Desakita.co – Wajib belajar 12 tahun belum 100 persen terpenuhi di Jombang.
Masih banyak siswa SD dan SMP yang putus sekolah. Rata-rata berasal dari warga pinggiran Jombang dan lebih memilih bekerja daripada sekolah.
’’Rata-rata masyarakat pinggiran yang lebih memilih anak-anaknya bekerja daripada sekolah,’’ kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Senen, kemarin.
Secara akumulatif empat tahun terakhir, 2018-2023, terdapat 2.162 siswa SD yang putus sekolah. 1.249 di antaranya mulai kembali sekolah.
Namun 913 siswa memilih untuk tidak melanjutkan sekolah.
’’Maksudnya putus sekolah adalah tidak sampai lulus SD atau berhenti ditengah jalan,’’ jelasnya.
Sementara jumlah siswa SMP yang putus sekolah lebih banyak lagi, 3.157 siswa. 1.249 di antaranya sudah kembali aktif sekolah.
Tinggal 1.908 yang belum melanjutkan pendidikan.
Senen menyayangkan hal ini, sehingga berupaya agar sekolah memantau betul pendidikan peserta didik di sekolah.
Serta membantu pendaftaran siswa yang lulus ke jenjang berikutnya. Seperti membantu proses pendaftaran online, hingga aktif untuk berkomunikasi dengan wali siswa yang enggan melanjutkan ke jenjang berikutnya, dan menjelaskan pentingnya pendidikan untuk siswa.
’’Saya tidak bisa membayangkan, kalau anak-anak tidak mau belajar sampai SMP atau SMA.
Padahal semua pekerjaan rata-rata sampai mensyaratkan karyawannya minimal lulus SMA. Kita harus memberikan pemahaman kepada orang tua tentang pentingnya kelanjutan pendidikan,’’ ulasnya.
Mayoritas anak tidak sekolah banyak terjadi di wilayah pinggiran. Mereka lebih memilih bekerja, dan diminta untuk mencari uang sehingga putus sekolah.
’’Saya tidak mau, ada anak yang tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya karena alasan ketinggalan, tidak tahu caranya daftar online, dan lain sebagainya,’’ tandasnya. (wen/jif/ang)












