Desakita.co – Aroma khas rebusan kayu dan daun memenuhi sebuah rumah sederhana di Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung. Siapa sangka, membatik dengan cara tradisional dan alami warisan leluhur ini masih lestari.
Dari kuali besar di atas tungku, lahirlah warna-warna alami yang kelak menjadi corak indah di selembar batik. Inilah batik pewarna alam khas Mojotrisno yang digarap perajin Berkah Mojo Batik.
’’Teknik pewarna alam itu sebenarnya sudah ada sejak zaman kerajaan dulu,’’ kata Nusa Amin, pemilik rumah produksi, Jumat (22/8).
Nusa memanfaatkan bahan alami yang mudah dijumpai di sekitar desa. Seperti kulit kayu mahoni, kulit buah jolawe, hingga kayu secang.
Warna yang dihasilkan tidak hanya kuat, tetapi juga bertahan lama meski terkena deterjen. ’’Kalau ingin warna muda cukup sekali celup, kalau mau tua bisa diulang beberapa kali,’’ jelasnya.
Dari proses sederhana itu, lahirlah batik cap dengan harga Rp150 ribu per potong, hingga batik tulis seharga Rp750 ribu.
Tak hanya sekadar produk, setiap helai kain menjadi simbol bagaimana warisan leluhur bisa terus hidup lewat tangan generasi sekarang.
Di Mojotrisno, batik pewarna alam bukan hanya kerajinan, melainkan juga identitas budaya yang terus tumbuh.
Sempat Gagal Kirim ke Brasil, Kini Tembus Pasar Dunia
Perjalanan Nusa Amin di dunia batik penuh liku. Tahun 2005, ia pernah mengirim satu kontainer batik ke Brasil, namun tak pernah mendapat bayaran sepeser pun.
’’Saya akhirnya pulang, lalu pada 2012 mulai menekuni warna alam hingga sekarang,’’ tuturnya.
Kini, usahanya berbuah manis. Produk batik pewarna alam dari rumah produksinya, Berkah Mojo Batik, justru diminati pasar internasional. Pesanan datang dari Singapura, Hongkong, Sri Lanka, hingga Amerika.
Untuk pelanggan jauh, ia mengandalkan jasa pos. Sementara yang dekat kerap diantar langsung. Ada tiga motif khas yang menjadi identitas batiknya: Mojo Wijoyo, Garudea Arimbi, dan Naga Air.
Semua terinspirasi dari situs bersejarah di Japanan. Saat ini, Nusa dibantu sembilan pembatik dan 12 penenun yang tiap hari menjaga denyut produksi. ’’Ciri khas kami memang memakai pewarna alam, baik untuk batik, ecoprint, maupun tenun,’’ jelasnya. (riz/jif)











