Desakita.co – Kegiatan mencari ikan di sungai menggunakan perahu tradisional sudah menjadi tradisi nenek moyang sejak dulu dan sampai sekarang tetap eksis. Peluang ini ditangkap Wahib dengan mengembangkan usaha pembuatan sampan (perahu kecil) dari kayu. Perlahan produk sampan buatan warga Desa Turipinggir, Kecamatan Megaluh kian eksis.
Wahib sudah sejak lima tahun terakhir menekuni usaha pembuatan sampan. ”Sebelumnya saya ikut orang di Nganjuk, buat perahu tambang. Akhirnya buat sendiri, tapi perahu kecil untuk cari ikan,” kata Wahib kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Selain Wahib, beberapa warga lainnya juga menekuni usaha pembuatan perahu yang sama. Rata-rata berbahan dasar kayu meranti. ”Dulu memang banyak pakai kayu jati, karena awet. Sekarang jatinya kebanyakan jati kebun, bukan dari hutan,” imbuh dia sembari tertawa.
Baca Juga: Harga Jual Bersaing, Warga Desa Wonosalam Jombang Tertarik Budi Daya Cacing Tanah, Ini Jenisnya
Kebutuhan kayu tergantung ukuran perahu. Semakin besar ukuran perahu, kebutuhan kayu semakin banyak. ”Satu perahu dengan panjang 6 meter butuh lebih dari 4 lembar kayu dengan lebar setiap lembarnya itu 2 centimeter,” tutur lelaki berusia 51 tahun ini.
Potongan kayu itu kemudian dipotong kembali menjadi beberapa bagian. Masing-masing dengan panjang 4 meter dan 2 meter. Ini dilakukan untuk sambungan. ”Jadi, 2 meter ini untuk sambungannya, sementara 4 meter untuk tubuh perahunya,” ujar Wahib.
Bagian ujung kayu dengan panjang 2 meter lalu dibakar. Cara ini dilakukan agar kayu mudah dibengkokkan. Sebab, masing-masing ujung perahu bentuknya lancip dan membengkok ke atas. ”Karena buat sambungannya, jadi tubuh perahu dengan ujungnya tidak lurus,” tutur dia.
Biasanya dia dibantu anggota keluarganya untuk proses pembakaran. Ketika seluruhnya siap, baru dilanjutkan dengan penyambungan setiap lembarnya. ”Penyambungannya hampir sama dengan pembuatan perahu yang lain, dipaku. Memang dulu pakai kayu kecil, cuma mudah patah,” ujar Wahib.
Jika tak mengalami kendala proses penyambungan itu membutuhkan waktu hampir dua minggu. Ketika lambung atau badan perahu sudah jadi, tinggal finishing. ”Setelah terbentuk, baru didempul lalu dicat. Supaya lebih awet,” tutur dia.
Sejak lima tahun terakhir, produknya sudah cukup banyak terjual. Pelanggannya kebanyakan warga sekitaran Sungai Brantas. ”Karena perahunya dibuat untuk mencari ikan di Sungai Brantas,” tutur dia.
Harganya juga menyesuaikan ukuran. Umumnya dengan panjang perahu 6 meter dan lebar perahu 90 centimeter, dengan kedalaman 30 centimeter serta berat 1,5 kuintal. ”Harganya Rp 8 juta, itu sudah jadi dan tinggal pakai,” kata Wahib. (fid/naz)






