Lifestyle

Direktur RS Muhammadiyah Jombang Usung Layanan Humanis, Ini Prioritas dr Iwan Hartono

×

Direktur RS Muhammadiyah Jombang Usung Layanan Humanis, Ini Prioritas dr Iwan Hartono

Sebarkan artikel ini
HUMANIS: Direktur RS Muhammadiyah Jombang, dr Iwan Hartono MKes. (Anggi Fridianto/Radar Jombang)

DesaKita.co – Memimpin Rumah Sakit (RS) Muhammadiyah Jombang, dr Iwan Hartono MKes, punya visi dan misi segar dalam mengembangkan rumah sakit.

Pria kelahiran Madiun itu memilih membangun fondasi pelayanan yang sederhana namun menjadi kebutuhan utama pasien, yakni pelayanan yang humanis.

Bagi dr Iwan, kecanggihan teknologi bukan satu-satunya penentu kualitas rumah sakit. Justru pelayanan yang ramah, cepat, dan penuh empati menjadi modal utama untuk memenangkan kepercayaan masyarakat.

’’Kalau bahasa saya, back to basic dulu, kembali ke layanan dasar. Yang menjadi prioritas adalah layanan yang humanis, melayani dengan hati, melayani seperti keluarga sendiri,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Pria yang akan genap berusia 58 tahun pada 23 Juli mendatang itu lahir di Madiun dari pasangan Alm M Rochadi, seorang anggota TNI Angkatan Udara, dan almarhumah Sri Hartati, ibu rumah tangga. Ia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara.

Baca Juga:  Unik, Warga Desa di Jombang Ini Peringati Upacara di Tengah Sawah Hingga Bentangkan Bendera Raksasa

Pendidikan dasarnya ditempuh di Kota Madiun. Setelah lulus dari SD Diponegoro I, SMPN 1, dan SMAN 2 Madiun, ia melanjutkan pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. Kemudian memperdalam ilmu manajemen kesehatan melalui Program Magister Kesehatan Universitas Airlangga.

Kariernya di lingkungan rumah sakit Muhammadiyah dimulai pada 2002 di RSI Siti Aisyah Madiun sebagai dokter Instalasi Gawat Darurat (IGD). Berbekal pengalaman dan dedikasi, kariernya terus menanjak menjadi Kepala IGD, Kepala Bidang Pelayanan Medik hingga Wakil Direktur.

Pada 2012, Persyarikatan Muhammadiyah mempercayainya memimpin RS Muhammadiyah Ponorogo sebagai direktur. Selama lebih dari delapan tahun, ia mengembangkan rumah sakit tersebut sebelum kembali menjadi Direktur RSI Siti Aisyah Madiun.

Awal Januari 2026, amanah baru kembali datang. Ia dipercaya menjadi Direktur RS Muhammadiyah Jombang.
Baginya, perjalanan memimpin rumah sakit di tiga daerah menjadi pengalaman berharga untuk memahami kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.

Baca Juga:  Kajian Ramadan Unipdu Jombang: Cyber Bullying Lebih Berbahaya

’’Alhamdulillah penugasan di tiga tempat ini memperkaya pengalaman saya. Mudah-mudahan semuanya bisa bermanfaat bagi masyarakat,’’ harapnya.

Di Jombang, dr Iwan melihat tantangan pelayanan kesehatan semakin besar. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,3 juta jiwa dan keberadaan 13 rumah sakit, kompetisi tidak bisa hanya mengandalkan peralatan medis berteknologi tinggi.

Ia meyakini, sekitar 70 hingga 80 persen kebutuhan masyarakat sebenarnya dapat dipenuhi melalui pelayanan dasar yang berkualitas.

’’Orang sakit itu yang paling dibutuhkan adalah dilayani dengan baik, dengan senyum, salam, sapa, dan diperlakukan seperti keluarga sendiri,’’ katanya.

Meski demikian, ia tidak menutup mata terhadap perkembangan teknologi medis. Menurutnya, inovasi tetap penting, tetapi harus dibangun di atas pelayanan yang kuat agar rumah sakit mampu tumbuh secara berkelanjutan.

Di balik kesibukannya sebagai dokter dan direktur rumah sakit, dr Iwan mendapat dukungan penuh dari sang istri, Rena Pelitawati, perempuan asal Semarang. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga orang anak yang seluruhnya menempuh pendidikan tinggi sesuai bidang masing-masing.

Baca Juga:  Dibantu Kemensos, Hunian Sementara Warga Terdampak Longsor di Desa Sambirejo Wonosalam Jombang Segera Ditempati

Putra sulungnya, Pandu Jati Ramadhan, merupakan lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Kini bekerja di salah satu perusahaan gula milik BUMN.
Anak kedua, Nabila Rahma Ayu Irawati, mengikuti jejak sang ayah di dunia kesehatan. Saat ini ia menjalani program internship dokter di RSUD Kota Madiun.

Sedangkan anak bungsunya, Almira Vivia Irawati, lulusan Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur. Kini tengah mempersiapkan karier yang dicita-citakan.

Saat kecil, dr Iwan bercita cita menjadi musikus. Namun, nasib berkata lain, ia justru berprofesi menjadi seorang dokter umum.

’’Cita-cita saya dulu ingin menjadi musikus, namun terpeleset jadi dokter. Ya alhamdulillah disyukuri saja,’’ ungkapnya sembari tertawa. (ang/jif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *