DesaKita.co – Wakil Dekan Undipdu, Dr KH Ali Muhsin MPdi , menyampaikan keutamaan itikaf di bulan suci Ramadan.
Salah satunya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
’’Itikaf ini sarana meningkatkan keislamam di era globalisasi atau sarana muhasabah diri,’’ katanya saat menjadi narasumber Kajian Ramadan Unipdu di Islamic Center Unipdu, Rabu (13/3).
Baca Juga: Dana Desa 2025 Tembus Rp 71 Triliun, Mendes PDT Gandeng Kejagung Antisipasi Penyelewengan
Itikaf adalah tinggal di suatu tempat/masjid dengan niat beribadah untuk untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
’’Orang-orang secara umum melakukan itikafdi dalam masjid saja. Namun, iktikaf itu boleh dilakukan di mana saja,’’ terangnya.
Semasa hidupnya, Nabi Muhammad SAW secara rutin melakukan itikaf mulai 10 hari sampai 20 hari terakhir di bulan suci Ramadan.
Pengasuh Asrama Muzamzamah Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso ini menyampaikan, tujuan itikaf, sebagaimana dijelaskan oleh Abu Daud dalam hadisnya; Itikaf itu hukumnya sunah.
’’Tujuan dari itikaf agar hati lebih berakhlak dengan melakukan nyepi,’’ jelasnya.
Orang yang menjalankan itikaf diwajibkan untuk memutuskan hubungan sementara dengan makhluk lain.
Baca Juga: Bupati Jombang Resmi Lantik Kades Pulolor, Ingatkan Tak Ada Penyimpangan dalam Kelola Dana Desa
Baik secara komunikasi langsung maupun tidak langsung, contohnya menggunakan alat komunikasi dan lebih berkonsentrasi dengan Allah SWT.
’’Ada dua macam iktikaf. Itikaf sunah atau dilakukan kapan saja dan waktunya boleh kapan saja. Biasanya satu jam atau lebih. Kedua, itikaf wajib yakni dilakukan sesuai nazarnya dimulai terbenamnya matahari sampai menjelang salat ied,’’ jelasnya.
Syarat itikaf adalah muslim, berakal sehat, termasuk suci dari haid dan nifas. ’’Termasuk jika habis berhubungan maka harus bersuci dulu,’’ paparnya.
Itikaf di bulan Ramadan sebaiknya dilakukan 10 malam terakhir. ’’Karena untuk berjaga mencari lailatul qadar,’’ tegasnya. (ang/jif)












