Desakita.co – Suasana guyub dan khidmat mewarnai tradisi malam satu Suro di Dusun Mojosongo, Desa Balongbesuk, Kecamatan Diwek, Senin (15/6) malam. Warga kembali menggelar sedekah dusun sebagai wujud syukur sekaligus upaya merawat warisan leluhur.
Kegiatan dipusatkan di area makam umum dusun setempat. Di lokasi itu terdapat punden leluhur Mbah Dalang yang diyakini sebagai penyebar agama Islam pada masa Kerajaan Majapahit. Tak jauh dari situ, juga terdapat punden Mbah Dasimah, tokoh pembabat alas, serta makam para kepala desa terdahulu.
Kepala Desa Balongbesuk M. Saifur mengatakan, tradisi ini menjadi pengingat jasa para leluhur sekaligus refleksi kehidupan. ”Sejak empat tahun terakhir, kami selaku jajaran pemdes memiliki inisiatif untuk lebih memeriahkan acara ini agar masyarakat semakin guyub rukun,” terangnya.
Warga mengemas sedekah dusun dengan arak-arakan tumpeng keliling lingkungan RT. Beragam hasil bumi dan jajanan pasar disusun dalam bentuk gunungan dan diarak bersama. ”Warga beserta lembaga yang ada di lingkungan dusun, kompak membuat tumpeng nasi dan gunungan hasil bumi serta kue tradisional atau jajanan pasar secara swadaya sebagai wujud syukur,” ujar Saifur.
Setelah diarak, tumpeng dan gunungan dikumpulkan di area makam. Tokoh masyarakat kemudian memimpin doa bersama, memohon keselamatan dan keberkahan di bulan Suro. Usai doa, warga berebut gunungan hasil bumi dan menikmati tumpeng bersama. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus berkah yang dibagi rata.
Tahun ini, perayaan kian semarak dengan pagelaran wayang kulit oleh Ki Dalang Puryono yang membawakan lakon Dewaruci, kisah sarat pesan tentang pencarian jati diri dan kebijaksanaan hidup. ”Suasana guyub mencerminan kerukunan hidup bermasyarakat warga kami. Prosesi sedekah dusun juga menunjukkan kepedulian warga dalam merawat warisan leluhur,” pungkas Saifur. (dwi/naz)












