Pemerintah Desa (Pemdes) Jombok, Kecamatan Ngoro, menunjukkan komitmennya dalam merawat warisan sejarah. Secara swadaya, pemdes bersama warga membangun pagar pelindung di sekitar sumur tua peninggalan KH Hasyim Asy’ari.
Sumur yang berada di area persawahan Dusun/Desa Jombok itu menjadi satu-satunya sisa bangunan musala yang diyakini warga dulunya digunakan beribadah oleh Hadrasatussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan para utusannya saat meninjau wilayah pertanian di Kecamatan Ngoro dan sekitarnya. Lokasi tersebut juga disebut sebagai tempat transit saat perjalanan menuju Kediri.
Langkah pembangunan pagar dilakukan sebagai bentuk perlindungan fisik sekaligus upaya edukasi sejarah bagi generasi mendatang. ”Saat ini yang tersisa hanya bangunan sumurnya. Agar tidak rusak, kami membangun pagar secara swadaya di sekeliling lokasi agar anak cucu kami ke depannya mengetahui sejarah,” ujar Kepala Desa Jombok Nugroho Adi Wiyono.
Menurutnya, pelestarian sumur bersejarah tersebut menjadi tanggung jawab langsung pemerintah desa bersama masyarakat. ”Kami dari jajaran Pemdes dan masyarakat desa akan merawat peninggalan sejarah tersebut secara mandiri,” tambahnya.
Selain nilai sejarah, sumur tua itu juga memiliki dimensi sosial-budaya di tengah masyarakat. Letaknya yang berada di dekat tikungan jalan penghubung Jombang–Kediri kerap dikaitkan dengan cerita mistis. ”Sebagian masyarakat sekitar kerap mengaitkan kejadian kecelakaan dengan sosok mistis penghuni sumur tua tersebut karena lokasinya berdekatan,” ujarnya.
Pemdes memastikan, terlepas dari cerita yang berkembang, fokus utama tetap pada pelestarian nilai sejarah sebagai warisan leluhur. ”Peninggalan bersejarah harus tetap dirawat keberadannya, agar dapat menjadi pembelajaran sejarah bagi tiap generasi ke depannya,” pungkasnya. (dwi/naz)












