Lifestyle

Berawal dari Asrama Pesantren di Jombang, Zainul Mujib Kini Dikenal sebagai Kaligrafer Internasional

×

Berawal dari Asrama Pesantren di Jombang, Zainul Mujib Kini Dikenal sebagai Kaligrafer Internasional

Sebarkan artikel ini
Zainul Mujib MPd, guru MAN 4 Jombang .

DesaKita.co –  Ketertarikan santri terhadap seni menulis huruf Arab saat duduk di bangku Madrasah Aliyah mampu membawanya tampil di berbagai ajang internasional.

Itulah yang dialami Zainul Mujib MPd, guru MAN 4 Jombang yang kini dikenal sebagai kaligrafer dan seniman iluminasi dengan rekam jejak prestasi hingga tingkat dunia.

Pria kelahiran Lamongan, 3 Februari 1995 inimengawali pendidikan formalnya di RA Al-Hikmah Lamongan pada 2000.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan di MI Al-Hikmah dan MTs Al-Hikmah Lamongan sebelum hijrah ke Jombang untuk menempuh pendidikan di MAN Denanyar pada 2010.

Pilihan melanjutkan pendidikan di lingkungan pesantren ternyata menjadi titik balik perjalanan hidupnya.

Saat tinggal di Asrama Sunan Ampel Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar, para santri diberikan kesempatan memilih program pengembangan minat.

Saat sebagian teman-temannya memilih program tahfiz, diniyah, maupun bahasa, Zainul justru tertarik pada program kaligrafi yang diselenggarakan Sekolah Kaligrafi Al-Qur’an (SAKAL) Jombang.

’’Dari situlah saya mulai belajar kaligrafi secara serius. Sebelumnya hanya suka meniru tulisan-tulisan yang saya lihat, tetapi belum pernah belajar secara formal,’’ ungkapnya.

Baca Juga:  Intip Profil Miming Suryoningsih, Guru SMAN Kabuh Jombang yang Asyik dan Dekat Siswa

Keputusan tersebut kemudian mengubah arah hidupnya. Sejak 2010 hingga sekarang, ia terus belajar di SAKAL sekaligus mengajar generasi berikutnya.

Bahkan, statusnya saat ini bukan hanya sebagai murid, tetapi juga guru yang aktif membimbing para pecinta kaligrafi dari berbagai daerah.

Menurut Zainul, seni kaligrafi tidak hanya berbicara soal keindahan tulisan. Di dalamnya terdapat proses pendidikan karakter yang kuat.

’’Belajar kaligrafi mengajarkan kesabaran, ketelitian, disiplin dan ketekunan. Selain menghasilkan karya seni, ada nilai pendidikan yang sangat besar di dalamnya,’’ katanya.

Keseriusannya mendalami dunia khat membuat Zainul mempelajari berbagai jenis tulisan kaligrafi. Ia telah memperoleh ijazah pada sejumlah jenis khat seperti Riq’ah, Diwani, Diwani Jali, Naskhi, Maghribi Andalus dan Maghribi Mabsuth.

Saat ini ia masih terus menekuni khat Kufi dan Tsuluts untuk melengkapi penguasaan seluruh jenis khat yang menjadi target pribadinya.

Dalam proses belajar tersebut, Zainul juga berkesempatan berguru langsung kepada kaligrafer dunia asal Maroko, Syeikh Belaid Hamidi, sosok yang sangat ia kagumi.

Baca Juga:  Pilih Tinggal di Kebun, Ini Alasan Korban Selamat Bencana Tanah Longsor Desa Sambirejo Wonosalam Jombang Ogah Pindah ke Huntara

’’Beliau terkenal sebagai guru yang memiliki murid paling banyak di dunia. Yang membuat saya kagum bukan hanya kualitas karya beliau, tetapi dedikasinya sebagai pendidik. Beliau mampu membuat pelajaran yang sulit menjadi mudah dipahami,’’ ungkapnya.

Kemampuan yang terus berkembang membawanya menorehkan berbagai prestasi bergengsi. Pada 2017 ia meraih Juara 2 Nasional Musabaqah Ornamen Mushaf di Kudus.

Dua tahun kemudian, namanya mencuat setelah menjadi Juara 2 International Calligraphy and Ornament Competition di Berlin, Jerman 2019.

Pada 2020, ia kembali meraih Juara 3 Mushaf Nusantara Ornament Competition yang diselenggarakan BQM Jakarta.

Tahun berikutnya, ia memperoleh penghargaan Special Mention pada International Arabesque Ayaat Contest Ramadan di Dubai 2021.

Prestasi internasional kembali diraih pada 2023 saat meraih Juara 3 International Ornament Competition di Aljazair. Kemudian pada 2024 mendapatkan Motivational Award dalam International Calligraphy Competition Maghribi Script di Kanada.

Baca Juga:  Peternak Sapi Potong di Desa Wonosalam Jombang Ketiban Berkah, Permintaan Naik Jelang Idul Adha

Terbaru, pada 2026, ia kembali membawa nama Indonesia melalui penghargaan Motivational Award Ayaat Contest Sixth Session Dubai.

Salah satu pengalaman paling berkesan baginya, saat diundang langsung ke Aljazair untuk mengikuti pameran internasional sebanyak tiga kali.  Pada 2015, 2016 dan 2023.

Berbeda dengan perlombaan daring, pameran tersebut mengharuskan peserta mengirimkan karya terlebih dahulu untuk diseleksi. Jika lolos, peserta akan diundang membawa karya asli ke Aljazair dengan seluruh biaya perjalanan ditanggung panitia.

’’Pada 2023 karya saya masuk nominasi tiga terbaik. Itu menjadi pengalaman yang sangat berharga karena bisa bertemu langsung dengan para seniman dari berbagai negara,’’ tuturnya.

Meski telah mengumpulkan banyak penghargaan, Zainul mengaku perjalanan belajarnya belum selesai. Ia masih memiliki target untuk menuntaskan seluruh jenis khat dan terus memperluas manfaat ilmunya kepada masyarakat.

’’Saya ingin semakin banyak orang belajar kaligrafi. Tidak harus berbakat. Yang penting mau belajar dan menemukan metode yang tepat,’’ urainya. (wen/jif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *