Desakita.co – Pemerintah Desa (Pemdes) Tengaran, Kecamatan Peterongan memiliki komitmen besar dalam merawat peninggalan sejarah serta tradisi leluhur yang telah ada secara turun-temurun. Hal ini tak lepas dari keberadaan situs berupa batu prasasti yang ada di Dusun Tengaran. Prasasti tersebut disebut Prasasti Geweg oleh warga lokal atau sekarang lebih dikenal dengan Prasasti Tengaran.
Warga setempat kerap menggelar sedekah dusun dengan mengambil lokasi utama di kompleks situs Prasasti Tengaran. ”Agar semakin semarak dan menarik perhatian masyarakat, kami menggelar berbagai rangkaian acara dalam tajuk Festival Tengaran,” ujar Achmad Kusaeri Kepala Desa Tengaran.
Gelaran acara Festival Tengaran dilaksanakan selama dua hari sejak Kamis (11/9) hingga Jumat (12/9). Di hari pertama, diadakan Bedah Gurit Prasasti Tengaran. Dalam acara tersebut dihadirkan narasumber tepecaya sekaligus mengundang pemerhati sejarah untuk mengulas dan mengupas sejarah Prasasti Tengaran. Tamu yang hadir merupakan perwakilan dinas terkait, para guru sejarah serta juru pelihara (jupel) cagar budaya se-Kabupaten Jombang.
Sedangkan di hari kedua, dilanjutkan dengan gebyar Upakara Sima berupa pertunjukan treatikal tentang kisah sejarah Mpu Sindok. Keterkaitan sejarah tersebut konon merupakan asal mula keberadaan Prasasti Tengaran yang dipercaya oleh sebagian besar masyarakat. Kisah tersebut berawal saat Mpu Sindok sedang melakukan perjalanan menuju Gunung Pucangan untuk mencari putrinya Sri Isyana Tunggawijaya. Disaat kesulitan menyeberangi Sungai Brantas, Mpu Sindok kemudian ditolong masyarakat desa setempat untuk menyeberang. ”Saat itu dibuatkan perahu, dengan bantuan dari Mbah Karya, salah satu warga Geweg yang sakti,” tutur Kusaeri.
Ia berkisah, Prasasti Tengaran adalah piagam bentuk terima kasih Raja Mpu Sindok yang telah ditolong masyarakat Desa Geweg. Hadiah berupa tetenger tugu batu bertulis yang berisi penetapan desa tersebut sebagai desa sima, atau desa yang diistimewakan karena terbebas dari pajak. ”Prasasti dibuat sebagai bentuk terima kasih sang raja kepada masyarakat setempat karena rakyat telah berjasa pada negara atau kepada raja,” ungkapnya.
Karena keberadaan prasasti dari Mpu Sindok, maka masyarakat akhirnya menyebutnya sebagai tengeran yang dalam bahasa Jawa berarti tanda. Dan kemudian lebih dikenal menjadi Desa Tengaran hingga saat ini.
Terlaksananya Festival Tengaran menjadi wujud nyata komitmen pemdes dan warga setempat dalam merawat budaya dan sejarah desa mereka. ”Hari kedua sekaligus kegiatan kirab budaya sedekah bumi masyarakat Dusun Tengaran dan ditutup dengan hiburan tradisional wayang kulit,” pungkas Kusaeri. (dwi/naz)












