Desakita.co – Warga yang tinggal di lereng Gunung Anjasmoro pandai memanfaatkan pekarangan agar lebih bermanfaat.
Seperti yang dilakukan Zaenal Arifin, warga Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam yang sudah setahun ini membudidayakan labu blonceng di pekarangan rumah.
Kondisi tanah yang subur menjadikan tanaman labu blonceng berbuah maksimal.
Di pekarangan rumah Zaenal sekitar 10 x 5 meter persegi itu, ada sejumlah tanaman labu blonceng yang berbuah dan siap panen. Sebagian dibiarkan masak di pohon hingga tua untuk bibit.
Sebagian, ia panen untuk konsumsi dan dibagikan kepada tetangga.
Baca Juga: Potensi Panen Cengkeh di Wonosalam Capai 162 Ton, Begini Upaya Dinas Pertanian
”Kalau di Wonosalam warga menyebutnya blonceng. Tapi kalau di daerah lain ada yang menyebut labu siam,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Zaenal mengatakan, labu blonceng merupakan tanaman merambat sehingga umumnya dibuatkan lanjaran.
Manfaat labu blonceng yang pertama bisa dimasak menjadi lauk pauk.
Bisa dijadikan bahan membuat sayur lodeh hingga oseng-oseng. Selain itu, bisa juga dijadikan manisan untuk cemilan di rumah.
”Tapi di sini rata-rata di jadikan lodeh,” papar dia.
Bagi warga Wonosalam, memanfaatkan pekarangan rumah untuk ditanami sayur atau buah adalah hal harus dilakukan. Selain agar bermanfaat, juga bisa menekan alokasi anggaran belanja.
“Saya menanam sekitar 1 tahun lalu. Ini sudah panen berkali kali,’’ papar dia.
Di pekarangan rumahnya, Zaenal sudah menanam 16 pohon.
Ia menggunakan bambu sebagai lanjaran atau tempat merambat tanaman merambat itu.
Zaenal sengaja menggunakan lanjaran bambu agar tanaman lebih rapi, mudah dirawat serta terhindar dari serangan hewan yang sering menggerogoti sayur seperti tikus dan lain-lain.
”Selain itu, keuntungan menggunakan lanjaran bambu, buahnya dapat tumbuh maksimal karena terkena sinar matahari secara merata,” papar dia.
Setiap panen, bapak lima anak ini tidak pernah menjualnya ke pasar.
Baca Juga: Adakan Kontes Kambing Setiap Tahun, Cara Desa Wonosalam Jombang Tingkatkan Nilai Jual Kambing PE
Kebanyakan, dikonsumsi pribadi dan dibagikan ke tetangga maupun saudara. Padahal, jika dijual harga sayur ini juga memiliki nilai ekonomis. Berkisar Rp 5.000 per buah tergantung ukuran dan kualitas.
”Kadang juga untuk oleh-oleh tamu yang berkunjung ke sini,” pungkasnya. (ang/naz)












