DesaKita.co — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kerap dipandang hanya sebagai tempat hukuman dan pembatasan kebebasan.
Namun, ketika berada di dalamnya, pandangan tersebut perlahan berubah.
Di balik tembok tinggi dan jeruji besi, kehidupan tetap berjalan. Warga binaan menjalani rutinitas, berinteraksi, serta mengikuti berbagai program pembinaan sebagai bekal kembali ke masyarakat.
Adanya program magang berdampak di Lapas Kelas IIB Jombang bagi mahasiswa UNESA selama tiga bulan memberikan pengalaman dan pemahaman baru tentang proses pembinaan tersebut.
Mahasiswa tidak hanya melihat Lapas sebagai sebuah sistem. Tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang menampilkan sisi kemanusiaan warga binaan.
Kegiatan di Lapas berjalan dengan jadwal teratur, mulai dari kegiatan pembinaan, penyediaan kebutuhan pokok, layanan fasilitas kesehatan, pengembangan potensi warga binaan hingga hak kunjungan keluarga.
Selama magang, mahasiswa terlibat dalam pelayanan kunjungan, pendampingan kegiatan kemandirian. Serta mampu memberikan dampak signifikan berupa pembinaan psikososial.
Layanan konseling yang diberikan berperan sebagai sarana pendampingan untuk membantu warga binaan memahami kondisi psikologisnya.
Mengelola emosi. Serta mengembangkan strategi adaptif dalam menghadapi tekanan selama masa pembinaan.
Pelayanan kunjungan menjadi momen berkesan, karena memperlihatkan pentingnya peran keluarga dalam menjaga kondisi emosional warga binaan.
Selain itu, kegiatan kemandirian melatih keterampilan yang berguna setelah bebas. Sekaligus membangun rasa percaya diri dan kesiapan hidup mandiri.
Tidak semua program pembinaan dapat berjalan linear. Hal ini disebabkan setiap warga binaan memiliki latar belakang, kondisi psikologis, dan kesiapan mental yang berbeda.
Hasil observasi menunjukkan bahwa kondisi hunian yang padat menjadi tantangan serius, memicu tekanan psikologis, kejenuhan, hingga kecemasan.
Tidak semua warga binaan mengikuti pembinaan dengan motivasi yang sama. Perbedaan ini menegaskan pentingnya pendekatan yang tidak hanya berfokus pada aktivitas. Tetapi juga menyentuh aspek psikologis dan motivasi individu.
Pendekatan humanis dan adaptif, melalui pendampingan psikologis, membantu warga binaan memahami keterkaitan pikiran, emosi, dan perilaku, serta membangun kesiapan mental menjelang bebas.
Melalui interaksi langsung bersama warga binaan di Lapas memberikan pelajaran berharga terutama pentingnya menumbuhkan empati yang tinggi.
Di balik status narapidana, terdapat individu dengan cerita hidup yang kompleks, beragam dan tentunya dengan latar belakang yang sangat berbeda-beda.
Pengalaman ini menegaskan bahwa pembinaan membutuhkan pendekatan yang menghargai kedudukan sebagai sesama manusia dan membangun perubahan melalui kepercayaan serta dukungan.
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pendampingan di Lapas merupakan bagian dari implementasi program akademik Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya.
Melalui program tersebut, mahasiswa diarahkan untuk terlibat langsung dalam layanan yang bersifat edukatif, pendampingan, dan penguatan kapasitas individu di lingkungan sosial yang beragam sebagaimana tercantum dalam profil program studi BK UNESA (https://bk.fip.unesa.ac.id/). (wen/jif)












