Di dunia literasi, nama Nurul Swandari MPd tak bisa dilepaskan. Kepala Perpustakaan MTsN 3 Jombang ini terus menorehkan prestasi sekaligus melahirkan inovasi. Setelah meraih predikat Terbaik 6 Tenaga Kependidikan Inovatif pada ajang Anugerah GTK Tahun 2025 yang digelar Kantor Wilayah Kemenag Jatim, kini ia kembali melangkah dengan karya-karya baru.
”Alhamdulillah tahun ini dapat lagi, tahun 2024 terbaik 4 GTK inovatif,” ujar alumnus Universitas Negeri Malang Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia itu.
Dalam kompetisi Kanwil Kemenag Jatim, Nurul tampil bukan sebagai guru, melainkan tenaga kependidikan. Ia mengusung gagasan Pojok Digital TKA (Tes Kemampuan Akademik), sebuah ruang digital berisi soal dan video pembahasan TKA. ”Sekarang kan anak-anak sedang dipersiapkan TKA. Jadi selain membaca buku anak-anak juga dapat memanfaatkan pojok digital TKA,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, Nurul kini tengah bersiap mengikuti lomba GTK tingkat Kabupaten. Ia pun terus menelurkan best practice baru. ”Saya masih baru muncul ide, tali ide saya agak melenceng karena saya guru bahasa Indonesia tapi saya mengangkat tentang Bahasa Inggris,” ungkapnya. Ide itu lahir setelah ia dipercaya menjadi pembina OMI Sains pada Agustus lalu. Nurul pun menciptakan aplikasi pengujian pelafalan Bahasa Inggris yang diberi nama Elsa Speak, Solusi Cerdas Belajar Bahasa Inggris.
Sebagai guru Bahasa Indonesia di MTsN 3 Jombang, Nurul juga mengemban amanah tambahan sebagai Kepala Perpustakaan sekaligus Ketua Literasi. ”Karena MTsN 3 Jombang 2017 dikukuhkan sebagai madrasah literasi,” tuturnya.
Sejak 2017, ia konsisten membina kepenulisan siswa. Hasilnya, lahir 13 buku antologi siswa dan satu karya antologi guru. ”Yang agak sulit ini guru, karena mungkin waktunya terbatas ya,” ujarnya.
Perjalanan panjang Nurul dimulai dari pengabdian sebagai GTT di MTsN 1 Jombang pada 1999–2003, almamaternya saat SLTP. Ia kemudian mengajar di MAN 2 Nganjuk sejak 2003 dan resmi diangkat sebagai CPNS pada 2007. Di sana, ia merintis majalah sekolah bertajuk OASE, terbit setahun sekali dengan total lima edisi (2010–2015). Ia juga sempat menjadi pembina ekstrakurikuler teater. ”Satu kali tampil di Kabupaten dengan mengangkat besut dan rusmini,” kenangnya.
Saat bertugas di MAN 2 Nganjuk, Nurul menempuh pendidikan S2 di Unmuh Surabaya jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Kini, ia tengah menyelesaikan studi S3 di Universitas KH Abdul Chalim (UAC) Mojokerto. ”Sekarang masih mengerjakan disertasi,” ujarnya.
Gemar Membaca sejak Dini, Kini Sudah Karyakan Tujuh Buku
Literasi sudah medarahdaging pada diri Nurul. Sejak kecil buku sudah menjadi separuh jiwanya. Gemar membaca buku fiksi hingga sekarang senang menyelamatkan ilmu filsafat.
”Kalau buku saya dipinjam teman, rasanya seperti meminjam separuh nyawa saya,” ungkap Nurul.
Kecintaannya pada dunia literasi memang ada sejak kecil. Nurul kecil merupakan anak yang gemar membaca buku. Bermula ketika orang tuanya memaksanya untuk menghabiskan satu buku untuk mendapatkan reward, saat Nurul masih duduk di bangku kelas 3 SDN Kepuhkembeng 1 Kecamatan Peterongan. ”Awalnya memang terpaksa karena reward tapi lama-lama saya yang kecanduan sendiri dengan aktivitas membaca,” ungkap Nurul.
