DesaKita.co – Pelaksana Teknis Sub Kegiatan Produksi Tanaman Perkebunan Dinas Pertanian (Disperta) Jombang, Syafril Yudhi Pratama SP MM, memegang prinsip jabatan merupakan amanah yang harus diwujudkan melalui kerja nyata.
Sebagai aparatur sipil negara (ASN), dia berkomitmen menghadirkan pelayanan yang bermanfaat bagi masyarakat. Menempatkan petani sebagai mitra utama dalam membangun pertanian yang maju dan menyejahterakan.
”Bagi saya, menjadi ASN bukan hanya menjalankan tugas dan menggugurkan kewajiban, tetapi tentang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Di Disperta Kabupaten Jombang, kami memegang prinsip, petani bukan cuma penerima layanan, melainkan mitra utama dalam membangun pertanian yang maju dan menyejahterakan,” kata warga Desa Sengon, Kecamatan Jombang ini.
Lahir di Tuban 11 April 1987, Syafril merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Medijono dan Dwi Enny Yuliantie. Ia mengawali pendidikan di SDN Wotsogo 1 Jatirogo, Tuban. Lalu melanjukan di SMPN 3 Tuban lulus 2001. Kemudian melanjutkan ke SMAN 2 Tuban tamat 2004.
Pendidikan tingginya ditempuh di Universitas Brawijaya jurusan Agribisnis Pertanian lulus 2008. Ia kemudian melanjutkan studi magister Manajemen di Universitas Wisnuwardhana, Malang, lulus 2024.
Perjalanan kariernya sebagai ASN dimulai di Disperta Jombang 2010 sebagai pejabat fungsional penyuluh pertanian.
Setelah itu, ia bertugas di Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Jombang sebagai Kepala Seksi Keamanan Pangan 2017–2019. Serta Kepala Seksi Konsumsi Pangan pada 2019–2021.
Pada 2021 hingga 2025, ia dipercaya menjabat Kepala Seksi Produksi Tanaman Perkebunan Disperta Jombang. Lalu menjabat Pelaksana Teknis Sub Kegiatan Produksi Tanaman Perkebunan Disperta Jombang 2025-sekarang.
Dalam menjalankan tugasnya, Syafril menempatkan petani sebagai mitra utama pembangunan pertanian. Menurutnya, petani bukan hanya penerima layanan pemerintah.
”Petani merupakan pihak yang harus dilibatkan dan didukung untuk mewujudkan sektor pertanian yang maju serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” terangnya.
Baginya, keberhasilan pelayanan publik tidak cukup diukur dari banyaknya program yang dilaksanakan atau besarnya anggaran yang terserap.
”Ukuran yang lebih penting itu seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat dari setiap program yang kita jalankan,” ungkapnya.
Ia meyakini, pelayanan di sektor pertanian harus berorientasi pada penguatan petani. Ketika petani semakin berdaya, hasil pertanian semakin bernilai, dan kesejahteraan keluarga petani meningkat, di situlah pelayanan pemerintah memiliki arti sesungguhnya.
Untuk mewujudkan itu, Syafril menekankan lima nilai utama dalam pelayanan; Integritas, disiplin, profesionalisme, responsif, dan empati.
Nilai-nilai ini harus tercermin dalam sikap dan tindakan ASN ketika menjalankan tugas. Baik dalam memberikan pelayanan maupun merespons kebutuhan masyarakat.
”Kami harus bekerja dengan jujur, melayani tanpa mempersulit, hadir ketika masyarakat membutuhkan, serta memberikan solusi yang nyata, bukan sekadar janji,” tegasnya.
Pelayanan publik tidak boleh berhenti pada pemenuhan kewajiban administratif. ASN harus mampu memahami kebutuhan masyarakat, merespons persoalan yang dihadapi, serta memberikan solusi yang dapat dirasakan manfaatnya. Dengan begitu, kehadiran pemerintah tidak hanya terlihat melalui program, tetapi juga dirasakan
melalui hasilnya.
”Karena pada akhirnya, jabatan adalah amanah. Pelayanan adalah tanggung jawab. Serta kepercayaan masyarakat adalah sesuatu yang harus kami jaga setiap hari,” urainya. (fid/jif)












