Pemerintahan

Desa Jombok, Kecamatan Ngoro Bangun Pagar di Kawasan Sumur Peninggalan KH Hasyim Asy’ari, Ini Tujuannya

×

Desa Jombok, Kecamatan Ngoro Bangun Pagar di Kawasan Sumur Peninggalan KH Hasyim Asy’ari, Ini Tujuannya

Sebarkan artikel ini
RAWAT SEJARAH: Kepala Desa Jombok Nugroho Adi Wiyono saat meninjau sumur peninggalan KH Hasyim Asy'ari yang telah dibangun pagar di areal persawahan Dusun/Desa Jombok.

Pemerintah Desa (Pemdes) Jombok, Kecamatan Ngoro, menunjukkan komitmennya dalam merawat warisan sejarah. Secara swadaya, pemdes bersama warga membangun pagar pelindung di sekitar sumur tua peninggalan KH Hasyim Asy’ari.

Sumur yang berada di area persawahan Dusun/Desa Jombok itu menjadi satu-satunya sisa bangunan musala yang diyakini warga dulunya digunakan beribadah oleh Hadrasatussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan para utusannya saat meninjau wilayah pertanian di Kecamatan Ngoro dan sekitarnya. Lokasi tersebut juga disebut sebagai tempat transit saat perjalanan menuju Kediri.

Baca Juga:  Mancing Bersama di Waduk Grojokan Desa Plabuhan Jombang, Upaya Pemdes Jaga Kerukunan Antarwarga

Langkah pembangunan pagar dilakukan sebagai bentuk perlindungan fisik sekaligus upaya edukasi sejarah bagi generasi mendatang. ”Saat ini yang tersisa hanya bangunan sumurnya. Agar tidak rusak, kami membangun pagar secara swadaya di sekeliling lokasi agar anak cucu kami ke depannya mengetahui sejarah,” ujar Kepala Desa Jombok Nugroho Adi Wiyono.

Baca Juga:  Komitmen MAN 9 Jombang Cetak Generasi Qurani, Berprestasi dan Berkahlakul Karimah

Menurutnya, pelestarian sumur bersejarah tersebut menjadi tanggung jawab langsung pemerintah desa bersama masyarakat. ”Kami dari jajaran Pemdes dan masyarakat desa akan merawat peninggalan sejarah tersebut secara mandiri,” tambahnya.

Selain nilai sejarah, sumur tua itu juga memiliki dimensi sosial-budaya di tengah masyarakat. Letaknya yang berada di dekat tikungan jalan penghubung Jombang–Kediri kerap dikaitkan dengan cerita mistis. ”Sebagian masyarakat sekitar kerap mengaitkan kejadian kecelakaan dengan sosok mistis penghuni sumur tua tersebut karena lokasinya berdekatan,” ujarnya.

Baca Juga:  Pj Bupati Jombang Tak Ingin 2024 Masih Ada Proyek Molor: Tidak Ada Kata Main-Main Lagi, Tidak Sesuai Putus Kontrak

Pemdes memastikan, terlepas dari cerita yang berkembang, fokus utama tetap pada pelestarian nilai sejarah sebagai warisan leluhur. ”Peninggalan bersejarah harus tetap dirawat keberadannya, agar dapat menjadi pembelajaran sejarah bagi tiap generasi ke depannya,” pungkasnya. (dwi/naz)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *