah suka mencubit ketika siswa melanggar aturannya.
Bukan sebagai bentuk kekerasan, namun untuk membentuk karakter disipilin dan tanggung jawab siswa.
Baca Juga: Cerita Semani, Guru Bahasa Inggris SMAN 1 Jombang Berhasil Tuntaskan S2 dari Beasiswa Ditjen Dikti
”Itu yang suka diingat anak-anak, bu Lina sing njiwitan, itu sebagai konsekuensi ketika siswa tidak mengerjakan tugasnya dan tidak disiplin dalam kelas saya,” ungkap wanita kelahiran Surabaya, 19 Februari 1965 ini.
Menjelang masa purnatugas, ia terus memotivasi siswanya untuk gigih belajar dan menggapai cita-cita setinggi mungkin, sama seperti Lina, yang pantang menyerah dalam belajar.
Sebagai wanita, belajar adalah hal yang sangat penting. Sebab, sosok ibu adalah panutan untuk anak-anaknya.
Apalagi, Lina merupakan sulung dari enam bersaudara.
”Saya harus menjadi teladan yang baik bagi adik-adik saya, bagi anak-anak saya,” ungkapnya.
Ia semakin beruntung ketika kegigihannya dalam belajar mendapatkan dukungan penuh dari sang suami.
Semangatnya menekuni keterampilan di bidang batik ecoprint, juga tak lepas dari support suami.
”Mulai dari support biaya workshop, hingga workshop di luar kota yang selalu ditemani, mencari kain, hingga mengerjakan ecoprint
. Tanpa dukungan suami, saya tidak mungkin ada di titik ini,” pungkasnya. (wen/naz)






