Potensi

Petani di Desa Plabuhan Jombang Menjerit, Tanaman Membusuk Dipastikan Gagal Panen

×

Petani di Desa Plabuhan Jombang Menjerit, Tanaman Membusuk Dipastikan Gagal Panen

Sebarkan artikel ini
MEMBUSUK: Kondisi tanaman tembakau di Desa Plabuhan Jombang membusuk.

Desakita.co – Rusaknya ratusan hektare tanaman tembakau di utara Brantas, Jombang akibat hujan membuat petani makin terjepit.

Petani harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya tanam ulang. Pasalnya, hajat hidup mereka sangat bergantung pada hasil sawah.

Seperti yang dirasakan Jikan, 65, petani di Desa Plabuhan, Kecamatan Plandaan. Tanaman tembakaunya rusak akibat tergenang air hujan.

”Rata-rata memang rusak di sini, karena airnya kan sampai ngecembeng, jadinya banyak yang busuk,” ungkapnya.

Karena tanaman mengering, mau tak mau para petani harus mengganti tanaman.

Otomatis beban petani bertambah lantaran harus kembali mengeluarkan uang untuk biaya tanam ulang.

Baca Juga:  Ada Dua Makam di Area Masjid Al Istiqomah Desa Mojongapit Jombang, Begini Penjelasan Takmir Masjid

”Ada yang dibiarkan, mungkin yang sudah nyerah, tapi banyak yang diganti tapi ya modalnya memang besar,” ungkapnya.

Ia memerinci, untuk tiap sawah banon 100, paling tidak membutuhkan empat bendel bibit yang masing-masing berisi 1.000 benih tembakau. ”Harganya satu bendelnya itu Rp 50 ribuan,” ungkapnya.

Baca Juga: Tersebar Merata di 9 Desa, Ratusan Hektare Tanaman Tembakau di Jombang Mati Akibat Anomali Cuaca

Jika ditambah dengan ongkos tanam hingga pupuk, ia menyebut paling tidak setiap petak sawah dengan ukuran 1.400 meter persegi membutuhkan biaya sekitar Rp 1 juta. ”Kalau lebih luas ya bisa lebih mahal juga,” lontarnya.

Baca Juga:  Cerita Inspiratir Miftahul Ma’arif, Pelatih Pencak Silat Asal Desa Janti, Jogoroto Jombang yang Kini Menempuh S3 di Taiwan

Terlebih, dengan tak adanya bantuan dari pemerintah bagi petani tembakau yang gagal panen juga disebutnya akan memberatkan. ”Tapi ya mau bagaimana, mau ganti padi ndak nututi, akhirnya ya ditanam tembakau lagi,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dinas Pertanian (Disperta) Jombang telah melakukan pendataan tanaman tembakau di wilayah Kecamatan Plandaan yang mati karena cuaca ekstrem. Tak tanggung-tanggung seluas 218,78 hektare tanaman tembakau yang mati.

Kepala Diseparta Jombang M Ronny mengatakan, tanaman yang mati tersebar di sembilan desa.

Baca Juga: Cuaca Tak Menentu, Petani Tembakau di Utara Brantas Jombang Dihantui Virus Kutu Kebul

Baca Juga:  Jelang Idul Adha, Perajin Anyaman Besek Bambu di Desa Kertorejo Jombang Banjir Pesanan, Omzetnya Tembus Segini

Di antaranya Desa Gebangbunder, Kapungbaru, Purisemanding, Klitih, Plabuhan, Bangsri, Karangmojo, Plandaan, dan Desa Darurejo.

Kerusakan terparah, berada di Desa Purisemanding seluas 65 hektare, disusul Desa Gebangbunder seluas 13,5 hektare.

Kampungbaru 28 hektare, Klitih seluas 55 hektare, Plabuhan 2 hektare, Bangsri 7 hektare, Karangmojo, 6,28 hektare.

Plandaan 32 hektare, dan Darurejo 10 hektare.

Pihaknya juga menjelaskan, berbeda dengan tanaman padi, apabila petani padi gagal panen akan mendapat bantuan dari dinas berupa bibit.

”Untuk tembakau belum ada bantuan. Berbeda dengan padi,” pungkas Ronny. (riz/naz/ang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *