DesaKita.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta keberhasilan pembangunan desa di berbagai daerah tidak berhenti di tingkat lokal saja.
Ia mengatakan, kisah-kisah sukses desa harus dieksplorasi dan dipublikasikan agar menjadi referensi sekaligus harapan bagi desa-desa lain untuk berkembang.
”DPMD (dinas pemberdayaan masyarakat dan desa) akan kami minta untuk mendorong succes story desa, eksplor potensi desa dan mepublikasikannya. Desa beragam ada desa berdaya, desa digital, desa devisa, dan lainnya,” ungkapnya ketika menerima audiesi Jawa Pos Radar Mojokerto (JPRM) di gedung Grahadi, Surabaya, Senin (6/7).
Pihaknya melanjutkan, ketika bertemu media massa seperti JPRM yang memiliki fokus pemberitaan tentang desa, maka media harus tahu referensi suksesnya desa.
”Karena desa itu sekarang anggarannya dikurangi 60-70 persen, mereka harus punya harapan. Di antaranya kita harus mencari ruang agar bisa dimasuki (program),” lanjut Khofifah.
Ia menilai Jawa Timur memiliki banyak potensi desa yang dapat menjadi penggerak ekonomi baru.
Salah satunya adalah komoditas kopi yang berkembang di berbagai daerah pegunungan di Jawa Timur.
”Kopi permintaan dunia tinggi, ada peluang pasar. Kita perlu semangati petaninya,” katanya.
Selain mengembangkan potensi unggulan, Pemprov Jatim juga terus mendorong semakin banyak desa berstatus mandiri.
Menurut Khofifah, setiap desa memiliki karakteristik berbeda, sehingga bentuk intervensi pemerintah harus disesuaikan dengan klasifikasi dan kebutuhan masing-masing desa.
Di sisi lain, Khofifah menilai banyak praktik baik di desa yang layak menjadi contoh nasional.
Salah satunya adalah Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.
”Paling top Ketapanrame. Ada mbah-mbah ketemu saya sore-sore, bilang tidak khawatir lagi karena setiap bulan dapat pemasukan dari saham di BUMDes di situ,” ungkapnya.
Menurut Khofifah, kisah seperti itu menunjukkan bahwa desa mampu membangun sumber-sumber ekonomi baru yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ia juga menyinggung keberhasilan program desa devisa yang terus berkembang di Jawa Timur. Saat ini, sekitar 250-an desa telah mengantongi status desa devisa melalui pendampingan untuk menghasilkan produk berorientasi ekspor.
”Orang banyak yang tidak tahu kalau kita punya desa devisa terbanyak,” katanya.
Khofifah menjelaskan, pengembangan desa devisa tidak berhenti pada penetapan status semata.
Desa juga mendapat pendampingan agar menghasilkan produk yang layak ekspor.
Mulai dari peningkatan kualitas produk, akses pembiayaan, hingga membuka akses pasar internasional.
”Kita beri pendampingan mulai produk layak ekspor, bagaimana akses permodalan, akses pasar, lalu bagaimana menciptakan produk yang benar-benar layak ekspor,” ujarnya.
Ia mencontohkan desa penghasil rumput laut di Sidoarjo sebagai desa devisa pertama di Jawa Timur.
Khofifah juga mengangkat keberhasilan yang mampu mengelola aset desa secara produktif.
Pendapatan desa dimanfaatkan untuk berbagai program sosial, mulai dari beasiswa warga, pengembangan lingkungan di tingkat RT, hingga berbagai unit usaha yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
”Itu di Gresik,” ucapnya.
Contoh lainnya, sambung mantan Mensos RI itu, berada di Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang.
Desa setempat berhasil mengembangkan wisata pemandian berbasis sumber mata air pegunungan yang kini menjadi destinasi favorit.
Pendapatan wisata tersebut dimanfaatkan untuk membiayai berbagai kegiatan sosial, termasuk honor guru mengaji dan takmir masjid.
Di Tulungagung, masih kata Khofifah, pengembangan desa wisata juga menunjukkan hasil positif melalui kolaborasi pemerintah dan dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari PT Sampoerna.
Menurut dia, pola pembiayaan kreatif seperti itu menjadi contoh bahwa pembangunan desa dapat dilakukan melalui sinergi berbagai pihak.
”Beragam best practice seperti itu. Creative financing. Harus diperkuat dan diperkaya,” tegasnya.
Khofifah menambahkan, semakin terbukanya konektivitas antarwilayah, yakni melalui terbukanya koridor Trans Jatim juga akan mempercepat perkembangan desa.
Kemudahan mobilitas akan membuka keterisolasian wilayah, memperluas akses pasar, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
”Kalau mobilitas semakin mudah, isolasi wilayah terbuka, maka pertumbuhan dan perkembangan desa juga akan lebih cepat,” pungkasnya. (fen/ris)











