Desakita.co – Prasasti geweg atau yang sekarang lebih dikenal dengan Prasasti Tengaran, di Desa Tengaran Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang memiliki sejarah panjang.
Prasasti Tengaran merupakan saksi sejarah kejayaan Kerajaan Medang atau Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-10.
Prasasti berada di Desa Tengaran Kecamatan Peterongan, merupakan hadiah dari Raja Mpu Sindok yang menyatakan, masyarakat sekitar Geweg terbebas dari upeti atau pajak.
Saat ini, situs tengaran lebih terawat, bahkan sering jadi objek belajar siswa juga penelitian mahasiswa.
”Dulu ini bukan Desa Tengaran, tapi Desa Geweg. Tapi karena masyarakat dulu setelah ada prasasti lebih suka menyebut dengan tengeran jadi sekarang berubah menjadi Tengaran,” kata Hadi Ali, juru pelihara prasasti tengaran Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah 11 Jawa Timur.
Ia berkisah, Prasasti tengaran adalah piagam bentuk terimakasih Raja Mpu Sindok yang telah ditolong masyarakat Desa Geweg.
Saat itu Mpu Sindok sedang mencari putrinya di Gunung Pucangan.
Kesulitan menyebrangi sungai brantas, Mpu Sindok kemudian ditolong masyarakat setempat untuk menyebrang.
”Dibuatkan perahu, ada bantuan magic juga dari Mbah Karya, salah satu warga Geweg yang sakti,” katanya.
Raja Mpu Sindok sangat berterimakasih kepada warga Desa Geweg, atas pertolongan yang diberikan.
Baca Juga: Punya Potensi Budi Daya Patin, Pemdes Tengaran Jombang Tertarik Jadikan Ikon Desa
Sebagai wujud terimakasih, Mpu Sindok memberik hadiah berupa tetenger tugu batu bertulis yang berisi penetapan Desa Geweg sebagai desa sima, atau desa yang diistimewakan karena terbebas dari pajak.
”Karena prasasti dibuat sebagai bentuk terimakasih sang raja kepada masyarakat setempat karena rakyat telah berjasa pada negara atau kepada raja,” ungkapnya.
Prasasti dari batu andesit dengan tinggi 145 cm, lebar 80 cm, dan tebal 15 cm itu bertempat di tengah sawah Dusun Surobayan.
Dua tahun yang lalu, batu tidak setinggi sekarang, penggalian ulang dilakukan dan ditinggikan.
”Ini ada bekasnya karena dulu tidak setinggi ini, dulu digali ulang dan lebih tinggi, dulu tingginya 124 cm,” katanya.
Batu tersebut bertuliskan aksara kawi dengan bahasa Jawa kuno.
Baca Juga: Daftar Lengkap Nama Kepala Desa di Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang Terbaru Tahun 2024
Tahun penetapan prasasti masih berubah-ubah. Pada data yang lama disebutkan prasasti ada sejak tanggal 6 paropeteng Bulan Srawana tahun 857 saka, atau 14 Agustus 935 Masehi.
Baru-baru ini pada buku yang diberikan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 11 Jawa Timur kepada juru pelihara menyebutkan, jika prasasti ada tahun 855 saka atau 933 Masehi.
Di sisi prasasti utama ada dua batu kecil. Batu yang agak kecil disebut sebagai umpak, atau penyangga tiang, sedangkan batu yang lebih besar disebut batu lingga, atau batas tanah yang disucikan.
Di sekitar prasasti ada beberapa tumpukan batu bata besar.
Batu bata itu ditemukan di makam yang tak jauh dari prasasti. Konon, di sekitar makam ada sebuah candi. Sehingga saat menggali kubur sering kali ditemukan susunan batu bata besar.
”Info yang saya terima, jika di sini prasasti, biasanya tak jauh dari sini ada sumur atau candi.
Nah batu yang dimakam strukturnya memang seperti candi, tapi yang sumur masih belum ditemukan,” jelasnya.
Prasasti tengaran sendiri memiliki banyak nama, ada yang menyebut prasasti tengaran, prasasti geweg, prasasti demak.
Sedangkan Raja sendiri memberi nama prasasti tersebut dengan nama tengoro, artinya tengah oro-oro. Oleh warga setempat, tugu tersebut juga dikenal dengan gorit, atau tugu yang digarit-garit.
Prasasti tengaran juga pernah mengalami kerusakan. Saat Hadi kecil, masyarakat Tengaran yang fanatik agama pernah mencoba menghancurkan prasasti. Sebab, dulu prasasti digunakan sebagai ritual dalam hal negatif.
”Dipecok dan dirobohkan dulu sama warga, tapi semakin ke sini masyarakat semakin menyadari jika ini bagian dari sejarah yang harus dijaga,” jelasnya.
Bekas pecokan warga masih membekas, di sisi belakang batu, ada guratan cukup dalam yang sampai sekarang masih terlihat.
”Setiap 14 Agustus selalu ada peringatan seperti sedekah desa, masyarakat bawa tumpeng ke sini, malamnya ada wayang kulit,” ungkapnya.
Situs tengaran sering jadi objek belajar siswa hingga penelitian para mahasiswa.
Hadi sendiri bakal memberikan penjelasan kepada siswa. ”Kadang satu kelas gitu ke sini semua untuk belajar sejarah,” ungkapnya.
Hadi Ali selalu dengan senang hati untuk menjelaskan mengenai sejarah situs Tengaran kepada setiap pengunjung yang hadir.
Meski rumahnya berjarak kurang lebih satu kilometer dari situs, setiap hari ia lebih banyak menghabiskan waktunya di lingkungan prasasti tengaran.
”Mahasiswa juga sering ke sini, untuk penelitian,” pungkasnya. (wen)












