JOMBANG – Pemerintah Desa (Pemdes) Miagan, Kecamatan Mojoagung terus menggenjot promosi potensi desa. Salah satunya melalui Gelar Potensi Desa Miagan Umbrella Fest 2026 yang digelar selama tiga hari, mulai Kamis (30/7) hingga Sabtu (1/8). Agenda tersebut sekaligus menjadi perayaan milad ketiga Alun-Alun Cemara (AAC).
Mengusung tema Miagan Bahagia Sepayung Harmoni, kegiatan tahun ini digelar berkolaborasi dengan anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Timur serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.
Kepala Desa Miagan Antok Budi Subagyo mengatakan, festival tersebut menjadi momentum memperkenalkan potensi desa kepada masyarakat luas. Selain memadukan hiburan, budaya, dan kebersamaan, kegiatan itu juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. ”Kegiatan ini memadukan unsur hiburan, budaya serta kebersamaan selama tiga hari berturut-turut, serta berdampak pada ekonomi kerakyatan,” ujarnya.
Menurut Antok, festival itu bukan sekadar pesta rakyat. Lebih dari itu, menjadi wujud rasa syukur, pelestarian tradisi, sekaligus ajang mempromosikan potensi lokal Desa Miagan.
Ia menjelaskan, payung atau umbrella dalam budaya Jawa, khususnya di Jombang, memiliki makna lebih dari sekadar pelindung. Payung menjadi simbol perlindungan, kehormatan, dan kebersamaan. Dalam berbagai tradisi masyarakat pedesaan, payung juga digunakan sebagai lambang doa agar kehidupan senantiasa mendapat perlindungan. ”Miagan Umbrella Fest mengambil semangat tersebut dan mengemasnya dalam format yang lebih modern, serta mengajak masyarakat untuk ‘sepayung’ dalam arti lebih luas, yakni bersama menaungi perbedaan, menjaga harmoni, dan merawat budaya lokal,” terangnya.
Menurutnya, keberadaan AAC semakin mengukuhkan perannya sebagai pusat aktivitas masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan tersebut berkembang dari lapangan sepak bola menjadi ruang interaksi olahraga, ekonomi, sosial, dan kebudayaan.
Rangkaian kegiatan diawali Kamis (30/7) dengan doa bersama, purakan tumpeng, dan hiburan panggung gembira. Hari berikutnya dilanjutkan kirab budaya Festival Payung. Puncak acara digelar Sabtu (1/8) melalui senam bahagia bersama di Alun-Alun Cemara pada pagi hari. Malam harinya, ribuan warga memadati lokasi untuk menyaksikan penampilan Campursari Mayangkara dan pesinden nasional Niken Salindry.
Antok menyebut antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa kegiatan tersebut mampu menjadi wadah promosi bagi pelaku UMKM, seni, dan budaya lokal. ”Acara ini menjadi bukti bahwa masyarakat membutuhkan wadah untuk mempromosikan UMKM, seni, dan budaya lokal,” tandasnya. (dwi/naz)












