Desakita.co – Sejak dua hari terakhir, ratusan hektare tanaman padi di kawasan utara Brantas terendam banjir yang berasal dari luapan Kali Marmoyo dan Afvoer Gabus.
Petani waswas tanaman padi rusak hingga gagal panen. Terlebih tren muka air cenderung naik.
Syamsul salah seorang petani di Desa Jatigedong, Kecamatan Ploso mengatakan, sejak Senin (24/2) malam, tanaman padinya terendam banjir.
Perkembangannya, air tak kunjung surut, justru cenderung naik. ”Sampai hari ini (kemarin) airnya malah naik,” kata Syamsul, Rabu (26/2).
Intesitas hujan yang tinggi beberapa hari terakhir menjadikan debit air Sungai Marmoyo naik. Kondisi ini diperparah dengan keberadaan sejumlah titik tanggul yang kritis menjadikan air meluber ke areal persawahan.
”Di sini ada dua lokasi tanggulnya itu seperti ambles, sehingga airnya itu meluber ke sawah,” imbuh dia.
Baca Juga: 251 Hektare Tanaman Padi di Jombang Gagal Panen Imbas Banjir, Disperta Bakal Bantu Benih
Tidak hanya sawahnya, banjir juga merendam puluhan hektare sawah petani lainnya, terutama yang berdekatan dengan sungai. Rata-rata usia tanaman padi di Desa Jatigedong kini sudah berumur 40 hari.
Hanya beberapa yang belum sampai satu bulan, karena sebelumnya tanam ulang. ”Punya saya usia tanaman sudah 25 hari, ini sudah kedua kalinya kebanjiran,” tutur Syamsul.
Lantaran banjir tak kunjung surut, ia pun mulai waswas tanaman padinya kembali rusak hingga ancaman gagal panen.
”Ini sebagian juga sudah tumbuh bulir padinya, kalau terlalu lama kebanjiran bisa-bisa mati,” ungkapnya.
Terpisah, Kepala Desa Jatigedong Siti Junaidah membenarkan sebagian areal sawah di wilayahnya kini terendam banjir.
”Jadi tidak sampai ke permukiman, di sawah-sawah saja,” kata Siti dikonfirmasi.
Luas areal sawah yang terendam banjir ditaksir mencapai puluhan hektare, tersebar di sejumlah dusun. ”Dusun Jatirowo sekitar 30 hektare, Lengkong 30 hektare, dan Gedang sekitar 2 hektare,” imbuh dia.
Menurut Siti, banjir yang merendam areal sawah di wilayahnya bukan kali ini saja terjadi. Penyebabnya sama, dari luapan Kali Marmoyo dan Afvoer Gabus.
Baca Juga: Sambut Tanaman Padi Berbulir, Desa di Jombang Ini Punya Tradisi Keleman
”Sebenarnya hujan di Jatigedong tidak seberapa, mungkin wilayah atas yang agak deras. Sedangkan di sini pertemuan Afvoer Gabus dengan Kali marmoyo,” tutur Junaidah.
Berbagai upaya sebelumnya sudah dilakukan, yakni dilakukan pengerukan dan pembuatan sudetan.
”Tetap banjir, tapi semoga tidak lama. Artinya air yang menggenangi sawah bisa cepat surut,” kata Junaidah.
Terpisah, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Ploso Syaifudin mengatakan, dari hasil pendataan di lapangan, luasan areal sawah yang terendam banjir mencapai 100 hektare lebih.
Ratusan hektare sawah tersebut tersebar di tiga desa, masing-masing Desa Jatigedong, Desa Ploso, dan Desa Pandanblole. ”Luasan lahan terdampak mencapai sekitar 110 hektare,” terangnya (26/2).
Disebutkan, dari 110 hektare yang terdampak, masing-masing di Desa Jatiogedong seluas 50-60 hektare, Desa Ploso seluas 30 hektare, serta di Desa Pandanblole 20 hektare.
”Penyebabnya ini selain luberan Kali Marmoyo juga ada tanggul jebol di Pandanblole,” imbuh dia.
Dijelaskan, wilayah Desa Ploso dan Desa Jatigedong selama ini langganan banjir. Penyebabnya dari aliran Kali Marmoyo yang meluber.
”Jadi paling parah di Jatigedong karena di sana pertemuan dua sungai, kemarin yang awalnya tidak tinggi. Sekarang airnya tambah tinggi,” ujar Syaifudin.
Sedangkan di Desa Pandanblole penyebabnya karena terdapat tanggul yang jebol. ”Semua sudah hamparan padi, baik di Pandanblole, Ploso maupun di Jatigedong.
Rata-rata usia antara 45-60 hari usai tanam,” tutur dia.
Dua desa yang jadi langganan menurut Syaifudin, tak sekali ini terendam, hitungannya sedikitnya sudah dua kali ini. ”Tetapi temporer, begitu wilayah Plandaan tidak hujan, akan cepat surut.
Sehingga tidak sampai lama berminggu-minggu,” ujar Syaifudin.
Pihaknya selain mendata juga sudah melaporkan adanya tanggul sungai jebol. Harapannya, bisa segera tertangani sehingga air tak bertahan lama menggenang di persawahan. ”Khusus di Pandanblole, ini akan didatangkan alat berat sama dinas (Dinas PUPR). Keterangan terakhir akan diperbaiki menunggu air surut,” kata Syaifudin. (fid/naz)












