Pemerintahan

Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Sulap Limbah Kaca Jadi Manik-Manik, Tembus Pasar Ekspor

×

Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Sulap Limbah Kaca Jadi Manik-Manik, Tembus Pasar Ekspor

Sebarkan artikel ini
IKON DESA: Kepala Desa Plumbon Gambang Nur Wakit (kemeja putih) mendampingi Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin dan Ketua Dekranasda Kabupaten Jombang Yuliati Nugrahani Warsubi saat meninjau proses pembuatan manik-manik dari limbah kaca.

JOMBANG – Pecahan kaca yang tak terpakai di tangan perajin Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo, Jombang, berubah menjadi manik-manik bernilai ekonomi tinggi.

Kerajinan yang berkembang sejak 1980-an itu kini menjadi ikon desa, menggerakkan ekonomi warga, hingga menembus pasar internasional.

Potensi tersebut mendapat perhatian Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin dan Ketua Dekranasda Kabupaten Jombang Yuliati Nugrahani Warsubi beserta jajaran saat berkunjung ke sentra kerajinan tersebut, Selasa (20/10).

Manik-manik khas Plumbon Gambang juga diperkenalkan sebagai welcome gift bagi Arumi, istri Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak.

Baca Juga:  Inovasi Kecamatan Ngusikan Jombang: Wujudkan Pelayanan Cermat Melalui Inovasi DMS Surat Keluar dan Masuk

Kepala Desa Plumbon Gambang Nur Wakit menyambut positif kunjungan tersebut. Dia berharap perhatian dari jajaran Dekranasda dapat memacu perkembangan industri rumahan sekaligus memperluas pengenalan produk kerajinan lokal.

”Kami selaku perwakilan pemdes merasa terhormat atas kedatangan langsung para tamu di desa kami. Semoga kehadiran mereka semakin memotivasi perkembangan industri rumahan di wilayah desa kami,” ujarnya.

Menurut Nur Wakit, kerajinan manik-manik berbahan limbah kaca telah menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat. ”Saat ini, puluhan rumah produksi tersebar di Desa Plumbon Gambang dan mampu menyerap ratusan tenaga kerja dari warga setempat,” terangnya.
Proses pembuatannya mengandalkan limbah atau pecahan kaca yang dipanaskan hingga melebur, kemudian dibentuk menjadi manik-manik dengan beragam motif. Warna yang dihasilkan memanfaatkan warna alami kaca sebelum dilebur. ”Manik-manik itu selanjutnya dirangkai menjadi kalung, gelang, dan berbagai aksesori lainnya,” imbuhnya.
Selain memanfaatkan limbah kaca, perajin juga menggunakan bahan baku berkualitas untuk memenuhi pesanan aksesori khusus.

Baca Juga:  Rektor dan Wakil Rekor UPJB Serta Pengurus PPLP PT PGRI Jombang Resmi Dilantik, Ini Susunan Pengurusnya

Perpaduan kreativitas dan pemanfaatan bahan bekas tersebut menjadi nilai tambah produk Plumbon Gambang.

”Kerajinan manik-manik di desa kami memiliki nilai tambah karena mengusung konsep ramah lingkungan (sustainability). Bahan baku utamanya berasal dari limbah kaca bekas yang dilebur melalui proses pembakaran tradisional,” jelas Nur Wakit.

Baca Juga:  UMK Jombang Naik Rp 91 Ribu, Pemkab Jombang Minta Perusahaan Mematuhi

Camat Gudo Wiwik Eko Ratna menilai kunjungan jajaran Dekranasda provinsi dan kabupaten menjadi dorongan bagi perkembangan usaha kerajinan di tingkat desa.

Perhatian tersebut diharapkan membuka peluang kemajuan bagi para perajin sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi lokal.

”Kunjungan ini merupakan bukti nyata perhatian pemerintah provinsi dan kabupaten terhadap geliat ekonomi lokal di akar rumput. Semoga membawa berkah dan kemajuan signifikan bagi ekosistem kerajinan, khususnya manik-manik di Desa Plumbon Gambang,” pungkasnya. (dwi/naz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *