Lifestyle

Sosok Mukani, Guru dari Desa Kayangan Jombang yang Gemar Menulis Buku, Tujuh di Antaranya Diberi Kata Pengantar Profesor

×

Sosok Mukani, Guru dari Desa Kayangan Jombang yang Gemar Menulis Buku, Tujuh di Antaranya Diberi Kata Pengantar Profesor

Sebarkan artikel ini
Mukani bersama dengan Prof Ngainun Naim dari UIN SATU Tulungagung.

DesaKita.co – Namanya singkat, Mukani. Pembawaannya santai dan humoris.

Khas seorang pendidik yang sudah kenyang pengalaman.

Tapi akan berubah drastis saat membahas literasi.

Baca Juga: Intip Profil Seputro Edhy Susilo, Wakil Kepala IGD RSUD Jombang yang Total Berikan Pelayanan Terbaik

Sudah 36 judul buku ber-ISBN (Nomor Buku Standar Internasional) yang diterbitkan Mukani.

Mayoritas bukunya diterbitkan dengan sistem royalti. Sebanyak 29 artikel ilmiahnya sudah dimuat jurnal terindeks Sinta.

Lebih dari 167 opininya dimuat di media.

Tujuh bukunya yang terbit diberi kata pengantar profesor.

Pergulatan Ideologis Pendidikan Islam oleh Prof Masdar Hilmy dari UINSA (2011).

Dinamika Pendidikan Islam oleh Prof Masykuri Bakri dari Unisma (2016).

Berguru ke Sang Kiai oleh Prof Nur Akhid dari IAIN Kediri (2016). Sejarah Pendidikan Islam Nusantara oleh Prof MN Harisuddin dari UIN Jember (2021).

Baca Juga: Inspiratif! Cerita Warga Desa Candimulyo Jombang Kuliah S3 di Australia Lewat Beasiswa

Juga buku Membaca Pendidikan Indonesia oleh Prof Masdar Hilmy dari Uinsa (2021). Kiai Gado-Gado (2022) dan Nasionalisme Generasi Milenial (2024) oleh Prof Ngainun Naim dari UIN Tulungagung.

’’Buku yang terbaru insya Allah bulan ini akan dibedah di kampus Universitas An-Nuqoyah Guluk-Guluk Sumenep,’’ kata warga Desa Kayangan, Kecamatan Diwek, Jombang ini.

Baca Juga:  Peduli Sesama, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto Gelar Buka Bersama dan Santunan Anak Yatim

Dari deretan karyanya itu, Mukani menyebut buku yang paling terkesan, Berguru Ke Sang Kiai (2016). Ini adalah hasil tesis yang kemudian diterbitkan Kalimedia Yogyakarta.

Buku itu pula yang dipamerkan dalam adegan film Hati Suhita (2023) yang disutradarai Archie Hakagery.

’’Di samping best seller, saya harus ke sana kemari untuk memenuhi jadwal bedah buku itu di banyak kampus,’’ ujarnya.

Berbagai karya itu wujud tanggung jawabnya sebagai seorang akademisi.

Baik sebagai dosen maupun guru. Sejak 2020 dia sudah dinyatakan sebagai penulis profesional skema buku non-fiksi.

Baca Juga: Diguyur Hujan Lebat, Permukiman Warga Dusun Kedungmacan Jombang Kebanjiran

’’Yang menguji dulu tim dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) RI di Jakarta,’’ kenangnya.

Tak heran jika torehan ini diapresiasi banyak pihak.

Yang terbaru, dia dinobatkan sebagai guru teladan literasi tingkat Jawa Timur.

Sebuah apresiasi dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur atas sepak terjangnya selama ini di dunia literasi.

’’Pengumumannya bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional 25 November 2024,’’ ujarnya.

Bahkan pada helatan Pilkada serentak 2024, dia diminta menjadi salah satu panelis debat calon bupati.

Baca Juga:  Cerita Fitriah Susanti Warga Desa Cukir, Diwek Jombang (1): Bisa Sukses Berkarir Tanpa Mengabaikan Peran Ibu

’’KPU Kabupaten Nganjuk menghubungi untuk fokus di bidang pendidikan, terutama literasinya,’’ kenangnya.

Pria yang juga pemimpin redaksi jurnal nasional Ziyadah ini mengaku tidak ada kiat khusus bisa produktif menulis hingga sekarang.

Menurutnya, yang penting adalah komitmen kuat menulis dan diwujudkan, tidak perlu banyak berangan-angan mau menulis ini dan itu.

Baca Juga: Akibat Sumur Pamsimas Desa Manduro Jombang Rusak, Andalkan Pasokan Air dari Sumur Baru

’’Dan, harus ada target, setahun ini bisa menerbitkan berapa buku, berapa artikel jurnal dan berapa opini di media,’’ tandasnya.

Saat ini dia juga bergabung dengan Literacy Center.

Sebuah unit kerja yang fokus dalam menggerakkan tradisi literasi kaum muda di Jawa Timur. Sejak 2022, bersama tim, dia sudah menggelar pelatihan kader literasi di seluruh Jawa Timur.

’’Sudah menyentuh 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, digelar di tujuh zona. Mulai Metropolis, Matraman, Pantura, Tapal Kuda, Malang Raya, Kediri Raya dan Madura,’’ jelasnya.

Peserta yang diundang dari unsur dosen, guru, santri maupun organisasi kepemudaan.

’’Biasanya kami bekerjasama dengan perguruan tinggi untuk menggelar pelatihan ini,’’ imbuhnya.

Baca Juga:  Keren! Kenalkan Inovasi Pembuatan Pakan Ikan, Unipdu Jombang Berhasil Torehkan Prestasi Tingkat Nasional

Tahun 2025 nanti, ditargetkan buku kumpulan karya peserta bisa diterbitkan.

Padahal, jika menilik asal usulnya, Mukani berasal dari keluarga biasa. Bahkan bisa dibilang menengah ke bawah.

’’Makanya dulu meski sudah S-1 dan S-2, tidak ada mahasiswi di kampus yang mau sama saya,’’ ujarnya terkekeh.

Namun, dia bersyukur ditemukan dengan gadis asli Surabaya yang tidak neko-neko.

Istrinya alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA). Prosesnya singkat dan dikenalkan oleh teman.

Baca Juga: Dongkrak Perekonomian, Pemdes Morosunggingan Jombang Bangun Pasar Rakyat

Izin dari kiai sudah diperolehnya. Maka bulan berikutnya gadis itu langsung dilamar.

’’Mumpung ada yang mau dan belum berubah pikiran,’’ katanya sambil tertawa.

Sebagai pendidik di pesantren, dirinya mengaku rida kiai adalah segalanya.

’’Kita bisa seperti sekarang, pasti karena orang tua dan guru-guru kita,’’ ucapnya dengan wajah serius.

Maka tidak heran jika di tengah kesibukannya, dia masih mengajar di almamater.

’’Tujuannya hanya untuk menyempatkan waktu bersilaturahim dengan para guru,’’ imbuhnya.

Setiap Sabtu dan Minggu, dia rutin mengajar di pesantren. Bahkan bulan lalu dia diamanati sebagai sekretaris 1 Yayasan Khoiriyah Hasyim Seblak. (riz/jif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *