Desakita.co – Camat Kudu Wiwik Eko Ratna memiliki komitmen melayani dan mengayomi masyarakat.
Baik dari sisi pelayanan publik, pembangunan, hingga ekonomi.
”Karena camat hanyalah sebuah jabatan yang tidak bisa diagung-agungkan. Tapi jabatan ini adalah amanah yang tugas utamanya melayani dan mengayomi masyarakat,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Untuk pelayanan publik misalnya, pihaknya memiliki moto Kudu Ceria (Cepat, efisien, ramah, inovaif dan akuntabel).
Baca Juga: Profil Lengkap Camat Ngoro Jombang Nur Evva Maylia: Mengabdi 19 Tahun, Optimalkan Potensi Desa
Moto tersebut sebagai dasar dalam pelayanan dan harus dilakukan karena ada pelayanan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.
”Mulai dari pelayanan adminduk, baik e-KTP, surat keterangan pindah-datang, ataupun penerbitan KK,” imbuhnya.
Dengan moto itu tentu dia tak bisa bekerja sendiri. Harus didukung para pegawai kecamatan.
Mulai dari seksi tata pemerintahan, pemberdayaan masyaratakat dan desa, seksi ketentraman dan ketertiban umum, seksi pemerintahan, dan seksi sosial budaya.
”Karena sekali lagi, tugas kami di kecamatan adalah melayani dan mengayomi masyarakat,” ujar Wiwik.
Salah satu prestasi Kecamatan Kudu selama dua tahun terakhir yakni pelunasan Pajak Bumi Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) tercepat nomor 5 pada 2022 dan tercepat nomor 2 pada 2023.
Menurut Wiwik, ini tak lepas lepas dari peran serta pemungut dan kesadaran masyarakat dalam melaksanakan kewajiban membayar pajak.
Kecamatan Kudu juga memiliki inovasi Tandu Dilaga (Kecamatan Kudu hadir melayani warga).
Inovasi ini terbentuk sebagai bentuk sinergitas dan kekompakan kinerja Forkopimcam Kudu dalam menyelesaikan berbagai permasalahan dan tindak lanjut dari pengaduan masyarakat desa.
”Setelah kepala desa membutuhkan bantuan, maka kami langsung hadir di tengah-tengah masyarakat untuk menyelesaikan berbagai masalah,” tutur dia.
Menurutnya, sudah banyak permasalahan yang bisa diselesaikan jajaran Forkopimcam Kudu.
”Di antaranya sengketa tanah warga, masalah sosial masyarakat, ketentraman dan ketertiban, pencemaran limbah peternakan warga dan sebagainya” ujarnya.
Tandu Dilaga masih juga dilaksanakan dalam bentuk pelayanan langsung ke desa. Secara bergantian sesuai jadwal yang ditetapkan.
Selain pelayanan publik, sektor pembangunan di wilayah setempat juga terus digenjot. Utamanya infrastruktur jalan. Menyusul kecamatan Kudu menjadi salah satu wilayah kawasan industri (KI).
”Salah satunya sudah dilakukan perbaikan jalan ruas Kabuh-Tapen oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat,” ujar Wiwik.
Diharapkan, peningkatan infrastruktur akan berdampak signifikan ke masyarakat.
Baca Juga: Profil Lengkap Shollahuddin Camat Megaluh Jombang: Dongkrak Sektor Pertanian
”Ke depan bisa meningkatkan taraf hidup, kesehatan, pendidikan dan produktivitas masyarakat tanpa memandang status ekonomi dan sosial,” lanjutnya.
Terlebih, saat ini sudah memiliki pemetaan terkait potensi wisata desa.Kolaborasi kecamatan dengan lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
Sehingga, dengan sarana infrastruktur yang memadai bisa meningkatkan potensi wisata di masing-masing desa. ”Efeknya bisa meningkatkan perekonomian masyarakat,” pungkas dia.
Akhir Pekan Luangkan Waktu Bersama Keluarga
DI tengah kesibukan yang padat, Wiwik Eko Ratna juga tetap ibu rumah tangga. Dia harus meluangkan waktu bersama keluarga.
Terkadang, ketika ada kegiatan di akhir pekan ia mengajak putranya.
”Bukan satu atau dua kali, setiap ada acara di Kudu misalnya Sabtu atau Minggu kadang putra saya ikut,” kata ibu tiga anak ini.
Maklum, selain jabatannya sebagai camat tetap berjalan, dia juga tak melepas tugas sebagai seorang ibu. Terlebih jarak rumah dengan Kecamatan Kudu cukup jauh.
”Supaya kita lebih dekat lagi, karena tahu sendiri hari efektif tidak bisa bertemu lama, hanya bisa ketika akhir pekan,” ujar warga Kelurahan Jombatan ini.
Wiwik lahir di Desa Cangkringrandu, Kecamatan Perak 9 Januari 1980 lalu.
Anak pertama dari empat bersaudara pasangan Radi Widjaya dengan Atprianing Sumayatun ini menuntaskan pendidikan SD hingga SMP di Kecamatan Perak.
”SDN Cangkring 1 lulus 1992, kemudian SMPN 2 Perak lulus 1995, dan SMA PGRI 1 Jombang lulus 1998,” ujarnya.
Setelah itu, dia melanjutkan di STPDN (sekarang IPDN) dan lulus 2002. ”Lalu melanjutkan pendidikan S2 di Unitomo Surabaya lulus 2017,” pungkas dia. (fid/bin/riz)












