Desakita.co – Pencegahan stunting mendapat perhatian serius dari Pemerintah Desa (Pemdes) Bejijong, Kecamatan Trowulan. Langkah antisipasi terhadap ancaman kekurangan gizi kronis pada anak konsisten disosialisaikan pada seluruh elemen warga di dua dusun.
Salah satunya melalui forum musyawarah percepatan penurunan stunting di tingkat desa yang dikemas dengan Rembug Stunting. Selain penanganan, fokus kegiatan yang digelar setiap tiga bulan sekali ini turut menyangkut langkah pencegahan. Para orang tua balita, kader posyandu, PKK, serta pihak Kecamatan dan Puskesmas Trowulan dihadirkan dalam forum ini.
’’Dalam kegitan Rembug Stunting ini kami fokuskan pada pencegahan, karena di tahun 2025 lalu Desa Bejijong zero stunting,’’ ungkap Kepala Desa Bejijong Pradana Tera Mardiatna, kemarin (22/1).
Forum ini sekaligus mewujudkan komitmen pemdes dalam penanganan isu gizi buruk yang membayangi warga dua dusun.
Seperti dalam gelaran Rembug Stunting pada Desember 2025 lalu, faktor penyebab hingga kondisi keluarga berisiko dibeberkan pada warga agar ke depannya dapat dicegah. Sehingga aspek asupan gizi, sanitasi, pola asuh, kesehatan ibu hamil, dan akses layanan kesehatan menjadi perhatian bersama.
’’Pihak puskesmas juga menyampaikan ke warga akan pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) sebagai periode emas yang menentukan tumbuh kembang anak,’’ paparnya.
Dari situ, Pemdes Bejijong turut menyusun rencana aksi pencegahan untuk ke depannya. Mulai dari program peningkatan edukasi gizi lewat kelas ibu balita, program pemberian makanan tambahan, monitoring tumbuh kembang anak, serta pendampingan ibu hamil berisiko.
’’Kami sepakat mengalokasikan anggaran desa untuk mendukung program pencegahan stunting, termasuk perbaikan fasilitas posyandu dan penguatan kegiatan edukasi masyarakat,’’ ujar Pradana.
Monitoring, evaluasi, dan intervensi berkelanjutan terhadap pencegahan stunting bakal dilakukan secara bertahap. Sehingga diharapkan mampu mewujudkan generasi sehat dan bebas risiko stunting di Desa Bejijong. (vad/fen)











