Desakita.co – Sejumlah petani di Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben, harus bekerja ekstra.
Ini setelah menjelang panen, kondisi padi roboh diterjang angin. Sehingga banyak yang memilih panen lebih awal.
Di Dusun Jerukwangi, Desa Watudakon, misalnya, padi yang siap panen tak lagi tegak berdiri. Hampir setiap petak sawah terdapat padi yang roboh.
”Pas hujan disertai angin tiga hari lalu, sekarang banyak yang ambruk,” ujar Prasetyo Budi salah seorang petani.
Padahal, padi miliknya sebenarnya kurang satu minggu dipanen. Karena roboh, maka tanaman padinya langsung dipanen.
”Sebenarnya sudah siap, paling nunggu satu minggu saja. Kalau diberdirikan lagi juga butuh waktu dan tenaga, makanya lebih baik dipanen lebih awal,” tuturnya.
Ketika tanaman padi dibiarkan terlalu lama roboh menurut Prasetyo, bakal berdampak pada bulir padi.
”Takutnya hujan terus terendam, bisa-bisa busuk,” ujar dia. Imbasnya, panen kali ini tidak bisa menggunakan mesin. Sebaliknya, dilakukan secara manual.
”Karena ambruk maka dipotong manual, biayanya juga nambah,” bebernya.
Hal serupa juga diungkapkan Warsidi, petani lain, yang menyebut rata-rata tanaman padi di tempatnya roboh setelah ada hujan angin. Hitungannya sekitar 11 hektare.
”Mungkin satu desa sampai 11 hektare yang ambruk, ada yang siap panen dan ada yang masih hijau,” sambung dia.
Untuk tanaman padi belum siap panen, maka petani terpaksa mengeluarkan biaya lebih untuk mendirikan kembali padi secara perlahan.
”Kalau tidak begitu, hasil panennya turun,” pungkasnya. (fid/bin/ang)












