JOMBANG – Pesantren Cemerlang An-Najach di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas terus menunjukkan eksistensinya dalam mencetak santri berprestasi. Pesantren yang didirikan KH Fajrunnajah Al-Fatich pada 2011 itu kini diasuh oleh Agus Ahmad Haidar Balya Fajrunnajah.
’’Santri kami 299 putri dan sekitar 80 hingga 100 santri putra. Seluruh santri diwajibkan menghafal Alquran,’’ kata Hj Imadul Ummah SAg MPdI, pembimbing dan penasihat Pesantren Cemerlang An-Najach yang akrab disapa Ning Im.
Melalui dua program unggulan, yakni program tahfidz intensif dan program reguler. Pada program intensif, santri ditarget menghafal setengah halaman per hari dengan capaian 30 juz dalam enam tahun. Sementara program reguler menerapkan target satu ayat per hari.
’’Capaian hafalan menyesuaikan kemampuan masing-masing santri,” kata istri Prof Dr KH Ahmad Zahro MA Alhafiz tersebut.
Selain fokus pada tahfidz, pesantren juga memiliki program daiyyah yang digelar setiap Senin. Program ini menjadi wadah latihan dakwah bagi santri melalui penyampaian pidato yang disesuaikan dengan tingkat kelas diniyah. Seluruh santri mendapat giliran tampil sehingga kemampuan public speaking mereka terasah.
Berbagai kegiatan rutin turut memperkuat pembinaan spiritual santri. Kegiatan mingguan meliputi salat duha dan pembacaan Asmaul Husna setiap Jumat pagi. Tahlilan Jumat sore, pembacaan surat Al-Kahfi setiap Kamis malam. Daiyyah lokal pada Senin malam.
Serta istighotsah atau dibaiyyah yang dilaksanakan bergantian setiap Kamis malam. Sementara Ahad malam diisi dengan kajian Kuliah Solusi Spiritual (KSS) dan hizb Asmaul Husna. Serta kegiatan senam Jumat pagi.
Selain memperkuat hafalan Alquran, dan mengasah public speaking, santri jyga diperkuat bacaan kitabnya. Kitab yang dikaji adalah Kitab Fathul Qarib menjadi salah satu rujukan utama dalam pembelajaran diniyyah karena memuat berbagai pembahasan penting dalam kehidupan seorang muslim.
Kegiatan membaca kitab dilakukan melalui program “jam ke-0”, dilaksanakan sebelum diniyah dimulai. Musyrifah di setiap kelas terlebih dahulu membacakan materi kitab sesuai dengan batasan (maqro’) yang telah ditentukan diikuti seluruh santri. Lalu santri menyetorkan bacaan kitab kepada musyrifah sebagai bentuk evaluasi dan penguatan pemahaman.
Selain itu juga ada program bulanan. Seperti QoBa (Qobla Ba’da) untuk memperlihatkan progres santri kepada orang tua melalui setoran hafalan Alquran dan baca kitab secara bergantian. Juga kegiatan ziarah makam, khataman tahfidz, dan renang yang dilaksanakan setiap tiga bulan sekali.
Khusus santri kelas 12, pesantren menerapkan tirakat selama 21 hari di bulan Ramadan. Meliputi membaca surat Al-Waqiah tujuh kali setelah Asar. Bangun malam pukul 02.00 untuk melaksanakan tahajud 10 rakaat. Salat tasbih 4 rakaat, membaca istighfar 1.111 kali. Salawat 1.111 kali. Al-Fatihah 313 kali. Serta membaca surat At-Taubah ayat 128 sebanyak 21 kali. Kegiatan ditutup dengan salat hajat dan witir. (wen/jif)












