Desakita.co – Tidak hanya dapat cuan, tapi pekerjaan Muhammad Aziz Ari Mustofa, warga Dusun Dungmangu, Desa Kedunglosari, Kecamatan Tembelang Kabupaten Jombang ini bisa membawanya keliling dunia.
Itu setelah Aziz bekerja di sebuah kapal pesiar milik salah satu perusahaan di Italia.
”Bekerja di kapal pesiar, saya belajar banyak, terkait kultur, budaya dari satu negara ke negara lain,” kata Aziz, alumnus SMKN 1 Jombang.
Aziz mulai bekerja di kapal pesiar sejak tahun 2023. Putra pasangan Slamet dan Mujayanah memutuskan keluar dari zona nyaman.
Setelah bekerja di JW Marriot Hotel Surabaya, Shangrila Hotel Surabaya, ia mencoba pengalaman baru dengan belajar di LTE Cruise untuk bekerja di kapal pesiar sebagai Housekeeping Steward.
”Ya selama ini masih bergelut di bidang perhotelan saja,” jelasnya.
Kapal pesiar dipilihnya karena di sana ia dapat mengenal dan belajar kultur berbagai negara.
Apalagi belajar di kapal pesiar, ia bisa keliling dunia, tentu saja gaji berupa dolar membuatnya semakin antusias untuk menjajaki pengalaman baru itu.
Untuk bekerja di kapal pesiar, di Indonesia ada lima agency besar penyalur pekerja ke Kapal Pesiar.
Sebelumnya, harus rajin googling untuk mencari lowongan kerja di sosial media masing-masing agency.
Setelah mendaftar, akan ada dua kali interview. Setelah dinyatakan lulus seleksi, dokumen yang diperlukan harus dilengkapi sebelum keberangkatan.
”Catatan pentingnya, pengalaman kerja minimal satu tahun di bidang perhotelan,” jelas alumnus SDN Kedunglosari 1 dan SMPN 2 Tembelang.
Selain itu, salah satu bekal penting yang harus disiapkan adalah kemampuan berbahasa Inggris.
”Setidaknya bekerja di luar negeri sudah ada persiapan, minimal kemahiran berbahasa Inggris untuk mempermudah komunikasi,” ungkapnya.
Persiapan yang lain adalah dokumen penting, seperti paspor, juga persiapan mental.
Dalam hal makanan, biasanya pekerja Indonesia membawa bekal berupa sambal agar makanan di kapal pesiar tidak terlalu hambar.
Bisa keliling dunia gratis sambil bekerja, merupakan nilai plus dari pekerjaan Aziz, termasuk bisa memiliki banyak teman dari berbagai negara, sehingga bisa sharing tentang bahasa hingga budaya masing-masing.
’’Digaji dolar itu juga bagian dari sukanya,” jelas pria yang hobi bulutangkis ini.
Melalui kerja di kapal pesiar, ia bisa mendaparkan banyak hal, termasuk bisa men-support keuangan keluarga di Jombang, membeli sepeda motor, hingga melakukan renovasi rumah.
Hanya saja, di waktu-waktu tertentu, ia juga merasakan rindu kepada orang tua dan kampung halaman.
Di balik gaji yang tinggi Aziz juga harus bekerja 12 jam tanpa hari libur. Selama di luar negeri, ia tetap menjalani kewajibannya sebagai umat muslim.
Yaitu menjalani puasa Ramadan. Di kapal pesiar juga disediakan menu sahur bagi yang berpuasa, bahkan bisa tarawih jika pimpinannya mengizinkan.
Mengenai waktu berbuka dan sahur, hampir sama dengan Indonesia, yaitu sahur jam 2-4 pagi, sementara waktu berbuka sudah disiapkan jadwal selama berlayar.
”Biasanya yang puasa pekerja dari Indonesia, ada juga yang dari India dan Filipina,” kata pria kelahiran 12 Januari 2003 itu. (wen/naz/ang)