Keterbatasan ekonomi tidak menghambat kegemarannya dalam membaca. Nurul bahkan sering kali membeli buku bekas di pasar loak. Salah satu bacaan kesukaannya adalah Majalah Bobo.
Baginya membaca tidak harus menunggu buku baru. Selama buku masih bisa dibaca, ia tetap antusias untuk membaca, semata-mata mengobati dahaganya dengan ilmu. ”Bahkan sampai saya menjadi mahasiswa, saya sering membaca koran bekas atau majalah bekas bungkus nasi yang saya beli. Sambil baca sambil makan,” ungkapnya.
Kebiasaan itu ia bawa hingga sekarang. Meski aktivitasnya padat dan fisiknya tidak lagi sekuat dulu, namun ia tetap menyempatkan waktu untuk membaca, minimal satu atau dua lembar sehari. ”Karena terbentur kesibukan, waktu, dan fisik yang mudah lelah tidak sama seperti saat masih muda dulu, jadi sekarang mewajibkan minimal satu atau dua lembar saja per hari,” kata ibu tiga anak ini.
Begitu juga kepada anak-anak. Kebiasaan membaca ia terapkan hanya saja ia tidak memaksakan. Hanya berupaya menumbuhkan kecintaan anak-anaknya pada dunia literasi. ”Sepertinya kesenangan membaca muncul kepada anak bungsu, memang saya tidak memaksakan anak-anak saya menjadi orang seperti saya,” jelasnya.
Kegemarannya membaca juga membuatnya suka menulis. Sedikitnya sudah ada tujuh buku yang ia tulis sendiri, dengan judul Gelang Gendhuk Centini (2019), Lelaki Berdada Puisi (2020), Sukses Akreditasi Perpustakaan (2021), Merangkai Puisi Semaris (2021), Wacalibem Seri Kelola Kecerdasan Anak, Studi Pengembangan Best Practice (2022), Teras Puisi (2023), dan Dialog Bahasa (2024). ”Sekarang mengerjakan buku kedelapan baru 30 persen tentang Manajemen Pendidikan Islam sebagai salah satu syarat kelulusan S3 selain jurnal,” jelasnya.
Momen pandemi Covid-19 ia juga produktif menulis. Tulisannya terbit di 23 judul buku antologi. ”Karena pandemi di rumah banyak waktu untuk menulis. Sekarang merambah ke jurnal juga,” jelasnya.
Di rumahnya Dusun Tambakberas Gang 4 Desa Tambakerjo, Kecamatan Jombang, ia memiliki perpustakaan pribadi. Koleksi bukunya ia simpan di satu kamar khusus. Banyak genre yang ia koleksi. ”Kalau dulu masih suka genre fiksi, tapi sekarang mulai bergeser, saat ini lagi seneng filsafat, mungkin bergeser menyesuaikan kebutuhan ya. Termasuk menyesuaikan usia juga,” candanya.
Untuk menambah koleksinya dan memenuhi kebutuhan membacanya, tak jarang ia healing ke toko buku, ke pameran-pameran buku yang digelar. Membeli beberapa buku baru untuk memenuhi kebutuhannya yang selalu haus akan ilmu. Kegemarannya membaca membawanya manfaat dalam kehidupannya sehari-hari. Seperti ketika ia menyikapi sebuah masalah. ”Sebuah masalah tidak akan menjadi beban yang sangat berat bagi saya,” ungkapnya.
Kegemarannya membaca juga membuatnya percaya diri. Sebagai guru Bahasa Indonesia untuk memberikan motivasi kepada siswanya untuk gemar membaca dan menulis. ”Kalau ingin bisa menulis harus gemar membaca,” tandasnya. (wen/naz)






