Asal-UsulPemerintahanPotensiWisata

Desa Wotanmasjedong, Kecamatan Ngoro Gelar Tradisi Unduh Tirta di Lereng Gunung Pawitra

×

Desa Wotanmasjedong, Kecamatan Ngoro Gelar Tradisi Unduh Tirta di Lereng Gunung Pawitra

Sebarkan artikel ini
DISAKRALKAN: Masyarakat menggelar prosesi unduh tirta yang menjadi rangkaian tradisi ruwatan di Dusun Genting, Desa Wotanmasjedong, Kecamatan Ngoro.

Desakita.co – Warga Dusun Genting, Desa Wotanmasjedong, Kecamatan Ngoro, menggelar tradisi unduh tirta, Minggu (25/1). Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangkaian ruwatan ini bertujuan untuk melestarikan sumber mata air di lereng Gunung Pawitra.

Prosesi unduh tirta diawali dengan pemberangkatan ancak dari Balai Dusun Genting. Gunungan yang berisi tumpeng, hasil bumi, hingga aneka jajanan ini diarak menuju mata air yang berada di Bukit Bintang Sabrangan.

”Ada tiga ancak yang diangkat bareng-bareng untuk prosesi unduh tirta dan doa bersama,” ungkap Camat Ngoro Satriyo Wahyu Utomo yang turut mengikuti tradisi unduh tirta.

Baca Juga:  Begini Kemeriahan Tradisi Kirab Jolen Desa Kabuh Jombang, Warisan Leluhur yang Tetap Hidup

Menurutnya, ritual ini menjadi bagian dari rangkaian tradisi ruwah Dusun Genting, Desa Wotanmasjedong yang digelar rutin setiap tahun. Selain sebagai wujud ungkapan rasa syukur, unduh tirta juga bertujuan sebagai upaya untuk melestarikan alam.

”Lebih fokusnya untuk pelestarian mata air,” tandasnya.

Baca Juga:  Keren! Warga di Jombang Ini Kenalkan Sejarah Desa Kertorejo Lewat Karya Buku, Pemdes Ingin Jadikan Aset Desa

Unduh tirta di Bukit Bintang Sabrangan diramaikan kurang lebih 300 orang. Tak hanya dari warga Dusun Genting, tradisi ini juga diikuti masyarakat dari desa tetangga hingga komunitas pecinta alam di Kabupaten Mojokerto.

Untuk menuju tempat mata air, iring-iringan melewati jalur pendakian via Genting. Lokasi yang digunakan untuk prosesi unduh tirta merupakan titik pertemuan dari dua aliran sumber air yang mengalir dari Gunung Penanggungan dan Gunung Bekel.

Baca Juga:  Lakukan Wisuda Tahfidz Juz 30 Siswa MI se Jombang, Menteri Agama Akui Terpukau

Setelah digelar ritual doa bersama, warga kemudian beramai-ramai melakukan pembersihan tandon air. Satriyo menjelaskan, dari tempat penampungan inilah air bersih disalurkan ke masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bahkan, sumber air dari gunung yang disucikan sejak masa Kerajaan Majapahit ini dimanfaatkan hingga di tiga desa di Kecamatan Ngoro. Selain Wotanmasjedong, sumber mata air juga dimanfaatkan masyarakat Desa Kunjorowesi dan Desa Manduromanggunggajah. (ram/ris)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *